
Sandra masih berkutik dibelakang komputernya. Hampir 2 minggu ia tidak bekerja. Kali ini ia benar-benar tidak peduli tatapan orang-orang padanya. Semuanya tahu jika ia akan menikah dengan Calvin. Dan sebelum ia mengundurkan diri hari ini, ia harus menyelesaikan pekerjaannya. Ia akan bertanggungjawab pada pekerjaannya. Calvin saja tidak tahu ia ada diperusahaannya. Jika ia tahu, Sandra yakin semua pekerjaannya akan berantakan. Ia akan menyusulnya. Apalagi sekarang Calvin sangat penurut. Ia teringat ketika malam itu ia menandatangani perjanjian dengannya. Tanpa sadar Sandra tersenyum.
Sandra harus lembur beberapa waktu lagi karena ia harus langsung memberikan datanya pada Calvin malam ini. Ia akan mengirimkannya melalui email. Ia melihat jam tangannya. Sudah menunjukkan pukul 9 malam. Datanya sebentar lagi selesai. Semuanya begitu mendadak. Beberapa hari lagi ia akan menikah. Rasanya aneh. Tiba-tiba ia teringat malam itu.
Calvin. Gara-gara ia membawanya ke kamar hotel, mereka harus menikah. Rencana pernikahan itu sudah mulai tersusun dan menurut mamanya, semuanya sudah siap 80 persen.
Calvin sedang bersama kedua sahabatnya di bar. Dave baru saja pulang dan Alena sedang mendapatkan tugas malam karena ia sedang melakukan operasi. Edward masih menggoda Dave dan bertanya tentang sesuatu yang bukan urusannya. Bukan sesuatu yang aneh. Begitulah Edward. Calvin meminum alkohol didepannya. Dan itu baru saja gelas pertama. Ia tidak mau mabuk malam ini. Jika ibunya melihatnya pulang dalam keadaan mabuk, entah bagaimana nanti ibunya akan bertindak.
Calvin mengodok saku jasnya. Ia tersadar handphonenya tidak ada dimanapun. Begitu pula dengan tas kerjanya. Ia menatap kedua sahabatnya.
“Kayaknya handphone aku ketinggalan dikantor. Aku pergi ke kantor dulu. ”ucapnya sambil berlari keluar. Kedua sahabatnya hanya menggelengkan kepalanya. Sudah sering Calvin melakukannya. Ia sedikit ceroboh.
Pekerjaan Sandra telah selesai. Ia mulai membereskan mejanya. Beberapa dus sudah ia siapkan. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 10 malam dan ia harus pulang. Iapun keluar dari ruangan dan berjalan menuju lift. Ia merasa kantor dilantai 9 sudah kosong. Ia mengeluarkan earphonenya dan mulai mendengarkan lagu
Ketika ia memijit tombol lift, tangannya ditarik keujung lorong dan dibenturkan dengan keras. Belum berteriak, ia sudah dibekam oleh seseorang.
__ADS_1
“Andre!”ucapnya terkejut. Ia tidak bisa berteriak karena tangan Andre begitu kuat menutup mulutnya. Matanya merah dan terlihat menakutkan.
“Wae no moya (Kenapa kamu lakukan itu)? Aku cinta sama kamu dari sejak kita kuliah dikorea. Wae? (kenapa?)”teriaknya marah. "Kenapa kamu menikah sama orang lain.” tambahnya. Ia menunduk dan hampir menangis.
Dengan ketakutan, Sandra berbicara. “Andre.. “
“Yaaa (Hey!!!)! Kamu gak mau sama aku, aku juga gak akan pernah mau kamu sama orang lain. Araseo? (mengerti?)" Iapunmulai sedikit liar. Andre memeluk dengan sangat erat tubuh Sandra. Ia tidak peduli ada dimana.
“Enggak Andre, aku mohon jangan! Kita sahabat selamanya. Aku sayang sama kamu sebagai sahabat." ucap Sandra sambil menangis. “Tolong.”Teriaknya kemudian.
Seakan tidak mendengar, Andre mulai membuka kancing kemeja Sandra paling atas. Kemudian ia menciumi leher Sandra yang terbuka. “Jangan, Andre!”Teriaknya sambil menangis.
Calvin memarkir mobilnya didepan kantornya. Ini sudah pukul 10 malam. Pasti sudah tidak ada karyawan disana.
“Selamat malam pa.” Ucap kedua satpam yang berdiri didepan pintu masuk.
__ADS_1
“Handphone saya tertinggal diruangan. Saya mau keatas.”
“Baik pa. Mau diantar pa?”
Calvin menggelengkan kepalanya. “Masih ada karyawan?”
“Masih ada dilantai 9 . ada 2 orang.”
Calvin membalikkan badannya. “Siapa?”
“Calon istri bapak dengan Andre Kim”
“Sandra?”ucapnya terkejut. Kedua satpam itu mengangguk. “Berani-beraninya dia bareng Andre diatas. Jangan-jangan..” Calvin berlari kearah lift. Pikirannya berkecamuk. “Mereka pacaran? Enggak, aku yang mau nikah sama Sandra.”
Ketika ia sampai didepan lift, pintu darurat terbuka dengan kencang. Sandra keluar dengan pakaian yang koyak. Wajahnya kesakitan. Rambutnya acak-acakan. Ia menangis. Disekitar lehernya ada tanda warna merah bekas kekerasan. Ia terlihat lega .
__ADS_1
“Vin, tolong aku.” ucapnya kesakitan. Ia berjalan perlahan menghampirinya.
note : Maaf uploadnya lama, banyak pertimbangan karena di bagian ini ada kekerasannya. Author bingung, kalo gak dimasukin gak akan rame ceritanya. 😌😌