
Belum sempat ia melihat kesakitan Sandra, tiba-tiba terdengar pintu darurat kembali terbuka dengan kencang. Pria itu keluar sambil berlari namun langkahnya terhenti ketika melihat Calvin ada didepannya. Wajah Calvin memerah menahan amarah yang memuncak saat itu juga. Ia menghampiri Andre dan menarik kerah bajunya sambil berteriak. “br***ek!! Kamu ngapain calon istri aku!” Calvin mulai memukuli Andre dengan membabi buta. Andre sempat melawan dan memukul wajah Calvin.
"Kalo bukan karena Sandra! Aku gak mau kerja ditempat ini!" seru Andre. Ia memegang bibirnya yang mulai terasa mengeluarkan darah.
"Just Shut Up!!!!" jawab Calvin marah. Ia mulai melayangkan tinjunya ke perut Andre hingga pria itu terpental dan menabrak tong sampah yang tak jauh darinya. Ia mulai menarik kembali kerah baju Andre.
Sandra berjalan menghampiri Calvin dan memeluknya dari belakang. “Cukup Vin, Andre bisa mati dan kamu bisa masuk penjara.”tangis Sandra. Perlahan ia melepaskan kedua tangannya yang memegang kerah kemeja Andre.
Ketika terdengar keributan, kedua satpam itu menghampiri mereka. “Ada apa pa?”
“Bawa orang ini kekantor polisi. Cepat!”teriak Calvin. Ia masih tidak melepaskan pelukannya pada Sandra. “Sandra..”ucapnya. Tubuh Sandra lemas. Jika saja ia lepaskan, mungkin Sandra sudah jatuh dilantai. “Sandra, bangun.”teriaknya. Namun Sandra sudah kehilangan kesadarannya. Calvin langsung membawanya kerumah sakit.
Bau alkohol membuat Sandra tersadar. Ia terkejut ketika melihat Calvin. Suasana disana lumayan banyak yang berlalu lalang. Sedangkan Sandra harus sedikit mengingat-ingat apa yang terjadi.
”Aku dimana?” bisiknya pelan.
__ADS_1
Calvin memegang tangannya. “Tenang Sandra, kamu dirumah sakit.”
Sandra ingin bangun dan Calvin membantunya bangun. Ia tidak mau menyandar karena ia merasakan punggungnya sakit.
"Udah lama aku gak sadar?" tanya Sandra.
"Kalo diitung dari kantor udah lumayan lama. Kita baru nyampe sini 10 menit yang lalu. Suster lagi ambil sesuatu sekalian mau ngecek seluruh badan kamu."
Seorang suster datang membawa perlengkapan untuk mengobati memar ditubuhnya. “Ada tubuh yang terluka selain tangan dan kaki?”
“Bisa dibuka bajunya?”tanya suster itu.
Sandra melihat kesekitarnya. Banyak orang disekitarnya. Padahal ia tertutup gorden rumah sakit, tapi ia tetap malu. Suster itu tersenyum. Iapun menatap Calvin yang terlihat salah tingkah.
“Biar ditutup suaminya aja. Kalau bajunya gak dibuka gimana saya bisa lihat?” ucap Suster itu.
__ADS_1
Calvin sedikit kikuk. Tapi ia tidak ada pilihan lain. Calvin langsung berdiri didepan Sandra. Ia tidak menatap Sandra ketika membuka pakaiannya.
“Wah, ini bukan memar lagi ya.” Ujar suster itu. Karena penasaran, Calvinpun melihat punggung Sandra. Ia terbelalak. “Sandra, kamu diapain sama b*****gan itu sampe kayak gitu?”
“Badan aku dibanting kekursi. Ah,.”jelasnya sambil beberapa kali meringis karena sakit. Ia langsung melingkarkan tangannya dipinggang Calvin.
“Tahan Sandra.”
Sandra tidak menjawabnya. Ia hanya terus meringis kesakitan. Calvin membelai rambut Sandra. Untung ia datang tepat waktu. Jika handphone nya tidak tertinggal, ia pasti akan terlambat mengetahui jika Sandra datang ke kantornya.
Sebenarnya Sandra bisa pulang kerumah. Tapi ia memutuskan tinggal di rumahsakit. Beberapa saat yang lalu, Alena dan Dave mengunjunginya. Alena yang baik hati begitu cemas melihat sahabatnya sakit. Sesekali ia memeluk Sandra.
Kini ia sendiri. Tadi setelah berdebat panjang dengan Calvin, pria itu pergi. Sandrapun menghubungi kedua orangtuanya agar tidak khawatir. Tapi tetap saja, kedua orangtuanya dan kedua orangtua Calvin datang ke rumah sakit dengan cepat.
Calvin masuk kekantornya dengan kesal. Ia langsung berjalan menuju ruangan cctv. “Putar video kemarin malam antara jam 10.20 sampai jam 11.15.” perintahnya
__ADS_1
“Baik pa.” Jawab pengawas cctv.