Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )

Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )
Last Chapter


__ADS_3

Sandra berkeliling mencari pakaian yang ia beli untuk ia pakai selama berlibur. Sejak pergi dari rumah kemarin, ia tidak membawa pakaian ganti. Ia memutuskan pergi kesana karena melihat lukisan dilobi hotel tempatnya menginap. Ia tidak akan lama berada jauh dari Calvin. Bagaimanapun ia tetap merasa kasihan. Suaminya pasti sedang pusing mencarinya. Sesekali ia membuka handphonenya. Beberapa pesan datang padanya. Hampir semuanya dari Calvin.


Ia menatap langit di pantai sangat indah. Angin pantai menggoyangkan dress bunga-bunga yang ia beli pagi tadi, Dan itu masih kurang. Sandra tersenyum sendiri sambil memegang perutnya. Sesekali ia merasa mual, tapi bisa diatasi dengan mudah. Pagi tadi ia lemas, tapi hanya sesaat. Ia masih bisa melakukan aktifitasnya seperti biasa. “Biar papa kamu rasain, memangnya enak kehilangan mami” Ucapnya pelan. Iapun melanjutkan memilih pakaian. Namu handphonenya kembali bergetar. Ia melihatnya. Telepon dari Andre.


"Anneyong, Kim.."ucapnya senang.


"Kamu manggil marga aku? Kedengerannya kamu lagi seneng." tanya Andre.


"Naneun imsin (aku hamil)." ucap Sandra sambil tertawa. "Hello, uncle. Anneyong." goda Sandra.


Andre tertawa. "Aku bahagia buat kamu, Sandra."


"Aku juga mendoakan kebahagiaan kamu. Aku harap kamu segera mendapatkan pasangan." Ucap Sandra. Andre terdiam. Tapi Sandra bisa mendengar suara wanita disamping Andre. "Siapa? Jangan-jangan?" tanya Sandra curiga.


Andre tiba-tiba tertawa. "Ya, aku dijodohkan satu bulan yang lalu. Nama internasionalnya joy. Aku harap kamu bisa datang kesini dan berkenalan sama pacar aku." ucap Andre kaku.


"Finnaly, Andre. Aku seneng. Aku pasti ke sana dan ketemu sama kamu."


"Aku harap kamu selalu bahagia, Sandra. Gomawo ( terima kasih ) untuk semuanya. Kamu sahabat terbaik." ucap Andre.


Tiba-tiba Sandra meneteskan airmata. Ia merasa sedih mendengar Andre mengatakan itu. Beberapa tahun persahabatan mereka dihancurkan karena tindakan Andre yang tiba-tiba menyukainya. Ia menyadari satu hal. Pria dan wanita selamanya tidak akan bisa menjadi sahabat. Karena salah satunya pasti akan terluka. Siapapun itu.


Dave berjalan cepat sambil menggenggam Alena. Alena sengaja dijemput saat pulang kerja untuk pergi ke apartemen Calvin. `


“Calvin kenapa?” tanya Alena panik ketika dijalan tadi.


“Pokoknya kamu periksa dulu. Dia lagi gawat. Ditinggalin Sandra malah jadi gitu.” Jawab Dave sambil membuka pintu apartemen dengan terburu-buru. Seharian ini Dave berada di apartemen Calvin. Ia tidak tahu apa yang terjadi.


Mereka langsung masuk kedalam kamar Calvin. Lampu kamarnya terlihat mati. Dan hanya ada lampu nakas untuk penerangan seadanya. Hari sudah sore dan Calvin terlihat sedang berbaring. Wajahnya sangat pucat. Alena langung menghampiri Calvin dan mengecek tubuhnya. Ia menekan perutnya. Calvin merasa sedikit kesakitan.


“Sejak kapan kamu gak makan?”tanya Alena marah


Calvin hanya menatap Alena dan Dave tanpa menjawabnya.


“Kamu stres Calvin, aku tau kamu. Jangan menyiksa diri. Sandra nanti pulang kok. Kamu jangan khawatir.” Ucap Alena kesal. Ia kesal karena sahabatnya tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Iapun menelpon seseorang. “Tolong kamu bawain infusan 2 labu aja.”


Dave mengerutkan keningnya. “Kenapa kita gak bawa Calvin aja ke rumah sakit.”


“Biar Sandra tau kalo suaminya bener-bener sakit.” Jawab Alena. “Vin, tolong kamu harus kerjasama sama aku. kalo infusan habis, kasih tau aku. nanti aku ganti sama yang baru. Kamu gak boleh mati sebelum sandra pulang dan jelasin semuanya sama kamu.”tambahnya kesal. Calvin hanya menatap tajam.


“Sayang, kamu berlebihan.” Jawab Dave sambil tertawa.


“Buat orang stres kayak Calvin gak ada yang gak mungkin. Siapa tahu pas kita pulang, dia bunuh diri. “ jawab Alena santai. Iapun melihat Calvin. “Kamu mau liat anak kamu kan Vin?”

__ADS_1


Calvin hanya mengangguk lemah.


Sandra perlahan masuk kedalam apartemennya pukul 10 pagi. Ia pikir ia bisa pulang ketika Calvin sudah pergi bekerja. Ia baru saja tiba tadi pagi dan selesai dengan berbagai urusan, ia pulang ke apartemen pukul 10 pagi. Rasanya melelahkan setelah melalui perjalanan lumayan panjang. Sebelum ia pergi lagi, ia ingin membawa sesuatu dari apartemennya. Ia harus mengirimkan sesuatu untuk Andre.


