Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )

Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )
Happy birthday to me


__ADS_3

Calvin membuka matanya ketika ia mendengar suara alarm. Ia melihat jam. Masih pukul 6 pagi. Hari ini ia ada pertemuan dengan kliennya pukul 8 pagi. Jika ia tidak tepat waktu, ia akan mendengarkan ocehan wanita itu. Tidak biasanya Ia tidak mendengarkan suara ribut di dapur. Setiap hari ia bangun tanpa alarm di kamarnya. Ia memutuskan keluar kamar terlebih dahulu. Ketika ia membuka pintu kamarnya, harum kopi tercium semerbak diseluruh ruangan. Ia melihat ke kiri dan ke kanan. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Sandra. Ia berjalan ke kamar Sandra. Ketika dibuka, kamarnya rapi. Sandra tetap tidak ada. Sepertinya Sandra masih marah padanya. Rasanya aneh, berada satu rumah tapi tidak saling menyapa. Apakah ia harus menyerah dan membiarkan Sandra tetap bekerja?


Iapun berjalan keluar sambil menutup pintu kamar Sandra. Ia berjalan ke meja makan dan melihat secangkir kopi kental kesukaannya sudah tersedia. Ia meminumnya pelan. Masih panas. Itu berarti Sandra masih belum lama pergi dari rumah. Ia tersenyum. Sandra masih peduli padanya dengan membuatkan kopi panas di pagi hari. Ia menghela nafas. Biarlah Sandra menghabiskan waktu sendiri dan menyadari jika apa yang ia lakukan hanya demi kebaikan Sandra sendiri.


Terdengar suara handphone berbunyi. Ia melihat layar handphone dan mengangkatnya malas.


"Halo.." jawab Calvin.


"Happy birthday to you, Calvin!" seru seseorang.


"Thanks Dinda." jawab Calvin malas.


"Gak akan lama lagi aku bakal ketemu kamu. Tunggu aku pulang."


"Ya, aku tunggu kamu. Ada yang mau aku obrolin sama kamu." jawab Calvin serius. Demi Sandra, ia akan menunggu Dinda pulang dan ia akan mengatakan situasi sebenarnya. Ia tidak mau kehilangan Sandra. Sudah cukup untuknya bertanggung jawab pada penyakit Dinda yang terjadi karena kesalahannya sendiri.


Pagi buta, Sandra sudah berada di pasar untuk membeli bahan makanan untuk suprise nanti malam. Untung saja Alena akan datang membantunya. Ia tidak perlu takut pesta nanti malam akan gagal. Hampir dua jam ia berada di pasar untuk membeli bahan makanan. Ia selalu melihat jam tangannya. Ia yakin Calvin sudah pergi bekerja. Iapun pulang. Ketika ia membuka pintu apartemen, Calvin memang sudah tidak ada.


Ia menyadari seumur hidupnya baru kali ini ia melakukan sesuatu untuk orang lain. Ia terbangun di pagi hari untuk pergi ke pasar yang sebelumnya belum pernah ia lakukan. Ia menyimpan beberapa lauk di bak cuci piring terlebih dahulu. Ia berjalan ke meja pantry, sisa kopi yang ia buat untuk Calvin masih berada disana. Ia mengangkatnya dan menyimpannya di bak cuci piring. Ia teringat sesuatu. Ia menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Halo.." jawab Dean malas.


"Halo, ganteng. Bisa minta tolong kasih tau mama. Nanti malam jangan sampe telat."ucap Sandra.


"Susah kalo pengantin baru, segala sesuatu harus diikutin." jawab Dean dengan nada malas.


"Aku punya tiket nonton bioskop nih, Dean. Aku rencananya kasih ke kamu, tapi kayaknya.."


"Nanti aku kasih tau mama. Ada berapa tiketnya?"tanya Dean bersemangat.


"Ada tiga."


Dean tidak pernah menolak permintaannya asalkan ada imbalan. Itu sudah biasa baginya.


Ia kemudian menghubungi Firly. Menurut Alena, Firly paling berbakat dalam menghias tempat.


"Halo.."


"Firly sayang, jam berapa kamu mau ke apartemen?" tanya Sandra.

__ADS_1


"Agak siang. Tapi sorry, ntar malem aku gak bisa ikut acara kalian. Kamu tau kan kalo ada seseorang yang aku urus."


"Gak jadi masalah." jawab Sandra. Ia tahu situasi Firly saat ini. Dengan mendapatkan bantuannya saja ia sudah sangat berterima kasih. Kemudian ia menelepon seseorang.


"Halo, sayang." jawab seseorang.


"Tante, nanti malem jangan lupa." ucap Sandra.


Amara tersenyum. Ia berbicara dengan Sandra ditelepon tapi didepannya Calvin sedang berdiri menunggunya.


"Oke, sayang. Nanti aku usahain ya." jawab Amara sambil menutup teleponnya.


Calvin menatap Amara dengan dahi berkerut. "Siapa? Pacar baru? Bos mana lagi nih yang dideketin?" goda Calvin.


"Aku tipe wanita setia, Vin." jawab Amara sambil berlalu pergi. Ia berjalan didepan Calvin. Calvin hanya terdiam. Ia menunduk sambil melihat handphone nya. Sandra belum menghubunginya. Apa Sandra tidak tahu jika ia berulang tahun hari ini? Kedua sahabatnya pun tidak terdengar menghubunginya. Ia masuk kedalam ruangannya dan menutup pintu. Namun sedetik kemudian ia membuka kembali dan memanggil Amara.


"Tante, hari ini jangan ada yang ganggu aku. Aku pengen sendiri." ucapnya.


Amara hanya tersenyum sambil mengangguk.

__ADS_1


Calvin mengangkat kedua kakinya keatas sofa yang berada di kantornya. Ia membuka jas dan melonggarkan dasinya. Ia lelah. Ia ingin pergi berlibur. Jika ia mengajar Sandra berlibur, apakah bisa? Calvin tersenyum sendiri. Ia merebahkan tubuhnya dan terdiam. Ia membayangkan sesuatu yang indah. Seandainya hari ini ia dan Sandra sedang bersenang-senang, ia akan melupakan sejenak pekerjaannya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Benda itu selalu ada di saku jasnya beberapa hari terakhir ini. Benda itu belum sempat diberikan kepada pemiliknya.


__ADS_2