Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )

Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )
Kejujuran diatas segalanya


__ADS_3

Sandra dan Calvin duduk di sofa berdampingan. Malam sudah larut tapi Sandra hanya ingin mendengar semuanya. Ada apa dengan Calvin hari ini. Ia berdiri untuk mengambil teh hangat untuk Calvin.


"Cerita sekarang Vin, aku nunggu kejujuran kamu malam ini." ucap Sandra sambil memegang tangan Calvin.


"Sandra, aku mohon kamu jangan marah. Aku gak ada niat buat ngebohongin kamu. Aku suka sama kamu, aku cinta sama kamu. Jadi aku mohon, setelah kamu denger semuanya, kamu jangan pernah tinggalin aku." ucap Calvin gugup. Tidak pernah sekalipun ia terlihat gugup didepan Sandra. Calvin adalah pria paling berani yang ia tahu. Buktinya ia berani menikahinya gara-gara skandal yang dibuat Edward.


"Ya, kenapa?" tanya Sandra.


"Tadi siang aku baru dapet telepon dari kakaknya wanita yang pernah aku obrolin sama kamu itu. Dia kasih kabar sama aku kalo wanita itu hampir bunuh diri setelah tau aku nikah sama kamu."


"Ya Tuhan" ucap Sandra sambil menutup mulutnya. Matanya membesar karena terkejut. "Sekarang gimana?"


Calvin masih memegang tangan Sandra. "Udah sadar pas tadi aku liat dia. Tapi aku gak nemuin dia, aku temuin kakaknya. Kakaknya juga udah tau aku nikahin kamu. Dia senang."


Sandra mengerutkan keningnya. "Kakaknya tau aku?"


Calvin menganggukkan kepalanya.


"Memangnya siapa wanita yang mau bunuh diri itu?" tanya Sandra penasaran.


Calvin menarik nafas perlahan. Ia mengencangkan pegangan tangannya pada Sandra. Sandra menunggu. Ia terus menatap Calvin.


"Dinda. Sahabat kamu waktu sekolah menengah dulu." jawab Calvin. Ia menatap perubahan wajah Sandra.

__ADS_1


Sandra melepaskan tangannya dan berdiri.


"Sandra.." panggil Calvin.


Sandra mengangkat tangannya untuk meminta Calvin diam. "Kasih aku waktu buat mencerna semua cerita kamu, Vin. Malam ini aku mau tidur sendiri. Jangan ganggu aku." ucapnya sambil berjalan ke dalam kamar. Ia menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya.


Calvin menutup wajahnya dan mengacak-acak rambutnya. Ia yakin Sandra tidak akan marah. Ia hanya shock pada kenyataan yang baru saja ia katakan.


Ya, Sandra cuma kaget aja, pikirnya memotivasi diri.


Sandra duduk disamping tempat tidur sambil memegang dadanya. Ia terkejut luar biasa. Ia pikir wanita yang dibicarakan Calvin adalah orang lain. Ternyata orang itu lagi. Sampai saat ini ia masih ingat bagaimana dengan liciknya Dinda membodohi dirinya yang masih polos saat itu. Dan ia masih ingat ketika di Bali, ia tertawa bahagia diatas penderitaannya. Mengapa ia dulu memaksa kedua orangtuanya agar ia bisa sekolah di korea? Itu karena ia tidak mau melihat sosok Calvin yang sudah menolak cintanya dan terutama wanita licik itu. Dinda. Orang yang pernah membuatnya patah hati karena tindakannya. Ia masih belum bisa melepaskan Calvin?


"Kak.."Panggil Dinda.


Dinda mengangguk. "Kak, Calvin belum kesini?" tanya nya.


"Dinda denger kakak, Calvin itu udah nikah sayang, dia udah punya keluarga. Saatnya kamu menyerah. Jangan seperti ini." jawab Ariel


Dinda tiba-tiba menangis. "Aku gak akan lepasin Calvin sampai kapanpun. Aku lebih baik mati daripada harus kehilangan Calvin." jeritnya histeris.


"Tenang Dinda. Tenang." ucap Ariel langsung memeluk tubuh Dinda.


"Aku cuma mau Calvin kak. Tolong.." isaknya.

__ADS_1


Dibalik pintu, Dokter Ivan melihat semua pemandangan itu. Ia hanya mengangguk mengerti. Ternyata permasalahan yang dialami kedua wanita itu berbeda. Mantan kekasihnya meninggal bunuh diri karena kesalahannya. Sedangkan gadis dibalik tirai ini ingin bunuh diri karena perasaannya pada pria yang tidak tersampaikan. Iapun kembali berjalan dilorong rumah sakit menuju kantornya. Sudah tengah malam dan ia memutuskan untuk tinggal di kantornya sampai besok pagi.


Ivan merupakan tahanan interpol 1 tahun yang lalu. Namun sejak ia dibebaskan bersyarat oleh pengadilan karena kelakuan baiknya 3 bulan yang lalu, ia hanya diharuskan wajib lapor setiap minggu. Ia memulai kehidupan baru nya dengan menjadi dokter umum di rumah sakit yang membuatnya mengenal Alena. Tapi sejak ia berubah, ia telah meminta maaf pada Alena atas semua kesalahan yang telah ia lakukan. Ia diberikan kesempatan oleh Alena. Dan inilah saatnya. Ia mengajukan diri sebagai dokter khusus yang merawat pasien yang baru saja hampir bunuh diri. Karena ternyata pasien ini memiliki riwayat penyakit depresi. Ia bertekad untuk menyembuhkannya sebagai bukti pada Alena dan ayahnya jika ia sudah berubah.


Keesokan paginya, Calvin bangun dan menyadari ia tertidur di sofa luar. Ia melihat kamar Sandra yang masih tertutup. Apakah Sandra masih marah padanya?


"Kamu udah bangun?" tanya Sandra dibelakangnya.


Calvin berbalik dan melihat Sandra sedang berada didapur dengan celemek terpasang di pakaiannya. Ia tidak terlihat marah. Apakah Sandra memang tidak marah karena ceritanya semalam? Iapun bangun dan menghampiri Sandra.


"Kamu gak marah?" tanya Calvin.


Sandra tersenyum. "Mari kita hadapi bersama." ucapnya.


Calvin dapat bernafas lega. Ia memeluk Sandra dengan erat. "Aku pikir kamu marah. Aku takut, Sandra. Maafin aku baru jujur sekarang."


Sandra menepuk bahu Calvin. "Aku marah? Ya, aku marah karena ternyata kalian sempat pacaran. Tapi setelah aku pikir, kita sekarang udah menikah. Jadi buat apa takut sama Dinda. Gak ada yang berubah." jawab Sandra sambil tersenyum.


"Aku gak salah milih kamu. Kamu itu terlalu baik." ucap Calvin sambil mengangkat tubuh Sandra.


"Vin, kamu mau ngapain?" teriak Sandra panik.


Calvin hanya tertawa sambil membawa Sandra ke dalam kamar dan menguncinya dengan rapat.

__ADS_1


__ADS_2