Semua ruangan tampak gelap. Gorden terlihat masih tertutup rapat. Hanya kamarnya yang terang. Mungkin Calvin memang sedang tidur. Iapun perlahan masuk kedalam kamar. Calvin sedang tertidur. Sandra mulai mengambil semua yang diperlukannya. Ia merasa tidak bersalah sedikitpun telah meninggalkan Calvin seorang diri. Ia melihat ada air putih dan air teh di meja nakas. Keduanya masih penuh.


Calvin membuka matanya. Ia merasa ada seseorang berada dikamarnya. Infusannya sudah dilepas siang kemarin. Tapi, ia masih merasakan lemas. Sandra masih belum ada kabar kapan akan pulang. Iapun menoleh kesamping. Terlihat seorang wanita sedang membereskan pakaiannya. SANDRA?


“Sandra..” ucap Calvin lemas.


Sandra membalikkan tubuhnya. “Kamu bangun? Sorry ganggu. Aku cuma mau ngambil baju.” ucapnya cuek.


Calvin duduk diranjang. “Kamu mau kemana lagi?Tolong jangan pergi. “Ucapnya sedih. Iapun terbatuk dan menatap Sandra dengan mata perih.


Sandra melihat ada sesuatu yang aneh dari Calvin. Iapun menghampirinya dan menyentuh dahinya. “Kamu sakit?”tanyanya.


Calvin mengangguk.”Tolong jangan pergi lagi.” Ucapnya lagi.


Sandra tersenyum. “Apa kamu kehilangan aku?”


Calvin memegang tangan Sandra. “Kamu pikir, gara-gara apa aku bisa sakit gini? Aku sakit karena mikirin kamu dan bayi kita.”


Sandra terkejut karena Calvin mengetahui jika ia sedang mengandung. Tapi ia kemudian memeluk Calvin tanpa mengatakan apapun. Mereka akan berbicara jika Calvin sudah sembuh.


“Kamu udah bangun, vin?” ucap Sandra sambil membawa nampan.


Calvin mengerutkan keningnya. Ia tidak bermimpi? “Kamu beneran pulang?” tanya nya bingung.


“Kamu gak inget? Kamu nangis pagi ini. Trus aku bersihin badan kamu. Liat sekarang baju kamu aja aku gantiin.”


Calvin melihat pakaiannya. Memang berubah. Pntas sekarang ia merasa badannya enak.


“Beberapa jam kamu minta aku pelukin terus. Untung aja kondisi aku kuat. Kalo kondisi aku lemah, mungkin sekarang aku yang sakit. Padahal aku ini wanita hamil” Jawab Sandra sambil menyimpan nampannya dinakas.


Calvin langsung menarik tangan Sandra. “Kamu gak akan pergi lagi kan?”


Sandra mengangkat bahunya. “Tergantung. Kalo kamu gak hubungan lagi sama Dinda”


“Aku gak ada hubungan apa-apa sama wanita itu. Setelah kamu pergi, aku udah beresin semua. Aku bisa pastiin Dinda gak akan kembali lagi ngejar-ngejar aku." ujar Calvin berapi-api.


Sandra langsung memeluk Calvin sambil tersenyum. “Udah cukup. Aku percaya kamu kok.”


“Trus kenapa kamu pergi ninggalin aku?” tanya Calvin bingung.

__ADS_1


“Aku cuma ngetes kamu aja. Lagian aku udah puas bikin Dinda marah plus malu.” Jawab Sandra sambil tertawa. Iapun teringat sesuatu. “Eh, tapi aku mau pergi lagi lusa.” godanya.


Calvin mencengkram lengan Sandra kencang. Matanya melotot pada Sandra.


“Aduh, sakit Vin.” Ringis Sandra.


“Kemana?” tanya Calvin marah


“Aku masih mau berlibur.”


Calvin menggelengkan kepalanya. “Gak ada berlibur sendiri. Aku ikut.” Ucapnya.


“Tapi kamu kan sakit.”


Calvin mendorong tubuh Sandra hingga terlentang. Iapun merangkum wajah Sandra sehingga sangat dekat sekali.


"Aku lagi hamil." ucap Sandra.


"Aku tau, trus?" goda Calvin.


"Lepasin aku. Oke, aku gak bisa nafas." rengek Sandra.


Tak lama kemudian Calvin melepaskan diri perlahan tapi ia menatap Sandra dengan tajam. “Apa menurut kamu aku masih sakit?”


Sandra tertawa. “Enggak.” Jawabnya sambil memeluk Calvin.


“Aku cinta kamu, Sandra. For a long time.” Bisik Calvin.


“Aku juga for a long time.” Jawab Sandra sambil berbisik.


Ketika semua masalah bisa diselesaikan dengan baik, mengapa tidak saat dulu Calvin menyelesaikannya? Semuanya butuh waktu. Tapi mendapatkan Sandra adalah anugerah yang tidak bisa dihindari. Calvin adalah orang yang tidak suka mengulang masa lalu. Tapi jika masa lalunya berhubungan dengan Sandra, ia tidak akan menolak. Beberapa tahun kehilangan Sandra, sudah cukup untuknya. Ia tidak akan pernah mengingkari perasaannya sekarang. CASSANDRA, I LOVE YOU FOR A LONG TIME...


 


 


                                    T A M A T


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2