Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )

Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )
Berita baik?


__ADS_3

Sandra terbangun dengan kepala pusing. Perutnya tiba-tiba saja mual. Ia melihat jam dinding menunjukkan pukul 10. Ia melihat handphonenya terdapat panggilan tak terjawab dari Calvin. Calvin memberikan pesan singkat padanya jika ia telah sampai pukul 9 pagi. Tapi ia tidak akan langsung pulang karena masih ada pekerjaan. Sejak semalam ia terfikir untuk membawakan makan siang untuk Calvin. Tapi ia tidak mungkin membuat makan siang untuk Calvin hari ini karena ia harus bertemu dengan Alena dirumah sakit. Sepertinya ia akan membeli direstoran dekat rumah sakit.


“Kamu kenapa, San?”tanya Alena.


“Aku lemes terus, Al. Tadi pagi aku muntah. Kamu bisa periksa aku?”tanya Sandra. Alena menghampiri Sandra. Ia memegang pergelangan tangan Sandra dan menatap jam tangannya. Ia memang terlihat lemas.


“Terakhir haid kapan?” tanya Alena


Sandra berfikir sejenak. “Bulan kemarin.”


“Bulan ini belum?”


Sandra berfikir kembali. Hatinya sedikit was-was namun ada perasaan bahagia. “Kayaknya telat. Udah seminggu, Al.” Jawabnya pelan. Ia terus menatap Alena.


Alena menatap Sandra sambil tersenyum. “Kayaknya kamu hamil. Kalo kamu mau lebih pasti, aku anter ke temen aku yang dokter kandungan. Kebetulan dia ada. Bukan dokter kandungan aku sih, tapi yang ini sama bagusnya”Ucapnya sambil memegang perutnya yang mulai terlihat.


“Aku hamil?” tanya Sandra gugup.


“Iya, kita ketemen aku dulu.” Ajaknya sambil berdiri. Sandra sedikit gugup ketika bertemu dengan dokter kandungan yang notabene adalah seorang laki-laki. Ia merasa sedikit malu.


“Selamat ya, udah mau jalan 2 bulan” Ucap dokter itu.


Alena memeluk Sandra sambil tertawa. “Selamat ya Sandra. Kita harus kasih tau Calvin. Dia pasti seneng banget.”

__ADS_1


Sandra tersenyum senang. “Biar aku aja. Nanti aku kekantornya sekalian bawa makan siang. Aku mau kasih kejutan sama Calvin.” Tiba-tiba ia memegang perut Alena. “Bayi ini bakal ada temennya.” ucap Sandra senang. Alena hanya tertawa senang.


Amara nampak kesal dengan wanita didepannya. Ia terus memaksa masuk kekantor Calvin padahal sudah diberi peringatan olehnya. Ia tahu jika Sandra akan tiba saat makan siang. Ia tidak mau Sandra salah paham.


“Sini masuk.” Ucap Calvin pada wanita itu.


Amara nampak kesal. Bagaimana bisa Calvin membiarkan wanita itu masuk padahal sebentar lagi Sandra datang.


“Vin, kamu gak bisa kayak gini. Nanti istri kamu salah paham.” Ucap Amara.


“Enggak, Tante tenang aja. Justru aku mau beresin semuanya hari ini” Ucapnya.


“Oke. Tante percaya kamu.”


Calvinpun masuk diikuti wanita itu. “Ada apa kamu kesini?”


“Kenapa sih Vin kamu benci banget sama aku? Aku punya salah apa? Harusnya aku yang marah sama kamu. Kamu nikah tanpa sepengetahuan aku. Kamu tinggalin aku dan menikah sama orang lain” ucap Dinda sambil menangis.


“Harusnya kamu tau, kenapa aku benci banget sama kamu. Kamu fitnah Sandra. Udah cukup Dinda. Aku gak akan peduli sama semua urusan kamu. Kamu sakit, kamu mau bunuh diri, sekarang udah bukan urusan aku. Urusan aku cuma Sandra. Dia yang pantas buat aku peduli” Jawab Calvin tegas. Ia benar-benar kesal pada wanita yang tidak tahu malu didepannya.


Sandra sedang berjalan menuju ruangan Calvin. Diluar ia bertemu dengan Amara.


“Tante Amara, Calvin ada didalam?”tanya Sandra dengan wajah berseri.

__ADS_1


“Ada. Tapi ada tamu.” Jawab Amara sedikit tidak enak.


“Siapa? Klien?”


“Bukan. Temannya Calvin.”


“Siapa? Edward atau Dave?”


Amara semakin tidak enak. “Dinda. Teman Calvin dari dulu.”


“Dinda?Mau apa dia kesini?”Tanya Sandra terkejut. Iapun menghampiri pintu yang tidak tertutup rapat itu.


“Udah dong Dinda, jangan nangis disini. Gimana nanti karyawan aku yang denger? Mereka bisa salah paham” ucap Calvin bingung. Dinda menangis semakin keras.


“Kenapa kamu nikah tanpa nunggu aku? Dari jaman sekolah dulu aku udah cinta banget sama kamu, sampe misahin kamu dari cewek sxxlxn itu! Kita bahkan udah jadian sampe punya rencana buat nikah. Kenapa Vin?”


Calvin menatap Dinda tanpa menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya. Padahal hatinya telah panas dan ia ingin marah. “Aku gak pernah punya niat buat nikahin kamu. Asal kamu tau, aku pacaran sama kamu karena permintaan kakak kamu. Aku gak pernah cinta sama kamu. Aku terpaksa pacaran sama kamu karena penyakit kamu. Tapi sekarang, maafin aku. Aku udah punya urusan sendiri. Kamu gak bisa ganggu kita berdua. Aku minta kamu jangan pernah ganggu Sandra. Kalo aku liat kamu ngapa-ngapain Sandra, kamu berhadapan sama aku. Aku gak main-main.”


“Tapi aku mau kamu sekarang, Vin. Kamu ceraikan istri kamu itu. Aku yakin, aku yang terbaik buat kamu.” Jawab Dinda percaya diri.


Dengan jantung berdebar, Sandra masuk kedalam. Ia menepuk tangannya sambil menatap Dinda.


 

__ADS_1


                                                       B E R S A M B U N G


                           Sampai Jumpa Besok Ya, tinggal beberapa chapter lagi nih T.T


__ADS_2