
Saat dimobil keduanya sempat diam. Calvin serius melihat jalan didepannya. Sesekali ia melihat handphone untuk melihat google maps nya. “Jalan-jalan sama siapa?Kemana?”tanya Calvin ketus. Ia memulai pembicaraan dengan nada tinggi.
“Gak usah pake nada tinggi gitu! Aku jalan sama Alena. Puas?”Jawab Sandra sambil mengelus kakinya yang sakit.
“Alena? Alenanya Dave?”tanyanya terkejut.
“Iya.”
“Sejak kapan kalian kenal?”
“Waktu kamu nyulik aku buat makan siang sama temen-temen kamu.”
Tiba-tiba Calvin teringat sesuatu. "Ah iya inget. Tapi kalian gak sedekat itu." ucapnya. “Ketemu dimana?”
“Di cafe d’ligter.”
Calvin berfikir sejenak. "Cafe d'ligter?"
Sandra melirik sejenak. "Kamu gak akan tau."
"Bukannya kemarin Alena bilang sama Dave kalo dia jaga sampe malem? Kok kalian bisa ketemu?" tanya Calvin bingung.
Sandra mengerutkan keningnya. Sejak kapan Calvin jadi possesif? Sebentar, kemarin Alena bilang jangan sampai Dave tahu. Kalau Calvin tahu, berarti gak akan lama lagi Dave juga tahu. Sandra menggelengkan kepalanya. Ia merasa dijebak Calvin.
"Pergi sama siapa sebelum ketemu Alena?" tanya Calvin.
Sandra sudah kesal dengan semua pertanyaan Calvin.
“Gak mau jawab?”tanya Calvin.
Sandra menatapnya. “Aku pergi sendiri.”
“Aku gak percaya.”
“Terserah. Tanya aja sama Alena.” Jawab Sandra sewot.
“Oke oke, aku percaya.” Ucap Calvin sambil tertawa. Ia sadar jika Sandra sudah kesal dengan pertanyaannya. "Kamu harus hati-hati sama laki-laki yang ngikutin kamu terus itu." tambahnya dengan nada serius. Sandra hanya diam.
Dokter Toni memeriksa Sandra sangat baik. Usianya tidak lagi muda. Ia memeriksa kaki Sandra sambil tersenyum.
"Kita coba rontgen dulu. Tapi kita harus ke rumah sakit sekarang." ucap Dokter Toni.
"Maaf dok, saya mengganggu. Harusnya dokter ke rumah sakit siang ini ya?" jawab Sandra tidak enak.
"Gak apa-apa kalo buat saudara dokter Alena." ucapnya sambil tersenyum. Iapun mulai siap-siap untuk pergi.
Calvin coba membantu Sandra untuk masuk ke mobilnya. Kali ini ia tidak menggendongnya. Sandra dipapah menuju mobil.
"Nanti kalo aku udah dirumah sakit, kamu ke kantor aja Vin. Aku gak apa-apa ditinggalin sendiri. Ada suster yang bantu aku disana." ucap Sandra.
"Gak. Aku tungguin kamu. Nanti kamu minta dijemput sama laki-laki itu." jawab Calvin.
Sandra tidak melanjutkan ucapannya. Ia malas.
Ketika ia berada dirumah sakit, tanpa sengaja ia bertemu dengan Alena di lobi.
__ADS_1
"Calvin?" panggil Alena.
Calvin menoleh ke belakang. "Al, kamu jaga pagi?"
"Aku lagi ada pasien pagi ini." jawab Alena. Ia menatap Sandra yang saat ini berada di kursi roda. Ia menepuk bahu Sandra. Ia terlihat sedang meringis kesakitan. "Udah dicek sama dokter Toni?"
"Tadi kita kerumahnya. Tapi kata dokter Toni lebih enak dicek di rumah sakit."
Alena mengangguk mengerti.
"Al, tadi malem kamu bohong ya?" tanya Calvin.
Alena tertawa hambar. Kebohongannya diketahui. Ia menatap Sandra yang terlihat olehnya sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hehe.. please jangan bilang-bilang Dave. Aku juga butuh sendirian. Pokoknya aku sama Sandra kita anggap gak pernah ketemu. Please jangan kasih tau Dave!" ucap Alena.
Sandra hanya tersenyum tanpa berkomentar apa-apa.
Dokter Toni melihat hasil rontgen yang baru saja dijalani Sandra. Calvin berada disampingnya dan kedua matanya terus menatap dokter itu. “Jalan-jalan berapa jam?”tanyanya tanpa melepaskan tatapannya pada layar monitor.
“Tiga jam lebih dok.” Jawab Sandra.
“Pantesan. Tapi hebat ya, kamu masih bisa jalan. Ini benda yang didalam kaki kamu harus diambil. Menurut data yang kamu kasih, benda ini udah harus diambil. Tulang kaki kamu sebenarnya udah baik. Kayaknya harus operasi. Kita lepas bendanya yang nyangga tulang kaki kamu.” Dokter Toni memperlihatkan hasil rontgennya dilayar. Calvin melihatnya dengan serius.
“Kapan dok operasinya?”
