Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )

Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )
Debat pertama


__ADS_3

Sandra menyandar dikursi depan mobil Calvin. Mereka dalam perjalanan pulang kerumah.


"Pekerjaan kamu itu terlalu beresiko. Kamu udah liat dengan jelas kalo gak ada yang nolongin kamu disana." ucap Calvin.


Sandra menoleh ke jendela. Ia tidak mau berdebat karena ia memang salah.


"Gak mau ngomong? Untung aku dateng disaat yang tepat. Kalo enggak mungkin kamu udah jadi bahan bully semua orang."


"Iya, tapi karena peristiwa tadi aku semakin tertantang. Daniel itu pendatang baru. Dia butuh sesuatu yang bisa buat dia viral. Untung tadi gak kamu pukul. Kalo sampe keliatan kamu pukul, kalian berdua bisa masuk tv. Yang pusing nanti aku."jelas Sandra.


Calvin hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau berdebat ketika ia sedang menyetir. Ia akan menunggu sampai ia tiba ke apartemen.


Beberapa kali ia mendapatkan telepon dari nomor luar. Tapi ia tidak mau mengangkatnya karena ia tahu siapa yang menghubunginya. Ia menoleh pada Sandra yang masih sibuk dengan dunianya sendiri. Ia terlihat sedang memfoto jalanan diluar yang sedang macet. Tepat sekali, ini jam pulang kantor. Ia tidak tahu sampai apartemen pukul berapa. Beruntungnya ia tidak kesepian berada diperjalanan.


"Aku puter CD nya ya? Ada lagu apa aja?" tanya Sandra sambil memijit remot CD. Beberapa playlist muncul. Ia tertarik ketika melihat playlist berjudul memories. Ia membukanya dan tertegun melihat isi playlist.


"Kenapa?"tanya Calvin. Ia melihat Sandra yang masih terdiam.


"Hey, kenapa?"tanyanya lagi.


"Vin, ini isi CD nya mirip sama CD yang aku kasih ke temen aku. Kenapa ada dikamu? itu ada suara akunya." tanya Sandra bingung.


"Oh, itu suara kamu? Manis ya?" goda Calvin.


"Kenapa ada dikamu, Vin?"tanya Sandra bingung.


"Ya waktu itu ada yang ngasihin ke aku. Pulang dari latihan basket." jawab Calvin sambil tersenyum.

__ADS_1


"Mana mungkin? Aku pikir CD ini gak akan nyampe ke kamu."


"Buktinya ada di aku. Waktu itu aku juga gak ngerti. Tau-tau ada ditas aku." jawab Calvin berbohong. Justru ia mendapatkan barang-barang pemberian Sandra dirumah Dinda ketika ia tanpa sengaja menjenguk wanita itu.


"Sandra, kita cari makan dulu. Aku belum makan." ucap Calvin mengalihkan pembicaraan.


"Enggak! Kita makan dirumah. Aku udah nyiapin sesuatu." jawab Sandra cepat.


Mereka baru sampai di apartemen 2 jam kemudian. Jalanan begitu macet. Calvin menyeret tas yang ia bawa dari Bali tadi pagi. Ketika masuk kedalam, Sandra menyeret Calvin ke kamarnya.


"Ganti baju, mandi, nanti pas keluar makanan udah siap."ucap Sandra.


"Terimakasih istriku." goda Calvin sambil membuka pintu kamarnya.


Sandra langsung berlari kedapur. Ia mulai menyiapkan bahan makanan yang telah ia beli tadi pagi di pasar tradisional. Ia hanya tinggal memasak sebentar karena tadi pagi ia sudah memotong bahan makanan.


"Aku beliin kamu baju pake kartu yang kamu kasih ke aku." jawab Sandra sambil tertawa.


Calvin hanya mendesah, ia pikir Sandra berbelanja untuknya sendiri. Ternyata Sandra membelikannya banyak pakaian.


Beberapa menit kemudian. Sandra menatap masakan didepannya. Ia tidak merasa itu makanan yang enak. Setidaknya ia sudah berusaha. Ia memang tidak jago seperti Alena. Ia masih harus belajar. Pintu kamar Calvin terbuka. Ia keluar dengan rambut basahnya. Sandra sesekali menunduk. Ia merasa malu melihat Calvin seperti itu.


Calvin menghampiri Sandra dan duduk dikursi makan. Ia menatap menu makanan yang tidak terlalu menarik. Ia menatap Sandra yang sedang melihatnya dengan was-was.


"Kenapa?"tanya Calvin.


"Please Vin, Jangan komentar jelek soal masakan aku. aku emang gak sehebat Alena. Aku nukan koki, jadi gak bisa buatin kamu makanan enak." ucap Sandra malu.

__ADS_1


"Keliatan enak kok." jawab Calvin. Ia mulai memakan makanan yang sudah tersedia didepannya. Ia tahu Sandra tidak bisa memasak


Tapi melihatnya malam ini, ia merasa sangat senang sekali.


Setelah selesai makan, Calvin membawa Sandra untuk berbincang di beranda. Mereka sama-sama duduk di ayunan yang mengarah keluar.


"Sekarang aku mau serius sama kamu." ucap Calvin.


"Apa?"


"Demi kebaikan kita bersama, aku minta kamu mengundurkan diri dari pekerjaan kamu." ucap Calvin tegas.


"Aku gak mau!"protes Sandra cepat. "Poin perjanjian pranikah kita ditulis tantang hal ini. Kamu gak bisa larang aku buat bekerja."


"Aku gak larang kamu bekerja. Kamu mau kerja apapun aku ijinkan. Tapi please, jangan disana lagi. Aku kasian sama kamu"


"Aku gak mau, ini passion aku. Director acara itu teman aku!"


"Buktinya dia gak pernah ada disini.."


"Pokoknya aku gak mau! Aku gak bisa keluar dari sana.." ucap Sandra dengan nada tinggi.


"Kenapa? Kamu punya pacar disana?"goda Calvin.


"Jaga bicara kamu! Aku cuma mau kerja disana titik!"


"Terserah, aku cape kasih tau kamu. Semua suami pasti bakal ngelakuin hal yang sama kok." serunya kesal. Ia masuk kedalam kamarnya dengan membanting pintu. Sandra hanya terdiam. Ia kembali duduk di ayunan tanpa menoleh kembali ke belakang.

__ADS_1


__ADS_2