
“Kamu seneng ketemu mereka?”tanya Calvin ketika mereka tiba di apartemen Sandra. Ia membawa tas jinjingnya masuk. Ia mulai menyalakan beberapa lampu. Ia merasa sudah seperti rumahnya sendiri. Ia bahkan tahu dimana letak lampu padahal ia baru satu kali ke apartemen Sandra.
“Ya, apalagi candaan mereka bikin aku kangen. Ternyata mereka masih sama kayak dulu.” Jawab Sandra sambil tertawa. Ia duduk di sofa karena merasa lelah.
Calvin berjalan mengikutinya dan ia tertarik pada sebuah pintu yang terlihat berdampingan. Iapun menghampiri pintu itu dan membuka pintu sebelah kiri. Kamar itu cukup besar. Ada sebuah ranjang besar dan meja rias. Ia dapat meyakini itu adalah kamar mereka. Ia tersenyum puas. Kemudian ia membuka pintu satu lagi. Kamar itu sama luasnya dengan kamar tadi. Hanya saja ia merasa tidak asing dengan baunya. Ia melirik pada Sandra yang sedang menutup matanya. Ia terlihat lelah. Iapun berjalan dan membuka jendela beranda. Ia mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya. Pemandangan kota terlihat jelas olehnya.
Setelah menghabiskan rokoknya, ia masuk kembali kedalam. Ia sedikit terkejut melihat Sandra telah menyiapkan minuman untuk mereka berdua.
"Wah, thank you sayang udah buatin kopi." goda Calvin. Sandra hanya melotot karena ia paling tidak suka panggilan itu.
Sandra memberikan selembar kertas padanya. Calvin mengambilnya dan menatap Sandra. "Apa ini?"
"Perjanjian pranikah kita. Kamu udah tanda tangan disitu." jawab Sandra.
Calvin membacanya keras. "Perjanjian pranikah. Pertama, tidak boleh melarang kamu buat bekerja sebagai asisten director dikemudian hari. Oke, aku setuju. Aku gak mau membatasi ruang gerak kamu selama jadi istri aku. Kamu bebas melakukan apapun dengan sepengetahuan aku. Trus kedua, selama kamu belum siap dan kita masih belum meyakinkan perasaan masing-masing, kita tidur dikamar berbeda." Calvin langsung menatap Sandra penuh tanda tanya.
"Karena pernikahan bukan cuma tidur bareng aja." jawab Sandra cepat.
"Tapi ini gak bisa.."
"Bisa, kamu yang bilang kalo kita gak cinta satu sama lain. Aku gak mau tidur sama orang yang enggak aku cintai. Jadi semuanya akibat ucapan kamu sendiri." jelas Sandra.
Calvin menghela nafas sejenak. Ia kecewa dengan poin nomor dua. "Tapi aku yakin gak akan lama." ucapnya sambil tersenyum. Kemudian ia membaca kembali poin terakhir. "Tidak ada orang ketiga diantara kita. Kalo suatu saat ada orang ketiga antara kita, kita divorce? Apa gak terlalu kejam banget Sandra. Masih ada kesempatan kedua dan ketiga kan?"
Sandra melipat kedua tangannya didada. "Jadi kamu ada planning buat selingkuhin aku?" tanya Sandra.
__ADS_1
Calvin menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Gak mungkin aku selingkuhin kamu. Aku laki-laki yang setia."
"Kalo gitu kamu pasti setuju kan poin nomor tiga. Aku paling gak suka diselingkuhin. Gak ada alasan lain. Kalo aku mergokin kamu sama perempuan lain, atau kamu ketahuan ada affair sama perempuan manapun, kita berpisah sesuai perjanjian."
Calvin menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia memikirkan wanita itu, bagaimana jika ia kembali?
"Kenapa?" tanya Sandra bingung. "Kamu gak setuju? Jangan-jangan kamu memang punya wanita lain dibelakang aku?"
Calvin terdiam. Ia menatap Sandra.
"Kenapa?" tanya Sandra.
"Kita belum kasih selamat masing-masing." ucap Calvin. Ia menatap Sandra. "Aku mau hadiah."
Calvin langsung menarik bahu Sandra dan memeluknya dengan erat. "Happy wedding, Cassandra.." bisiknya.
Sandra mengerutkan keningnya. "Kamu baru sekarang manggil nama aku lengkap." ucap Sandra senang.
"Thank you for marrying me.." ucap Calvin kemudian.
"Your welcome." jawab Sandra sambil tertawa. Calvin langsung mendekatkan wajahnya. Kedua tangannya menangkup wajah Sandra. Sesaat Sandra terhipnotis dan ia menutup matanya ketika Calvin mengecup bibirnya dengan mesra. Jantungnya mulai berdebar dengan kencang.
Calvin tersenyum ketika melihat Sandra masih menutup matanya sesaat setelah ia melepaskan diri.
"Masih mau bohong kalo perasaan kamu sama aku belum hilang?" goda Calvin.
__ADS_1
Sandra langsung membuka matanya dan refleks langsung mundur. "Siapa yang bohong, kamu yang terlalu mendadak."
"Jadi kamu mau yang pelan-pelan?" goda Calvin.
Sandra langsung berdiri dan berjalan kekamarnya.
"Enak aja!"
"Trus kamu mau kemana?" tanya Calvin sambil berdiri.
Sandra setengah berlari ke kamarnya. "Aku capek, mau tidur. Bye. Kamar kamu di sebelah."
Calvin bingung. “Loh, San.. jangan gitu dong. Harusnya ini malam pertama kita!”teriak Calvin sambil terkekeh.
“Malam pertama aja sana sama guling.” Teriak Sandra dari dalam kamar. Ia menutup kamarnya dengan cepat.
Sandra berdiri dibelakang pintu dengan jantung berdebar. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Calvin keluar dari ruangannya dan duduk kembali di beranda. Ia mengeluarkan kembali rokoknya dan menghisapnya perlahan. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam tapi jalanan masih sangat ramai. Terdengar suara handphonenya berbunyi. Ia menatap sekilas.
"Halo.." jawabnya.
"Sayang, aku udah dapet tiketnya. Bulan depan aku pulang." ucap Dinda senang.
Calvin menutup teleponnya dan terdiam.
__ADS_1