“Dua bulan lagi. Gimana? Sementara saya kasih semprotan penahan sakit. Biar kamu bisa jalan. Tapi ingat loh Sandra, jangan jalan terlalu lama.”
Sandra mengangguk.
“Gak bisa minggu ini aja dok?”tanya Calvin membuat Sandra melotot.
Setelah mengantar Sandra pulang, Calvin mampir ke kantor Edward. Banyak sekali proyek yang diterimanya. Ia sempat bingung memilih mana yang harus diambil. Niat awalnya ia dan Edward akan pergi ke kantor Dave. Tapi, ketika dijalan mereka dihubungi oleh Dave untuk tidak pergi ke kantornya. Mereka disuruh pergi ke apartemennya nanti malam. Terpaksa iapun pulang. Lagipula dirumahnya kini ia memiliki mainan baru.
Sorenya ketika ia pulang, Dean terlihat sedang menonton televisi. Kepalanya berputar-putar mengikuti irama lagu. Calvin berada dibelakangnya tanpa Dean sadari. Perlahan ia memukul kepala Dean dengan tangannya.
"Aww!"teriak Dean. Ia melihat kebelakang nya.
"What?" tanya Calvin sambil menahan tawa.
"Sirik aja sama kesenengan orang! Tuh, ganggu Sandra!"seru Dean kesal.
"Kasian masih sakit. Mending gangguin kamu!" jawab Calvin sambil tertawa.
"Kata siapa? tuh dia lagi telepon dari tadi." jawab Dean."
Calvin langsung melihat ketangga.
"Bukan diatas. Di luar. Liat aja. Dia lagi pacaran dari tadi."
Calvin menatap keluar. Ia berjalan perlahan mengikuti suara tawa Sandra. Ia melihat Sandra berdiri dengan kedua kakinya. Ia memakai hotpants sehingga kaki jenjangnya dapat terlihat dengan sempurna. Ia mengerutkan keningnya.
"Ehem.."
Sandra berbalik dan terkejut melihat Calvin dibelakangnya. Ia dengan cepat menutup telepon.
__ADS_1
"Bukannya kamu sakit? Kok keliatan gak sakit."
"Tadi dokter Toni ngasih obat penahan sakit."
Calvin mengerutkan keningnya."Secepat itu?"
"Bukan kamu yang ngerasain. Tapi aku!" sahut Sandra sambil berjalan masuk kedalam. Terlihat ia masih sedikit pincang ketika berjalan.
"Mau kemana?" seru Calvin
"Mau kekamar."
Calvin menarik baju Sandra.
"Apaan sih?" tanya Sandra marah.
"Masakin aku makan malam. Aku belum makan."
"Aku bukan pembantu kamu!" elak Sandra.
"Aku gak bilang kamu pembantu. Aku cuma pengen kamu masak."
Calvin mendorong Sandra ke dapur.
Sandra tiba-tiba gugup. Ia membalikkan badannya "Vin, sebenernya gini..Emm.. waktu dulu itu, kan ceritanya aku masih kecil. Aku kan ikut sama mama ke pasar, trus waktu itu.."
Calvin mengangkat alisnya. "Aku baru tau kalo alasan buat seseorang masak itu banyak banget. Aku gak butuh alasan kamu. Aku cuma pengen makan."
"Aku, aku gak bisa masak." jawab Sandra lantang.
"Trus tiap pagi kamu bantuin mama itu apa?"
Sandra tersenyum pendek. "Aku cuma bantu cuciin piring aja."
"Walaupun kamu gak bisa masak, aku tetep suka kok.." Ucap Dean sambil merangkul bahu Sandra. Ia menatap kakaknya yang kini menatapnya dengan wajah merah. Calvin menatap tajam Dean.
Dean langsung tersenyum. Bisa-bisa uang jajan dari Calvin berkurang, pikirnya.
"Eh, aku pergi dulu ya. Ada janjian sama anak-anak." ucap Dean sambil berlari keluar. Terdengar suara mobil berbunyi. Mereka dapat mendengar Dean pergi dengan terburu-buru.
"Kamu harus diajarin Alena masak!" ucap Calvin sambil menatap Sandra tajam.
"Gak ada yang ngelarang aku gak bisa masak." seru Sandra.
"Ada! Aku!" jawab Calvin tak kalah.
"Eehhh,,, ditinggalin orangtua malah ribut." seru Anita ketika ia baru saja masuk kedalam rumah. Ia menatap Sandra dan Calvin. "Kalian ini kenapa? Ada masalah apa sama kalian?"
Sandra tersenyum malu. "Enggak, Tante. Lagi ngobrol aja tapi kebetulan nada kita tinggi."
Calvin langsung melirik Sandra. Tatapannya mengancam. Tiba-tiba Calvin membawa Sandra keatas.
"Kita pergi. Cepet ganti baju yang bener." bisik Calvin.
"Kemana?" tanya Sandra.
__ADS_1
"Ketemu Alena." jawab Calvin sambil menariknya ke lantai atas. "Kita ketemu dibawah 10 menit lagi. Tanpa protes titik." ucap Calvin sambil membuka pintu kamarnya.
"10 menit?" tanya Sandra terkejut. Belum sempat ia protes, pintu kamar Calvin sudah ditutup rapat.