
Lift terbuka. Sandra bisa melihat cafe itu tampak tenang. Beberapa pasangan menghabiskan waktunya disana. Pakaian dan apapun yang dikenakannya bisa menunjukkan darimana mereka berasal.
“Malam Pa Calvin. Malam ini datang dengan kekasihnya?”tanya manajer cafe itu.
“Ini istri saya.” Jawab Calvin bangga.
“Oh ya? Wah selamat pa. Saya pikir bapak belum menikah. Sudah lama sekali bapak tidak pernah kesini.”
Calvin tersenyum. “Ada tempat?”
“Buat bapak pasti ada. Ini spot terbaik. Demi bapak yang sudah lama tidak kesini, saya kasih tempat terbaik”
“Oke, antar saya sekarang.”
Mereka berdua diantar menuju spot yang dikatakan terbaik. Ketika pintu yang terbuat dari kaca itu dibuka, terlihatlah pemandangan kota yang sangat indah. Lampu-lampu bersinar terang. Sandra tak sengaja menggenggam erat tangan Calvin.
Sebuah sofa ditempatkan disana.. Dan memang tempat itu dibuat senyaman mungkin.
“Saya suka.” Ucap Calvi cepat.
Sandra langsung duduk disofa dan tersenyum senang. “Udah berapa lama gak kesini?”
Calvin duduk disampingnya. “Lama banget. Sesuai sama omongan orang tadi.”
“Berapa lama?”
“6 bulan.”
Sandra langsung tertawa.
“Loh, kenapa?” tanya Calvin bingung.
“Aku pikir kamu gak kesini bertahun-tahun. Ternyata cuma 6 bulan.” jawab Sandra.
"Kalo aku gak bisa tidur, aku pergi kesini. Dan itu hampir tiap hari. Dave dan Edward gak tau tempat ini. Cuma kamu yang aku ajak kesini."
__ADS_1
"Apa sih yang kamu pikirin?" tanya Sandra.
Calvin menatap Sandra lama. Ia langsung tersenyum. "Gak ada."
"Bohong. Kalo orang gak bisa tidur biasanya ada sesuatu yang dipikirin." ucap Sandra.
Tiba-tiba Calvin menarik kepala Sandra kedadanya. Ia memeluk Sandra dengan erat. “Aku bener-bener seneng, Sandra. Kamu liat gak tadi mereka berdua mesra banget didepan kita, aku iri. Kapan aku bisa kayak gitu?”
Sandra melepaskan pelukan Calvin. "Kamu belum jawab. Apa yang kamu pikirin?"
"Gak ada, Sandra." jawab Calvin.
"Vin, aku tau kamu lagi sembunyiin sesuatu sama aku. Kamu gak akan ngomong?"
Calvin terdiam. Jika memang ia harus mengatakannya, tapi bagaimana reaksi Sandra nanti?
"Orang yang pernah aku ceritain udah datang. Aku udah cerita tentang pernikahan kita." ucap Calvin serius.
"Trus gimana reaksi dia?" tanya Sandra.
"Kamu harus jaga jarak aja Vin. Kalo suatu saat aku harus ketemu sama perempuan itu, aku mau."
Calvin menatap Sandra. Ia menggenggam tangannya. "Kamu mau tau siapa perempuan itu?"
Sandra menggelengkan kepalanya. "Aku gak mau tau soalnya itu gak penting."jawab Sandra.
Sandra tersenyum walaupun dalam hatinya ia merasa gugup. “Aku haus.” Ucapnya. Wanita mana yang mau bertemu dengan mantan kekasih suaminya? Sepertinya Sandra yang akan melakukannya.
“Aku haus trus laper. Daritadi kita cuma ngobrol aja. Kita belum pesen sesuatu.” Rengek Sandra. Sandra melakukannya agar ia tidak gugup. Ia harus mencairkan suasana.
Sandra melihat-lihat menu yang ada ditab. Kemudian ia mulai memesan. Sesekali ia melihat wajah Calvin yang terlihat gugup. Mungkin Sandra merusak suasana.
Tak lama minuman dan makanan yang dipesan datang. Sandra langsung melahap menu makan malamnya.
“Sandra”panggil Calvin.
__ADS_1
“Apa?” Sandra menoleh pada Calvin.
“Kamu suka aku gak? Maksud aku, kita udah beberapa bulan nikah, apa kamu ada rasa sama aku? Kita jangan membahas perasaan kita waktu sekolah dulu. Aku mau tau sekarang.”tanya Calvin. “Jujur, sebenernya itu yang ngeganggu dihati aku.”
Sandra tersenyum. Iapun meminum minuman didepannya. “Aku suka banget Vin minuman ini.” Jawab Sandra sambil mengangkat minuman itu.
Calvin menggelengkan kepalanya. Ia sedikit kesal. Wanita disampingnya mengganggu pembicaraannya. Tapi tiba-tiba Sandra memeluk pinggang Calvin dan menyimpan kepalanya didada Calvin. “Kayaknya aku udah gak harus bilang lagi Vin.”Ucapnya pelan. “Kalo aku gak suka kamu, kenapa aku mau pake baju norak ini.” Tambahnya pelan.
“Apa? Sekali lagi” ucap Calvin sambil menundukkan kepalanya.
“No more repeat.” Jawab Sandra sambil melepaskan pelukannya. Iapun membereskan tasnya. Calvin menatapnya bingung.
“Mau kemana?”
“Mau pulang. Kamu udah tahu jawaban aku. mau apa lagi? Cuma itukan yang kamu mau?Aku tau kamu tersiksa tidur sendiri dikamar sebelah ”ucap Sandra sambil tersenyum.
Calvin tersenyum senang. Ia mengangguk sambil memeluk bahu Sandra. “Ayo kita pulang, kita udah gak bisa nahan lagi.” Ucapnya bersemangat.
“Gak bisa nahan apa?” tanya Sandra bingung. Ia melepaskan pelukan Calvin.
“Dua orang saling suka, udah menikah, mau ngapain lagi dirumah” seru Calvin senang
Sandra menggelengkan kepalanya. Iapun mencubit pipi Calvin dengan keras. “Otak kamu itu vin!”
“Aargh” teriak Calvin. “Mau apa lagi coba?” Jawabnya kencang. Orang-orang yang ada disana menatap mereka sambil tersenyum.
Sandra menutup wajahnya menggunakan tas. Ia berjalan cepat. Calvinpun mengejar Sandra yang telah berjalan terlebih dahulu sambil menutup wajahnya.
“Aku malu, aku malu.” Ucap Sandra sambil berlari.
“Aku gak malu. Emang kenyataan kamu istri aku, kita berhak ngobrol hal itu.” bela Calvin.
Mereka berdua berjalan menuju parkiran untuk segera pulang ke rumah. Rasanya malam ini akan menjadi malam yang panjang. Calvin tidak mau hari bahagianya seperti ini hilang.
Dilain tempat. Sebuah selang tabung oksigen terpasang di wajahnya. Jarum infusan terpasang di lengannya. Perban berwarna putih melingkari lengannya. Dan kedua mata itu terbuka. Ia tersadar ketika melihat kain serba putih mengelilinginya. Ia teringat sesuatu. Ia mulai menangis.
__ADS_1