
Calvin datang ke kantor dengan wajah merah. Dave melihatnya dan merasa curiga.
“Kenapa? Kalian berantem?” tanya Dave curiga.
“Sandra kelewatan, dia bikin orang kena gegar otak.” ucap Calvin kesal.
“Kamu tanya kenapa bisa kayak gitu?” tanya Dave.
“Aku gak tanya. Aku lagi pusing masalah kantor, dikasih masalah soal Sandra, aku jadi kesel.”
Dave menyimpan spidol yang sedang dipegangnya. “Aku udah bilang, pusing kamu akibat proyek kita ini jangan sampe kebawa sama istri kamu. Kamu marahin Sandra? Kamu tanya ke istri kamu kejadiannya versi istri kamu?”
“Buat apa? Udah ada bukti.”jawab Calvin kesal.
“Kamu itu cakep tapi sayangnya kamu itu bodoh. Aku kasih tau kamu sekarang, cepet minta maaf sama istri kamu.” ucap Dave marah. “Masa urusan kayak gini harus aku yang turun tangan. Udah susah-sudah dapetin Sandra, bahkan kamu dapetnya lewat Edward. Harusnya kamu pertahanin. Dasar bxgo!” ucap Dave kesal. Ia berdiri dan meninggalkan Calvin diruangan sendiri. Ia ingin menyalakan sebatang rokok untuk menghilangkan stressnya. Sudah dapat ia duga jika Sandra akan menjadi sasaran kemarahan Calvin. Sejak mendapat kabar siang ini dari pemerintah Thailand, wajah Calvin langsung berubah.
Calvin terdiam ketika ia dimarahi Dave. Ia memang pantas dimarahi. Sepertinya ia salah telah memperlakukan Sandra seperti itu. Ia mengambil handphone yang ada di saku celananya. Ia hampir menghubungi Sandra ketika ada sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Ia membukanya dan terkejut melihat foto-foto Sandra sedang berdua dengan pria. Dan yang ia tahu pri itu adalah Albert, saingannya ketika di sekolah dulu. Albert dan Calvin bersaing karena mereka sama-sama tampan. Albert merupakan ketua OSIS sedangkan Calvin adalah kapten basket sekolahnya. Ia tidak menyangka hari ini akan tiba. Mereka berdua dipertemukan kembali hanya karena seorang Sandra yang jelas-jelas tidak terkenal saat itu.
Calvin mengepalkan tangannya dan memukul meja dengan keras. Terdengar suara retakan kaca meja.
“Berani-beraninya dia deketin Sandra.” geramnya marah.
Dinda tertawa ketika ia berhasil mengirimkan foto-foto antara Sandra dan Albert ke Calvin. Ia yakin Sandra akan ditinggalkan oleh Calvin mulai malam ini. Ia puas sekali. Tidak akan lama lagi Calvin akan kembali padanya.
“Kenapa ketawa sendiri?”tanya Ariel yang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.
Dinda menoleh pada kakaknya. “Aku lagi seneng.”Jawabnya sambil tersenyum.
“Ada yang cari kamu diluar.” ucap Ariel.
__ADS_1
“Siapa?”tanya Dinda bingung. “Malam-malam gini?”
“Dokter Ivan.” jawab Ariel sambil berjalan keluar.
Sandra terbangun di sofa yang ada diluar kamarnya. Semalam ia tidak sempat masuk ke kamar karena duduk di luar untuk waktu yang sangat lama. Calvin tidak menghubunginya hingga saat ini. Ia melihat jam dinding. Pukul 9 pagi. Calvin benar-benar tidak kembali. Sandra terdiam lemas. Terdengar bell pintu berbunyi. Ia bergegas untuk membuka pintu.
Anita sedang berdiri didepan pintu dengan membawa beberapa plastik. Sandra sedikit terkejut melihat kedatangan ibunya.
“Mama, sama siapa kesini?”tanya Sandra.
“Sendiri. Mama mau masak disini. Mama mau masakin kamu sayur biar kamu sehat.” jawab Anita sambil berjalan kedalam.
“Sandra sehat kok ma..” ucap Sandra. Ia merasa dirinya sehat-sehat saja.
“Kalo sehat, kamu udah hamil.” ucap Anita.
Sandra terdiam. Ia tidak sanggup menjawab perkataan mengenai itu lagi. Iapun berharap agar segera diberikan tanda-tanda jika dirinya hamil. Tapi itu hanyalah harapannya saja.
“Orangtua pasti selalu mendoakan. Tinggal anaknya yang didoakan, berusaha atau enggak.” jawab Anita pedas. Ia masuk ke dapurnya dan mulai mengeluarkan bahan-bahan yang ada didalam plastik.
Dengan perasaan berkecamuk dihatinya, ia membantu ibunya membuat makanan untuknya.
“Calvin udah pergi ya tadi jam 7 ke Thailand?” tanya Anita.
Sandra melepaskan baskom berisi air yang sedang dipegangnya. “Thailand?” bisiknya.
“Duh, kok bisa jatuh sih Sandra, megangnya yang bener. Jadi berantakan kan?” seru Anita kesal.
Sandra langsung berlari mengambil lap tangan. Ia berjongkok untuk membersihkan lantai yang basah itu. Sesekali ia terdiam. Ia memegang dadanya. Sakit sekali. Calvin bahkan tidak memberitahunya jika pagi ini ia pergi ke Thailand. Airmatanya mulai menetes. Ia hapus dengan cepat karena tidak mau terlihat ibunya.
__ADS_1
“Makan yang bener. Hati-hati selama Calvin gak ada.” ucap Anita ketika ia akan pulang.
“Iya ma. Makasih udah dateng kesini.” jawab Sandra.
Anitapun pergi. Ia langsung menghubungi Calvin tapi tidak ada nada sambung. Kemudian ia coba menghubungi Alena. Ia ingat Calvin mengatakan jika Dave menunggunya di kantor.
“Halo Sandra..” jawab Alena.
“Al..”panggil Sandra.
“Ya, kenapa? Kamu sakit?”
“Aku mau tanya, apa Dave pergi ke Thailand juga?”
“Iya, dia ikut sama Calvin ke Thailand.”
“Berapa lama?” tanya Sandra sambil menutup matanya.
“Mungkin 3 hari. Kenapa? Calvin gak bilang sama kamu?” tanya Alena bingung.
“Ok, Al. Thank you.” jawab Sandra sambil menutup teleponnya.
Sandra tidak merasa lapar ataupun haus. Ia hanya merasa pusing. Iapun berjalan ke kamarnya dan mulai berbaring. Hatinya tidak baik-baik saja hari ini. Kenapa Calvin harus tega padanya? Ia menutup wajahnya dengan bantal dan mulai menangis. Dua kali Calvin sudah menyakitinya.
Dilain tempat.
“Kamu udah bilang ke Sandra pergi kesini?”tanya Dave.
Calvin menggelengkan kepalanya. “Belum”
__ADS_1
“Kenapa?”tanya Dave kembali.
“Udah Dave, aku mau fokus dulu masalah disini. Nanti masalah dirumah aku beresin pas pulang.” jawab Calvin. Ia kesal mengingat kejadian tadi malam ketika ia melihat Sandra sedang berbincang dengan musuhnya.