
Calvin masih terpana dengan keadaan apartemen Sandra. Ada televisi besar dan dinding penuh dengan tempelan. Tempelan? Pikir Calvin. Iapun menghampiri sesuatu yang membuatnya penasaran. Setelah mendekati dinding itu, ia bisa melihat apa yang disimpan disana. Dinding itu terpasang foto-foto Sandra ketika masih kecil hingga dewasa. Dan tentu saja gambar Sandra memakai seragam sekolah menengah. Pertama kalinya mereka bertemu ketika Sandra terpeleset didepan kamar mandi wanita.
Calvin memegang salah satu foto sambil tersenyum. Wajah Sandra ketika masih berada di taman kanak-kanak membuatnya terpana. Sandra cantik tanpa hiasan apapun. Ia mengambil salah satu dari foto itu.
“Ssst,, dilarang tersenyum dan dilarang ngambil yang bukan miliknya.” Ucap Sandra yang berada disampingnya. Ia masih menggunakan tongkatnya.
“Satu aja masa gak boleh.”ucap Calvin sambil menatap Sandra.
“Gak bisa. Foto-foto ini ada kenangannya sendiri.”seru Sandra.
Ia berbalik dan berjalan dengan pelan. Calvin menyimpan foto yang dipegangnya dan mengikuti Sandra berjalan ke arah samping. Tapi Calvin menarik bahu Sandra.
“Kamu baru pulang. Kamu mau kemana lagi? Jangan banyak jalan dulu. Sebenernya aku gak setuju buat kamu pindah hari ini. Kamu bisa pindah kalo situasi kaki kamu udah baik.”
Sandra duduk disofa. Ia menyimpan tongkat disampingnya. Ia diam mendengar ucapan Calvin.
“Aku gak akan menahan kamu buat pindah kalo kaki kamu udah baik. Coba aku telepon mama kamu dulu.”ucap Calvin.
Calvin menghubungi Icha untuk membicarakan masalah Sandra.
“Halo..”
“Halo, tante. Ini Calvin.”
“Kenapa Vin?’
“Tante, maaf kalau Calvin mengganggu. Ini tentang Sandra.”
“Ada apa sama Sandra?”tanya Icha cemas.
__ADS_1
“Sebetulnya gak ada apa-apa. Tapi begini tante, Calvin gak setuju kalo Sandra pindah hari ini. Kakinya baru kemarin operasi. Gak ada yang jaga kalo Sandra tinggal di apartemennya.”
“Tante udah ngomong gitu, tapi kamu tau sendiri kalo anak tante itu keras kepala.”jawab Icha,
Calvin langsung menoleh pada Sandra. Ia menatap untuk mencari pembelaan dari Sandra.
“Oke Tante, jadi sebenernya tante juga gak setuju ya kalo Sandra pindah hari ini.” ucap Calvin sambil terus menatap Sandra.
Sedangkan Sandra membuang wajahnya, ia tidak mau menatap Calvin.
Ketika telepon ditutup, Calvin duduk disamping Sandra.
“Mau pembelaan diri?”tanya Calvin.
Sandra hanya menggeleng. Ia tersenyum. “Aku cuma pengen pindah aja. Aku gak bebas ada dirumah kamu. Aku malu tiap hari diliatin karyawan yang bingung liat kita datang bareng” jawab Sandra.
Calvin menggelengkan kepalanya. “Gak usah banyak alasan. Kita pulang sekarang.”ucap Calvin sambil berdiri.
"Kenapa gak mau pulang?" tanya Calvin bingung,
"Aku bukannya gak mau pulang. Aku capek. Istirahat dulu disini sambil kita liat-liat baju buat pesta minggu depan."
Calvin menyerah, Iapun duduk kembali.
“Caranya gimana? Aku gak mungkin gendong kamu ke mall buat cari baju.”tanya Calvin.
Sandra tertawa. “By phone aja. Aku udah pilih-pilih kok gaunnya. Kamu liat dulu. Cocok gak kalo aku beli yang gitu.”
Sandra mengambil remote tv. Ia menyalakan televisinya. Ternyata foto-foto pakaian sudah disimpan di televisinya. Ia menekan-nekan tombol remote. Beberapa pakaian mulai muncul. Calvin mengangkat kedua alisnya karena bingung.
__ADS_1
Calvin mengangkat satu kakinya keatas. Ia melihat dengan serius.
“Jangan terlalu sexy.” ucap Calvin cepat.
“Kenapa?” protes Sandra dengan mata terbuka lebar. Sandra menyukai memakai pakaian sexy tapi diwaktu-waktu tertentu.
“Keenakan Edward, Pokoknya aku gak setuju kamu pake baju sexy. Sexy itu bukan dari pakaian terbuka. Tapi dari dalam hati kamu.” Ucap Calvin sambil mencubit pipi Sandra.
“Tadinya aku mau pake baju yang ini.”ucap Sandra kecewa. Ia memperlihatkan sebuah pakaian dengan dada sedikit terekspos dan sedikit transparan. Hanya saja taburan manik-manik menutupi kain yang transparan itu.
Calvin terkejut.. Ia menatap Sandra dan refleks melihat dada Sandra. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat “Jangan. Gak bisa. Terlalu terbuka.”
Sandra langsung menutup dadanya dengan kedua tangannya.
“Ngebayangin apa? Jangan aneh-aneh.” Sahut Sandra.
“Makanya jangan pake baju aneh-aneh. Gaun sopan aja. Lagian acaranya kan malem. Konsepnya internasional.”
Sandra cemberut. Ia terus melihat beberapa gambar di televisinya. Sandra melihat kembali koleksi-koleksi pakaian yang saat ini memang sedang trend. Sahabatnya menikah. Tidak mungkin ia memakai pakaian yang biasa-biasa saja.
Tiba-tiba hanphone Calvin berbunyi. Ia melihat nomor tidak dikenal. Ia menatap Sandra. “Aku angkat dulu teleponnya.”ucapnya sambil berdiri. Ia berjalan keluar dari apartemen.
“Halo.”ucap Calvin.
“Halo, sayang. Apa kabar?”tanya seseorang.
“Siapa ini?”tanya Calvin waspada. Mendengar suaranya, ia merasa harus waspada.
“Kamu lupa sama aku? Kamu tega banget sayang. Aku pergi 3 tahun buat ngejar impian aku. Kamu lupain aku gitu aja? Kamu yang nyuruh aku buat mengejar cita-cita aku ke Paris.”ucapnya. Nadanya terdengar sedih.
__ADS_1
Calvin menghela nafas. “Dinda?”