
“Al,sorry ganggu kamu. Kamu lagi tugas?” tanya Calvin ketika ia bertemu dengan Alena di rumah sakit tempat Dinda dirawat.
“Ada sesuatu? Kenapa mendadak pengen ketemu aku?”tanya Alena bingung. Pagi ini ia mendapat telepon dari Calvin yang mengajaknya bertemu. Sejak kemarin-kemarin ia sedikit aneh pada Calvin. Ia melihat Calvin tajam. Ada sesuatu yang disembunyikannya.
“Kamu lagi ada pasien?” tanya Calvin.
Alena melihat jam tangannya. “Ada jam satu. Sekarang aku bebas. Kamu mau ngomong apa? Apa menyangkut Sandra?”
Calvin menggelengkan kepalanya. “Bukan sama sekali. Ini soal karyawan aku.” jawabnya.
Alena sedikit curiga. “Karyawan?”
“Sebenernya aku penasaran sama dokter yang sekarang ngerawat dia.” ucap Calvin.
“Emang dokter siapa yang kamu maksud?”
“Dokter itu yang waktu ribut sama Dave. Kamu inget?”
Alena terkejut. “Dokter Ivan? Emang dia kenapa?”
Calvin terdiam sejenak. Ia kembali berkata. “Dokter itu yang merawat karyawan aku. Apa dokter itu aman?”
__ADS_1
“Aman?”tanya Alena. “To the point aja, Vin. Kamu sebenernya ketemu aku buat nanya apa?”
“Iya, karyawan aku hampir bunuh diri beberapa hari yang lalu. Yang aku liat, dokter itu yang merawat dia. Setau aku, dokter itu berbahaya.”
“Kamu cemas sama dokternya atau cemas sama karyawan kamu?” tanya Alena tajam. Ia lebih menekankan nada pada perkataan karyawan pada Calvin.
“Aku cemas sama keduanya.”
Alena menggelengkan kepalanya. “Dengerin aku, dokter Ivan udah berubah jauh jadi lebih baik. Kamu pasti gak percaya. Tapi dia dateng waktu nikahan aku. Dan semuanya baik-baik aja.”
Calvin merasa lega setelah mendengar penjelasan Alena.
“Orang yang kamu obrolin udah dateng tuh!” Ucap Alena pada Calvin. Alena melambaikan tangan pada seseorang di belakangnya.
“Dokter, ini temen saya. Tadi dia nanyain tentang karyawannya yang hampir bunuh diri beberapa hari kemarin.” ucap Alena.
Dokter Ivan tampak berfikir. “Dinda? Bukannya Dinda itu designer?”
Calvin langsung gugup. Ia tersenyum. “Sebelumnya dia karyawan aku.” jawabnya.
Alena langsung mencurigai Calvin. Ia semakin yakin ada yang disembunyikan olehnya.
__ADS_1
“Dinda udah pulang kok. Aku takjub sama kekuatan bertahan Dinda. Dia kehilangan darah itu banyak, tapi dia bisa bertahan lama. Tekanan darahnya waktu itu udah menurun drastis. Aku gak ngerti lagi.” jelas Ivan.
Calvin mendengarkan penjelasan dokter di sampingnya. Ia telah berubah. Semua ucapannya masuk akal. Ia bisa tenang. Tapi kemudian dokter itu berbicara kembali.
“Tapi dia itu kasian juga. Di usianya yang masih muda, dia udah kehilangan kedua orangtuanya. Dia menderita depresi. Walaupun masih ringan, tapi membahayakan juga.”
“Depresi?” tanya Alena terkejut.
Calvin tidak perlu terkejut karena ketika pertama kali Dinda merasa depresinya kambuh, ia yang ada disamping wanita itu.
Sandra duduk malas dibangku belakang cafe Firly. Sejak di apartemennya tidak ada pekerjaan, ia sering datang ke cafe milik Firly dibanding cafe milik Alena. Karena Firly ada ditempat sedangkan Alena tidak ada. Ia melihat beberapa orang masuk kedalam cafe hanya untuk nongkrong. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa karena cafe itu dekat dengan kampus. Dan ia juga melihat Firly sedang sibuk melayani tamu.
Minumannya sudah habis dua gelas dan ia masih merasa bosan. Ia ingin bekerja. Jika membosankan seperti ini, ia ingin kembali saja ke korea. Tapi ia sudah menikah. Ia bimbang. Terdengar olehnya suara orang-orang yang tertawa. Ia melirik sekilas pada orang-orang yang baru saja masuk dan duduk di meja yang berada disamping Sandra.
Para gadis belia yang mungkin masih mahasiswa jurusan design karena mereka membawa buku-buku sketsa dan peralatan tulis yang lengkap. Mereka seperti sedang membahas sesuatu. Sandra mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Sandra mengangguk-angguk mendengarkan cerita mereka mengenai seorang desainer yang baru saja pulang untuk berkarya disini.
“Liat, namanya pendek. Tapi karyanya masterpiece.” ucap salah seorang gadis yang memakai kacamata berbingkai merah.
“Ini desain terakhir dia waktu pameran di paris.” ungkap satunya.
“Dinda memang luar biasa.” jawab seseorang lagi yang berbeda.
__ADS_1
Sandra mulai tertarik. Dinda?