Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )

Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )
Jealous


__ADS_3

Calvin terus menatap Sandra dari kursi kerjanya. Mendengar ucapan ayahnya tentang pengunduran diri Sandra membuatnya sangat terkejut. Hati kecilnya ia tidak mau kehilangan Sandra diperusahaan ini.


"Masih belum mau ngomong?" tanya Calvin. Iapun berdiri dan duduk dimeja kerjanya. Kedua tangannya dilipatkan didadanya.


Sandra menatap Calvin. "Passion aku enggak disini. Aku mau balik lagi kerja jadi asst. director" jawabnya.


Calvin tertawa hambar. "Asst. Director apa? Acara-acara TV gak jelas itu?" tanya Calvin dengan nada tinggi.


"Aku gak peduli acara yang kamu bilang gak jelas itu. Tapi itu profesi aku sebelumnya. Passion aku disitu!"


Calvin mengerutkan keningnya. "Aku gak percaya. Pasti ada alasan lain." Ia menghampiri Sandra dan duduk disampingnya.


"Itu memang salah satunya." jawab Sandra gugup.


Calvin menggeser duduknya. Ia sekarang hanya berjarak beberapa senti saja. "Yang utamanya apa?"


Jika ia mengatakan semuanya, karyawan disini pasti kena imbasnya. Ia tidak menginginkan hal itu terjadi. Seperti semula, semua karyawan disini butuh pekerjaan.


"Jawab!" seru Calvin sambil menyondongkan tubuhnya. Sandra menatap Calvin terkejut. Ia mundur hingga kepalanya berada disandaran sofa.


"Masih gak mau jawab?" tanya Calvin sambil terus mendekat.


Sandra menutup matanya. Ia ketakutan pada sikap Calvin.


"Kalo gak jawab, aku cium sekarang." godanya.


"Iya, iya aku jawab. Aku gak kuat denger obrolan karyawan disini. Mereka ngomongin aku dibelakang. Mereka bilang semua laki-laki disini alih perhatian gara-gara ada aku. Jangan kan karyawan, bos perusahaan ini juga sama. Mereka bilang aku p*lac*r!"ucap Sandra dengan mata berkaca-kaca.


"Siapa yang bilang?" tanya Calvin marah.


"Ada. Aku gak akan bilang siapa orangnya." jawab Sandra kesal.


"Aku kasih pelajaran." seru Calvin sambil berdiri. Sandra menarik baju Calvin. "Jangan Vin. Lagian aku bener-bener mau ngundurin diri. Passion aku bukan disini."


"Trus gimana sama Andre itu? Siapa nanti yang lindungin kamu kalo gak ada aku?" tanya Calvin marah.


Dada Sandra sedikit bergetar mendengar ucapan Calvin. "Aku bisa jaga diri." jawabnya sambil menunduk.


"Jangan dulu keluar sampe pernikahan Alena bulan depan. Kamu juga belum nyari kerja. Emang kamu mau ke PH mana? Kamu punya kenalan disini?" tanya Calvin.


"Aku belum tau. Tapi temen aku yang dikorea mau ngenalin aku sama director disini."


"Tahan dulu, tunggu sampe pernikahan Alena. Waktu kita padat buat bantu mereka."

__ADS_1


"Tapi Vin, aku bingung. Bulan depan aku operasi kaki. Apa aku masih bisa ikut acara pernikahan mereka?" tanya Sandra.


Calvin menatap Sandra. "Bisa.."


Calvin dan Edward yang baru saja tiba dari Singapura menunggu Sandra dilobi. Edward tahu ketika Calvin membicarakan tentang kejadian tadi siang. Mereka tiba-tiba penasaran siapa yang berkomentar jahat pada mereka. Untuk itulah ia sengaja diam dilobi dan menunggu Sandra keluar dari lift. Sekarang saatnya jam pulang. Pasti banyak karyawan yang melihat mereka berdua. Beberapa resepsionis menatap Calvin dan pria disampingnya Mereka berbisik sesuatu. Calvin hanya menunduk dan melihat handphonenya. Ia menghubungi Sandra.


"Jangan langsung ke basement. Aku tunggu dilobi." ucap Calvin.


"Sekarang keliatan kayak calon suami yang perhatian." goda Edward.


"Temenan. Kita berteman Ed." jawab Calvin.


"Kuat berapa lama?" goda temannya lagi.


Calvin hanya diam.


Tidak perlu menunggu lama. Sandra keluar dari lift bersama dengan pria asing itu dan beberapa temannya. Ketiga lift terbuka bersamaan. Para karyawannya rata-rata wanita. Edward berdiri menghampiri Sandra.


"Sandra!" panggil Edward.


Sandra menoleh. Ia melambaikan tangannya pada Edward. "Halo Ed!" seru Sandra.


