
Calvin melangkah memasuki gedung perusahaannya pagi itu. Banyak karyawannya yang mengangguk dan memberikan ucapan selamat padanya. Amara, sekretarisnya datang menghampirinya ketika ia melihat Calvin membuka pintu ruangannya.
"Gimana Vin, setelah pernikahan?" goda Amara.
"Apanya yang gimana?" tanya Calvin sambil menyimpan tas kerjanya. Ia membuka jas dan memberikannya pada sekretarisnya.
"Iya, gimana kehidupan kamu setelah menikah?"
"Biasa aja. Gak ada yang spesial. Sama aja kayak dirumah." jawab Calvin malas.
Amara mengerutkan keningnya. "Loh, kok bisa?"
Calvin menatap Amara. "Aku lagi pusing, tante."
Amara duduk didepannya. "Ada apa?"
"Tante inget designer yang dulu pernah kesini?"
Amara sedikit mengingatnya. "Yang waktu itu bilangnya datang kesini terakhir kali? Padahal waktu itu kamu belum jadi direktur disini."
"Iya, perempuan itu."
"Kenapa?"tanya Amara.
"Dia mau pulang kesini. Sekarang aku pusing."
Amara terkejut. "Wah, bahaya Vin. Perempuan itu nekat. Kamu harus hati-hati. Jangan sampai Sandra tahu."
"Justru itu. Aku gak mau Sandra tau."
"Emangnya waktu itu kalian belum putus?"tanya Amara bingung.
"Tante, waktu itu aku cuma bisa berpikir buat dia menjauh. tapi salahnya aku, aku gak mutusin dia. Tante inget gak dia sempet perawatan dokter selama 3 tahun gara-gara depresi?"
__ADS_1
"Tante inget. Kamu sampe mengorbankan hati kamu."
"Jadi aku harus gimana?"tanya Calvin bingung.
Amara menatap Calvin. "Kamu harus jujur sama Sandra. Apapun jawabannya kamu harus terima."
Calvin menggelengkan kepalanya. "Aku gak bisa, Tante. Dia gak akan terima. Aku gak mau pisah sama Sandra. Kita masih baru jadi pengantin. Aku gak siap harus kehilangan Sandra."
"Ya kalo kamu gak mau jujur, kamu harus terima konsekuensinya. Kamu gak akan tenang dimanapun kamu berada."
Sandra melihat jam tangannya. Pukul satu siang. Setelah membereskan pekerjaan rumahnya, ia pergi untuk bertemu Mr. Jung untuk membicarakan tentang proyek terbaru. Akhirnya ia akan kembali mendapatkan perkerjaannya yang ia suka. Ia harus berterimakasih pada Andre yang sudah pulang ke korea. Karena Andre lah, ia bisa kenal dengan produser ternama korea.
Iapun pergi menuju sebuah studio dimana orang yang akan ditemuinya itu berada. Rasa senangnya tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ia senang sekali.
Ketika sampai distudio, ia terkejut melihat beberapa tim produksi asli korea yang ia kenal berada disana.
"Sandra!"panggil mereka.
Sandra melambaikan tangannya. Ia berlari menemui mereka dan saling berpelukan. Setelah berbincang beberapa waktu, ia mulai mengetahui arah pembicaraan. Produser itu akan membuat acara yang diadaptasi oleh acara korea tanpa menghilangkan budaya indonesia didalamnya. Dan teman-temannya itu ada disana sebagai tim dari korea. Sebuah kebetulan yang membuatnya senang.
Sandra sedikit naik darah ketika mendengarnya. "Kamu menghina aku?" tanya Sandra marah.
"Loh, kamu belum ada pengalaman bekerja disini tapi kamu mau ikut terlibat." jawab pria itu.
"Aku bisa buktiin kalo aku bisa!" jawab Sandra lantang.
Pria itu hanya tersenyum sinis dan berjalan menjauhinya.
"Jangan panggil aku kalo suatu saat kalian butuh!" teriak Sandra kesal.
"Kenapa?" tanya Calvin beberapa waktu kemudian. Calvin menjemputnya distudio ketika Sandra menghubunginya. Dari nada bicaranya ia tahu jika Sandra sedang kesal.
"Director itu ngehina aku, Vin." jawab Sandra kesal.
__ADS_1
"Berarti kamu gak cocok sama pekerjaan itu. Aku udah bilang, mending kamu gak usah kerja. Aku sanggup kok biayai semua kebutuhan kamu."
"Kamu itu sebagai suami harusnya mendukung istri." protes Sandra.
Calvin tersenyum. "Iya istriku, aku dukung." ucap Calvin membuat wajah Sandra memerah. Mereka langsung terdiam. Calvin mulai fokus pada jalannya padahal dalam hatinya ia merasa tidak tenang.
Calvin membawa mobilnya menuju apartemen. Ia teringat sesuatu. "Sandra, ada yang mau aku omongin sama kamu."
"Apa?" tanya Sandra bersemangat. "Kamu mau ajak aku belanja?"
"Dimana-mana semua perempuan itu matre." jawab Calvin sambil menggelengkan kepalanya.
"Matre sama suaminya sendiri itu wajar asal gak berlebih." bela Sandra.
Calvin menghentikan laju mobilnya. "Jadi kamu mau belanja apa?"
Sandra menatap Calvin sambil tersenyum. "Yang pasti aku mau habisin uang kamu. Aku mau penuhin kulkas sama makanan."
Calvin tertawa. Padahal yang ada dibenaknya adalah pergi ke mall dan membeli beberapa pakaian atau keperluan Sandra. Tapi ternyata Sandra hanya mementingkan perut mereka.
"Kamu gak mau?"tanya Sandra.
"Mana mungkin aku gak mau. Kita pergi sekarang." jawab Calvin sambil memutar mobilnya. "Oh iya, minggu depan aku harus pergi buat kerjaan. Kamu bisa sendiri kan?"
"Mau pergi kemana?"tanya Sandra
"Bali. Kamu bisa sendiri kan? Tidur tanpa aku?"goda Calvin
Sandra tertawa. "Kamu itu tidurnya dikamar sebelah. Buat apa tanya gitu?"
"Aku pengen ngikutin Dave kalo lagi ngegodain Alena." jawab Calvin.
"Kamu gak cocok Vin." ucap Sandra sambil tertawa. "Eh, kamu mau ngomong apa tadi?"
__ADS_1
Calvin menggelengkan kepalanya. "Gak jadi. Nanti aja."jawabnya.