
Calvin baru saja menyelesaikan meetingnya. Sore ini ia akan pergi ke Bali untuk sebuah pertemuan mengenai Flower Village. Kali ini ia harus pergi sendiri. Bukan hal yang begitu penting. Jadi ia bisa pergi sendiri. Ia melihat jam dinding. Masih ada waktu beberapa jam sebelum ia pergi ke bandara. Ia bisa menemui Sandra terlebih dahulu distudio karena hari ini ia bekerja menggantikan temannya. Dua hari yang lalu Sandra begitu antusias ketika mendapatkan kabar jika ia sedang sangat dibutuhkan untuk proyek itu. Padahal sebelumnya istrinya itu kesal karena ada yang menyepelekannya.
Pintu ruangannya terbuka. Ia melihat sekretarisnya masih sambil membawa map ditangannya.
"Ini tiket untuk keberangkatan kamu nanti sore."ucap Amara sambil memberikan sebuah amplop padanya.
Calvin mengambil tiket itu dan menyimpannya ditas. Ia hanya menatap Amara tanpa mengatakan apa-apa.
Wanita didepannya mengerutkan kening. Ia tahu ada sesuatu yang akan dikatakan Calvin. Ia sudah mengenal sifatnya dengan baik. Sejak ia berusia 3 tahun, ayahnya sering membawanya ke kantor dan ialah yang merawat Calvin selama ayahnya sibuk bekerja. "Ada apa lagi?"tanyanya. Ia duduk didepan Calvin.
"Kayaknya aku harus jujur sama Sandra, Tante." ungkap Calvin.
Wanita didepannya merasa bosan karena yang dibahas oleh Calvin hanya itu-itu saja tapi tidak ada tindakan langsung "Ya, baguslah, itu yang Tante tunggu dari kamu. Ketegasan kamu harus dibuktikan."
"Sulit harus berurusan sama Dinda. Tapi nanti kalo dia pulang, aku mau semuanya selesai."
"Bagus. Tapi kamu harus ngomong juga tentang Dinda sama istri kamu."
"Pelan-pelan, Tante. Aku takut Sandra gak terima."
"Itu konsekuensi yang harus kamu terima. Kamu gak jujur diawal."
Amara tersenyum. "Apa kamu takut kehilangan Sandra?" godanya.
"Tentu aja. Walaupun kita menikah karena alasan kemarin, tapi aku gak nyesel udah nikahin dia."
Amara tersenyum penuh arti.
"Kalo gitu aku pergi dulu." jawab Calvin cepat yang menyadari jika ia sudah berkata begitu jauh. Ia berjalan menuju pintu keluar.
"Good luck, Vin!" seru Amara senang.
Sandra sedang serius membaca kalimat demi kalimat skrip ditangannya. Namun ia harus sedikit kesal karena beberapa artis menghampirinya.
"Halo, Sandra ya?" tanya salah satu artis.
Sandra menoleh dan tersenyum. Ia sedikit kaget melihat beberapa orang mendekatinya.
"Iya. Kenapa ya?"
__ADS_1
"Kita cuma mau ngobrol aja. Cuma pengen tau pengalaman kamu waktu syuting di Korea sana."
Sandra menyimpan skripnya dimeja. "Pengalaman ya? Gak banyak sih yang bisa diceritain." ucapnya sambil tertawa.
"Udah lama jadi assisten director?" tanya salah satu dari mereka.
Sandra menoleh pada pria yang terlihat sangat tampan itu. Wajahnya mengingatkannya pada Dave. "Lumayan lama. Sebelum menikah juga udah jadi asisten director."
"Oh, udah punya suami? tapi gak keliatan kayak udah nikah." jawabnya.
Sandra hanya tersenyum mendengar ucapan mereka.
"Mumpung gak ada suaminya, gimana kalo kita minum di cafe depan studio?"
Sandra melihat jam tangannya. "Oke."
Mobil Calvin telah sampai di studio. Ia langsung keluar untuk mencari Sandra. Ia sengaja tidak memberitahu kedatangannya untuk memberikan kejutan. Iapun berjalan mengelilingi studio. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Sandra. Ia mengeluarkan handphonenya untuk menghubunginya. Dan surprise nya gagal, pikir Calvin kecewa. Tapi kemudian ia mendengar suara Sandra sedang tertawa. Ia melihat kerumunan artis-artis. Iapun mendekat untuk mengetahui siapa yang sedang tertawa. Benar saja. Sandra ada disana dikelilingi artis laki-laki. Calvin sempat mengerutkan keningnya ketika melihat Sandra sedang tertawa. Ia sepertinya menikmati dikelilingi pria-pria itu.
