
Calvin menyandarkan tubuhnya di sofa yang ada diruangannya. Kepalanya sakit mengingat keadaan dirumah. Sandra terus mengurung diri dikamar sedangkan ibunya setiap saat selalu memarahinya. Entah itu di telepon atau bertemu muka. Jika ia pikir, yang lebih banyak dirugikan adalah Sandra. Ia akan disorot buruk. Padahal mereka tidak melakukan apa-apa. Tentu saja ia tidak pernah berani melakukan hal senonoh pada Sandra. Ia menghormati gadis itu lebih dari apapun.
Ia mengeluarkan handphonenya dan menatap isi berita headline disalah satu portal gosip. Beberapa hari yang lalu tersebar berita mengenai mereka. Terkadang ia merasa bingung, ia dan Sandra bukanlah artis sehingga tidak perlu untuk menjadi sebuah berita. Tidak ada yang akan tertarik pada kisah mereka. Tapi, karena ia adalah sosok milyuner muda beserta kedua sahabatnya, segala sesuatu menjadi perbincangan. Apalagi pacar Dave kebanyakan artis ibukota. Tidak jarang ia masuk kedalam portal gosip.
Jika saja ibunya tidak berteriak malam itu, mereka pasti baik-baik saja. Tidak akan ada yang tertarik pada keadaan mereka malam itu dan tidak ada yang tau siapa mereka. Calvin menutup matanya. Semalam ia tidak pulang. Ia khawatir keadaan Sandra. Bagaimana Sandra dirumah?
Pintu terbuka dengan kencang. Edward masuk tanpa permisi. Ia ingin sekali tertawa melihat Calvin. Ia duduk disamping Calvin.
"Kenapa sayang?" goda Edward. "Dave belum pulang dari bulan madu?"
Calvin membuka matanya. Ia melirik Edward. "Liat apa yang udah kamu perbuat, kasian Sandra. Dia gak berani keluar kamar gara-gara jadi headline berita gosip."
__ADS_1
"Gosip itu sementara kok. Tenang aja, kalian bukan artis. Berita itu cuma intermezzo. Jangan dipikirin." jawab Edward santai.
"Tetep aja. Kita gak berbuat apa-apa malah difitnah kayak gini. Planning kamu apa sama kita berdua."
"Menyatukan cinta kalian yang sempat terpisah selama bertahun-tahun." jawab Edward sambil berdiri. "Sandra.. bukan-bukan. Namanya Cassandra.. Aku inget banget waktu kita minum di Michigan sana, kamu mabuk berat sambil manggil-manggil nama Cassandra. Aku pikir kamu suka nonton acara telenovela. Taunya bukan." ucap Edward sambil tertawa.
"Itu dulu.." jawab Calvin kesal.
Edward duduk disamping Calvin. "Really? Sekarang enggak lagi?"
"Kalo aku jadi kamu, aku gak akan sia-siakan waktu buat tanggung jawab." Ucap Edward.
__ADS_1
"Tanggungjawab? Kita gak ngapa-ngapain!" protes Calvin.
"Buktinya mama kamu sama orang-orang yang liat kalian gak percaya kalo kalian cuma tidur dikamar."
Calvin menyandarkan punggungnya. "Please Ed, bantuin aku. Kamu yang mulai."
"Aku udah bantuin kamu.. Belum sadar? Kamu inget sama perempuan yang namanya Dinda? Kalian itu apa? hubungan kalian apa? kalau perempuan itu datang, gimana sikap kamu? apa kamu mau balikan sama Dinda? melanjutkan hubungan kalian? Sandra tau tentang Dinda? Pilih sendiri. Yang pasti aku udah bantuin kamu. Tinggal kamu buat keputusan. Mau Dinda atau Sandra?" ucap Edward sambil berjalan keluar. "Salamin buat Sandra, calon istri kamu. Dari Edward, pria paling ganteng sejagat raya."
Calvin hanya melirik Edward. Untuk apa ia datang ke perusahaannya jika ia hanya berniat menggodanya. Beberapa jam lagi ia akan melakukan meeting dikantor Dave tapi ia malas keluar.
Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Ada telepon dari rumah. Tidak biasanya ia mendapatkan telepon.
__ADS_1
"Pulang sekarang, genting!" ucap Dean cepat. Ia langsung menutup teleponnya.
Calvin langsung berdiri. Genting? Sandra? Kenapa Sandra?