
Calvin baru saja keluar dari kamar pagi itu ketika ia mendengar suara teriakan ibunya pada Dean. Ia sudah siap untuk pergi bekerja. Dan suasana seperti itu memang sudah menjadi hal yang biasa setiap pagi. Ketika ia berada dimeja makan, ia melihat Sandra sedang meminum air putih. Ia tidak terlihat telah selesai makan. Wajahnya terlihat segar. Entah kenapa Calvin masih merasa kesal melihat Sandra. Mereka tidak pernah mengobrol sepatah katapun sampai saat ini.
"Ma, aku pergi duluan. Aku gak akan sempet makan. Aku ada meeting di kantor Dave. Soalnya Dave tinggal seminggu lagi cuti." ucap Calvin seraya meminum air teh yang sudah disediakan untuknya.
Anita menatap Sandra. "Kamu gak akan bareng?"
Sandra menggelengkan kepalanya. "Enggak, Tante. Sandra udah ada yang jemput." jawab Sandra tenang.
"Gak penting." ucap Calvin sambil berjalan melewatinya. Sandra hanya diam tanpa merasa emosi.
Ketika Calvin sudah pergi, Dean menghampirinya. "Kalian berantem? Kok kayaknya udah lama gak keliatan ngobrol." tanya Dean penasaran.
"Kita lagi sibuk sama urusan masing-masing." jawab Sandra sambil tersenyum hambar.
Dean melihat air putih didepan Sandra. "Kenapa gak makan?"
"Gak apa-apa. Lagi gak enak perut." jawab Sandra malas.
Anita menatap Sandra. "Kenapa Sandra? Kamu sakit?"
Sandra menatap Anita. "Enggak Tante, siang ini Sandra ada operasi pengambilan benda di tulang kaki Sandra. Jadi Sandra gak boleh makan apapun."
Anita terkejut. "Trus siapa yang nganter? Kamu operasi sama siapa?"
"Tante tenang aja. Yang operasi temen Sandra sendiri. Beliau udah berpengalaman. Sandra baik-baik aja kok." jawab Sandra sambil tersenyum.
"Dean, kamu bisa anterin Sandra gak?" tanya Anita.
"Gak bisa ma, aku ada latihan basket buat pertandingan minggu besok." jawab Dean.
Sesekali ia menatap Sandra. "Apa Calvin tau kamu mau operasi siang ini?"
Sandra menggeleng. "Calvin lagi marah sama aku. Biarin aja."
__ADS_1
"Loh, kenapa?"tanya Anita bingung.
"Cuma salah paham aja. Sebentar juga baikan." jawab Sandra. Tak lama terdengar suara klakson mobil berbunyi diluar. Sandra bangun dari duduknya. "Sandra pergi dulu tante. Doain mudah-mudahan lancar."
"Iya, Sandra. Harusnya tante anter kamu. Tapi hari ini tante banyak acara."
"Gak apa-apa tante, lagian ini bukan operasi besar." ucap Sandra.
Tidak ada yang tahu jika Sandra ketakutan. Ia harus melakukan operasi seorang diri. Tidak ada yang mengantarnya. Ia menatap keluar jendela taxi. Hujan rintik-rintik mulai membasahi jalanan. Padahal masih pagi, tapi sudah mulai turun hujan.
Alena sudah berdiri didepan pintu rumah sakit untuk menunggu Sandra tiba.
"Operasinya nanti siang." ucap Alena.
Sandra hanya tersenyum. "Makasih Al, kalo bukan kamu siapa lagi yang care sama aku. Jujur aku takut. Tapi mau gimana lagi, aku harus ambil plat penahan tulang kaki aku biar aku bisa jalan normal lagi."
"Iya, tenang aja. Ada aku. Aku gak akan kemana-mana kok."
"Aku urus administrasi dulu." ucap Sandra. Ia berjalan menuju ruang administrasi tanpa ditemani Alena.
"Ini tim akunting terbaik."
"Jangan terlalu berharap. Belum tentu terbaik." jawab Calvin serius.
Dave langsung duduk dengan tegap. Ia melirik Calvin sekilas. Tiba-tiba Dave mendapatkan pesan dari Alena. Ia melihat gambar seseorang yang sedang memakai baju operasi.
"Selamat bekerja, Al." ucap Dave ketika ia membalas pesan Alena.
"Aku gak kerja hari ini. Aku lagi nemenin orang yang mau operasi siang ini." jawab Alena.
"Emangnya siapa yang mau dioperasi?"
Dave menunggu Alena mengetik pesan. "Sandra. Dia ada operasi siang ini."
__ADS_1
Dave langsung menatap Calvin.
"Vin.." bisik Dave.
"Jangan ganggu aku dulu. Aku lagi fokus liat laporan. Nanti kalo udah beres baru ngomong." ucap Calvin serius.
"Ini soal Sandra." bisik Dave.
"Apalagi soal Sandra. Aku gak mau denger soal Sandra." jawab Calvin.
"Jangan nyesel!" ucap Dave kesal.
"Mam, aku takut.." ucap Sandra ketika ia menghubungi ibunya. Kini Sandra sedang berada diruang khusus untuk menunggu ia dioperasi. Ia seorang diri diruangan itu.
"Tenang Sandra, mama yakin kamu bisa melewatinya. Makanya cari suami biar ada yang perhatian sama kamu." seru Ibunya sedikit sewot.
"Mama malah sewot sama Sandra. Gak liat anaknya tersiksa gini. Bukannya di support, malah disuruh nyari suami. Aku jadi sedih mam.." ucap Sandra kesal
"Mama udah ngasih solusi sama kamu. Usia kamu udah cukup buat menikah."
"Tapi hari ini aku cuma butuh support ma.. Aku sendirian diruangan. Aku gak punya temen." jawab Sandra sambil terisak.
"Udah dulu ya, mama dipanggil sama papa kamu!" potong ibunya. Ia langsung menutup teleponnya.
"Mama tega. Katanya cemas tapi ngomong kaya gitu." isaknya.
Tak lama dua orang suster datang menghampirinya. Mereka sudah siap dengan jubah operasi. Sandra merinding ketakutan.
"Suster, aman kan ya operasinya?" tanya Sandra.
"Aman Bu Sandra, kita pindah ya keruang operasi." ucap salah satu dari mereka.
"Jangan takut, Sandra. Aku disini." ucap Alena yang datang menghampirinya.
__ADS_1
"Makasih Al." jawab Sandra.
Iapun didorong menuju kamar operasi. Alena mendengar semuanya. Sandra menangis ketakutan didalam ruangan sana. Ia merasa kasihan. Sandra tidak punya teman yang bisa diandalkan. Lalu dimana Calvin?