"Sandra! Sayang!" panggil Calvin.
Sandra langsung mencari asal suara. Ia terkejut melihat Calvin ada distudio. Wajahnya memerah karena malu. "Calvin?"
"Siapa?"tanya mereka.
Calvin hanya bisa mengerutkan keningnya ketika ia melihat pria-pria itu sedang menatap kepergian Sandra dengan mata berbinar. "Kurang ajar. Berani-beraninya ngeliatin istri orang kayak gitu" geram Calvin.
"Kenapa? Mau apa kamu kesini?"tanya Sandra yang masih bingung melihat kedatangan Calvin yang tiba-tiba.
"Kita harus bahas soal pekerjaan kamu ini setibanya aku pulang dari Bali." ucap Calvin.
"Bahas tentang apa?"tanya Sandra bingung.
"Tentang pekerjaan kamu."
Sandra terdiam. "Pekerjaan apa?"
"Kita bahas nanti. Sekarang ikut aku ke kandara. Aku mau ngobrol sama kamu."
Calvin dan Sandra sudah berada di cafe bandara untuk sekedar meminum kopi. Calvin menghela nafas. Ia harus memiliki kekuatan untuk bercerita pada Sandra. Ternyata tiba saatnya Sandra harus tahu.
__ADS_1
"Sandra, denger cerita aku." ucap Calvin gugup.
"Iya aku denger. Cepet ngomong." seru Sandra kesal.
"Tolong jangan jawab dengan wajah kamu yang kayak gitu." ucap Calvin.
Sandra langsung salah tingkah. Ia meminum caffe latte nya. Calvin mengangkat jari-jarinya dan mencubit pipi Sandra.
"Kamu lucu kalo lagi kesel." ujar Calvin sambil tertawa simpul. "Kamu pernah kebayang gak sih kalo kita akhirnya ketemu dan melakukan pernikahan seperti sekarang?"
Sandra menggelengkan kepalanya.
"Sama aku juga. Aku cuma minta satu sama kamu, ini tentang isi perjanjian pranikah yang waktu itu aku tandatangani."
"Kenapa? Kamu menyerah?"
"Bukan. Ini tentang poin nomor tiga. Sandra, aku harus jujur sama kamu.. Tapi kamu harus percaya aku."
Sandra langsung serius. Ia menatap Calvin dengan tajam. "Oke, to the point."
"Sebelum aku ketemu sama kamu beberapa bulan kemarin, aku sebenernya masih punya hubungan dengan salah satu wanita."
Sandra harus terkejut dengan apa yang didengarnya. Ia berdiri dan hampir menangis. Calvin langsung menarik lengan Sandra. "Denger dulu. Kamu duduk. Dengerin sampai aku selesai ngomong."
Sandra kembali duduk dan tidak mau menatap Calvin. Calvin langsung duduk disampingnya tanpa melepaskan pegangan tangannya.
"Aku gak pernah cinta sama dia, Sandra. Demi Tuhan. Aku gak pernah berharap berhubungan sama wanita ini. Aku terpaksa karena depresi yang dia terima gara-gara aku. Selama bertahun-tahun dia minum obat penenang sampe terakhir kita ketemu."
Sandra hanya diam. Ia masih tidak mau menatap Calvin.
"Aku gak selingkuh dari kamu. Aku gak ada niat kayak gitu. Sekarang dia jauh di Paris. Tapi bulan depan dia kembali."
"Dia tau kamu udah nikah?"
"Dia belum tau. Makanya pas nanti dia pulang, aku mau beresin semuanya. Tolong kamu percaya sama aku."
"Kenapa kamu baru bilang sekarang? Bukannya sebelum kita menikah?"
"Karena aku harus beresin masalah kita berdua."
__ADS_1
Sandra terdiam sejenak. "Oke, buat sekarang aku percaya sama kamu."
"Oke, Sandra. Makasih.." ucap Calvin senang. Akhirnya ia bisa pergi bekerja dengan tenang. Yang sekarang ia tunggu adalah kedatangan Dinda. Bagaimana reaksi Sandra jika tahu wanita yang ia maksud adalah teman sekolahnya?