Ketika mendekat, Edward langsung memeluk Sandra. Para karyawan yang melihatnya langsung berbisik.


"Calvin cemburu tuh!" bisik Edward. Ia merasakan lengannya ditarik seseorang.


"Jangan macem-macem dikantor orang." ucap Calvin marah. Ia menatap karyawannya.


"Kalo diantara kalian ada yang berani berpikiran jelek soal Sandra, kalian akan rasain akibatnya." ancam Calvin.


"Vin, udah.." bisik Sandra. "Aku malu."


" Ini soal harga diri. Kamu jangan mau diomongin jelek sama mereka." jawab Calvin kesal.


Para karyawan yang melihat kemarahan Calvin langsung lari terbirit-birit.


Edward hanya tertawa melihat sikap Calvin. "Udah, udah.. kita harus nyusul ke cafe Alena sekarang." ucap Edward. Ia langsung mengalungkan lengannya dileher Sandra. "Kemon, pergi sekarang!"


Calvin menggeram kesal melihat Sandra dipeluk Edward. "Edward!!!!"


Ketika sampai di cafe milik Alena, mereka melihat Dave sedang memakai apron dan membantu pelayan lainnya. Edward dan Calvin takjub. Dave bahkan tidak pernah diam didapur. Ia jugatidak pernah melayani seseorang. Tapi demi Alena, semuanya bisa berubah. Mereka melihat Alena sedang sibuk dengan pesanan-pesanannya. Merekapun mencari tempat duduk sendiri. Sandra memilih tempat duduk disudut yang kebetulan kosong.


"Aku kesana dulu." ucap Sandra. Ia menghampiri Alena.

__ADS_1


"Al.."panggil Sandra.


"Eh, kapan datengnya?" tanya Alena.


"Barusan. Ada yang bisa aku bantu?" tanya Sandra. Ia melihat Alena begitu sibuk. Dave sampai turun membantu.


"Banyak yang belum diserving." ucapnya.


Sandra melipat kemejanya. Ia mengambil apron yang ada disamping Alena. "Coba mana? contohin aku bentar. Aku emang gak bisa masak. Tapi kalo serving aku jago." jawab Sandra.


"Makasih Sandra. Firly juga ikut bantu. Dia ada didapur. Aku gak ngerti malem ini yang dateng banyak banget. Kita sampe kewalahan."ucap Alena dengan nada lelah.


Hampir 4 jam Sandra dan Alena berkutik dibelakang apron nya. Mereka berdua kelelahan. Alena sedang dipijat kakinya oleh Dave. Sudah tidak ada karyawan dan pengunjung. Mereka berenam termasuk Firly.


"Aku pulang duluan ya Al. Dirumah masih ada bayi. Kasian." ucap Firly cepat.


"Iya, iya, kasian. Cepet pulang. Besok aku kerumah." jawab Alena cepat.


Sandra menatap Alena bingung. "Al, emang Firly udah punya anak?"


"Sebenernya bukan anak. Tapi ada seseorang yang harus dia urus." jawab Alena sambil tersenyum.


Sandra iri melihat sikap Dave pada Alena. Ia begitu sayang pada Alena. Tiba-tiba Edward mengangkat salah satu kaki Sandra. "Kamu pegel kan Sandra, biar aku pijit." ucapnya sambil melirik Calvin.


"Enggak..enggak.. aku gak pegel. Beneran." tolak Sandra.


"Ed, jangan macem-macem." seru Calvin dengan anda tinggi.


"Loh, marah?" tanya Edward. "Kalian kan temenan. Kenapa harus marah?"


Sandra menurunkan kakinya. "Udah Ed, jangan becanda terus. Calvin gak mau becanda."


Calvin menatap Sandra marah. "Kamu jangan mau digodain sama laki-laki lain. Harusnya kamu marah!" seru Calvin marah.


"Kok kamu malah salahin aku?" jawab Sandra kesal.


Dave dan Alena kebingungan.


"Kamu marah-marah terus dari tadi. Kalo kamu cemburu bilang aja! Edward cuma godain aku. Dia gak pake hati." seru Sandra kesal.


"Enak aja, aku gak cemburu. Cemburu itu artinya suka. Aku gak akan pernah suka sama kamu! Aku cuma peringatin kamu! Jangan gampang digodain sama laki-laki."


"Edward itu sahabat kamu. Mana mungkin aku percaya sama omongan Edward yang notabene seorang playboy. Dia itu becanda." jawab Sandra menggebu-gebu.

__ADS_1


"Loh, kok jadi bawa-bawa profesi aku?" tanya Edward pada Dave dan Alena. Ia menunjuk dirinya sendiri. Mereka bertiga tertawa. Sedangkan Calvin dan Sandra masih cemberut.


__ADS_2