
Calvin membawa mobilnya dengan cepat. Ia tidak bisa menghubungi Sandra sejak sore hari. Ia menghubungi Alena untuk menanyakan dimana Sandra tapi mereka berpisah sejak siang. Jadi dimana Sandra sekarang?
Ketika sampai di apartemen, ia berlari untuk segera sampai. Namun ketika ia membuka pintu, suasana apartemennya masih sama seperti terakhir ia tinggalkan. Iapun kembali menghubungi Sandra. Kali ini tersambung.
“Halo..”
“Dimana? Aku udah bilang jangan keluar rumah dulu.” ucap Calvin kesal.
“Aku didapur.” jawab Sandra cuek.
“Dapur?”tanya Calvin. Ia menghampiri dapur apartemen. Tidak ada seorangpun disana. “Dapur mana? Jangan bercanda, Sandra.”
“Dapur rumah kamu.” ucap Sandra kesal.
“Ngapain kamu di rumah aku?”tanya Calvin dengan nada kesal.
“Kok jadi sewot sih, aku tutup teleponnya. Bye.” jawab Sandra sambil menutup teleponnya.
Anita masuk kedapur untuk melihat pekerjaan Sandra. Ia melihat Sandra baru saja menutup telepon.
“Siapa? Calvin?”tanya Anita.
Sandra mengangguk malas. “Dia marah-marah, aku jadi males.” jawab Sandra kesal.
Anita tertawa. “Dia emang gitu, Sandra. Harap dimaklumi.”
__ADS_1
“Udah aku maklumi ma, tapi dia emang suka kelewatan.”
“Yah, begitulah Calvin. Anak mama yang paling ganteng ya Calvin. Cuma dia sifatnya gitu, kadang suka banyak bohongnya.” ungkap Anita membuat Sandra terdiam. Ia berfikir.
Anita mendekati kompor untuk mengeluarkan kue yang sedang mereka buat. Diluar terdengar ayah Calvin dengan Dean sedang berteriak. Sejak ia datang sore ini, keduanya sedang memainkan game. Dan dua-duanya tidak mau kalah. Menurut mamanya, hanya Calvin yang menolak memainkan game. Keluarga Calvin memang keluarga yang menyenangkan. Ia beruntung menjadi bagian didalamnya.
Sandra melihat Anita yang sedang fokus mengeluarkan kue-kue nya. Ia tidak membantunya kali ini.
Terdengar suara mobil diluar, ia yakin Calvin sudah tiba. Langkah kakinya terdengar keras. Sandra hanya melihat Calvin datang dengan wajah kesal. Ia menghampiri Sandra.
“Mama nyuruh kamu kesini?” tanyanya.
Sandra menggelengkan kepalanya. “Enggak.”
“Trus ngapain kamu kesini?”
“Kamu kan lagi sakit, Sandra. Aku cukup stress waktu di kantor inget kamu sakit.”
“Aku udah gak apa-apa.” jawab Sandra.
Tiba-tiba Calvin memegang perut Sandra. Ia mengabaikan pertanyaan pertama pada Sandra. “Perutnya udah baikan?”
“Sandra hamil?”tanya Anita bersemangat.
Calvin dan Sandra menatap Anita bingung. Mereka berdua menggelengkan kepalanya serentak.
__ADS_1
“Trus kenapa megang perut Sandra?”
“Tadi pagi dia sakit perut. Trus badannya kena demam.”jelas Calvin.
“Hasilnya?”tanya Anita penasaran.
“Asam lambung Sandra naik ma, tapi gak apa-apa. Sehari udah sembuh lagi.”
Anita keluar dapur dengan lemas. “Mama pikir kamu udah hamil.”
“Vin, kamu ikut grup anak sekolah menengah?” tanya Sandra ketika mereka berbaring. Calvin sudah menutup matanya sedangkan Sandra masih terbuka.
“Kenapa?”tanya Calvin.
“Tadi aku ketemu Cindy di mall. Dia bilang mau ada reunian. Kamu mau ikutan?” tanya Sandra.
“Gak tau. Aku males.”
“Kamu tau kalo Dinda yang jadi donatur?”
Kedua mata Calvin terbuka. “Donatur?”
“Iya, dia donatur acara itu. Mungkin dia bikin acara itu buat menggaet kamu.”
Calvin langsung memeluk Sandra. “Jangan mikir yang macem-macem. Aku udah punya kamu. Aku udah sempet bilang sama kamu buat lupain Dinda. Jangan ada Dinda diantara kita.” ucapnya sambil menutup mata.
__ADS_1
Sandra mendengar suara dengkuran halus Calvin disampingnya. Iapun mengambil handphone Calvin dan membukanya. Selama menikah, ia tidak pernah melihat isi handphone Calvin. Tapi kali ini berbeda, ia penasaran dengan isi grup yang sudah dibuat setahun yang lalu. Dan ia baru tahu ternyata Calvin sempat menjadi admin grup. Ia melihat-lihat foto Dinda yang sedang memberikan bantuan pada orang-orang. Anehnya yang Dinda bahas kenapa selalu Calvin yang disebut? Beberapa foto lama disebarkan Dinda. Apakah Dinda melakukannya dengan sengaja agar ia bisa melihat foto-foto lama mereka?
Sandra menutup teleponnya. Kebetulan sekali Dinda belum mengetahui siapa istri Calvin. Reuni kali ini akan ia pastikan Dinda mendapatkan kejutan. Sandra tersenyum senang. Ia menyimpan kembali handphonenya di meja nakas.