
Sandra merasakan kepalanya dicium pagi ini. Ia membuka matanya. Badannya terasa lemas. Ia menarik kembali selimutnya dan menutup kembali matanya. Kemarin sore ia pergi berdua dengan Alena untuk mencari sesuatu. Mereka keluar masuk mall hanya untuk mencari satu barang. Dan Sandra melewatkan makan siangnya. Ia kembali membuka matanya setelah mendengar suara-suara yang mengganggunya. Terdengar suara resleting ditutup, kemudian sepatu yang sedang dipakai. Terdengar pula suara jam tangan yang sedang dipakai. Ia membuka matanya kembali. Ternyata Calvin sudah bersiap untuk pergi kekantor. Ia berjalan menghampirinya dan menatapnya sambil tersenyum. Ia duduk disampingnya.
“Kamu mau pergi sekarang, sayang?”tanya Sandra. Ia bangun dengan terpaksa.
Calvin merapikan rambut Sandra yang sedikit berantakan.
“Iya, kamu kenapa? Sakit?”tanya Calvin. Ia menyentuh dahi Sandra. “Kamu kayaknya demam.”
“Agak lemes aja. Ntar siang kalo sempet aku ke kantor.” Jawab Sandra sambil memakai pakaian luarnya.
Calvin menggelengkan kepalanya. “Lebih baik kamu diem dirumah dulu. Jangan kemana-mana. Nanti aku usahain pulang cepet.”
“Aku masih harus nyari barang sama Alena siang ini.” ucap Sandra.
“Apa perlu aku bilang sama Alena?” tanya Calvin.
Sandra menggelengkan kepalanya. Ia langsung memeluk Calvin.
“Kenapa?”tanya Calvin. Ia tersenyum. “Tumben kamu manja.”
“Vin, apa Dinda masih suka hubungi kamu?” tanya Sandra.
“Enggak. Aku harap jangan ada lagi Dinda diantara kita. Jangan bahas dia lagi.” jawab Calvin.
Sandra mengangguk. Ia melepaskan pelukannya.
“Oke, aku pergi dulu. Kamu istirahat aja, jangan paksain pergi ketemu Alena.” Ucap Calvin sambil mengecup bibir Sandra.
__ADS_1
Sandra hanya menganggukkan kepalanya. Ketika Calvin pergi, iapun melanjutkan kembali tidurnya. Entah apa yang terjadi padanya. Perutnya tiba-tiba sakit pagi ini, mungkin karena kemarin ia makan terlambat. Dan demam yang ia alami sedikit mengganggunya. Hari ini ia sudah berjanji akan mengantar Alena. Iapun bangun dan berjalan kedapur. Ia meminum segelas air hangat. Sesekali ia menatap wajahnya dari cermin wastafel yang tidak jauh darinya. Wajahnya sedikit pucat. Ia melihat jam dinding menunjukkan pukul 9.
“Kamu kenapa, Sandra?”tanya Alena ketika Sandra sudah sampai di rumah sakit.
“Perut aku agak sakit. Mungkin karena kemarin aku telat makan. Kamu bisa periksa aku?” tanya Sandra.
Alena menghampiri Sandra. Ia memegang pergelangan tangan Sandra dan menatap jam tangannya. Kemudian ia menggiring Sandra untuk tidur di dipan. Ia menekan perut Sandra pelan. Ia menatap Sandra sedikit meringis. “Kemarin makan apa sih waktu kita pergi?”
“Kita berdua kan makan lemak, Al.” ucap Sandra.
Alena mengangguk mengerti. “Kalo gitu kita gak usah pergi hari ini.”
Sandra menggelengkan kepalanya. Ia memegang tangan Alena. “Aku gak apa-apa, kita pergi aja.”
“Aku bikin resep dulu ya, nanti kita pergi setelah kamu minum obat.” ucap Alena sambil berjalan keluar ruangannya.
Ketika mereka berjalan di mall, Sandra sempat menghentikan langkahnya ketika melihat iklan seorang wanita yang sangat ia kenal. Wajahnya berubah banyak. Ia terlihat sangat cantik. Ia tertegun. Wanita itu Dinda. Kenapa ia merasa tidak rela jika wanita itu yang mendekati suaminya? Tubuh wanita itu cantik. Siapa yang sangka jika wanita itu memiliki depresi seperti yang ia dengar ketika ia pergi ke rumah sakit dulu?
Beberapa hari ini ia tidak mendengar kabar mengenai Dinda dari mulut Calvin. Ia sempat menyangka jika Dinda sudah melepaskan Calvin. Tapi sepertinya tidak. Dinda tidak mungkin melepaskan Calvin begitu saja. Kenapa hanya dengan memikirkan wanita itu, sakit perutnya bisa hilang? Ia sesekali memegang perutnya.
“Cantik ya? Aku tau dia desainer terkenal di paris. Dia akhirnya pulang. Aku sempet liat pameran dia waktu beberapa tahun yang lalu. Keren banget.” ucap Alena bersemangat.
Sepertinya hanya ia sendiri yang ketinggalan info mengenai Dinda. Ia hanya diam tanpa mau berkomentar.
“Sandra!” panggil seseorang.
Butuh waktu untuk mengetahui siapa yang memanggilnya. Seorang wanita seumuran dengannya. Ia sedang memegang seorang anak laki-laki.
__ADS_1
“Kamu gak inget aku?”tanya wanita itu.
Sandra dan Alena melihat wanita yang kini sedang menghampirinya.
“Siapa?” tanya Sandra.
“Aku Cindy. Teman sekelas kamu waktu SMA.” ucapnya.
Sandra langsung mengingatnya. Ketika sekolah dulu, ia dan Cindy sempat satu kelas dan hanya mereka berdua yang biasa dipanggil guru.
“Oh ya, Cindy. Gimana kabarnya?” tanya Sandra senang.
“Aku baik-baik aja. Kamu udah lama pulang kesini?” tanyanya.
“Udah.”
“Oh ya, sekolah kita mau adain reunian. Kamu ikut ya, kamu tau gak yang jadi donatur paling gede siapa?”
Sandra hanya menggelengkan kepalanya.
“Dinda. Sahabat kamu itu.” jawabnya. Tiba-tiba ia melihat jari tangan Sandra. “Loh, kamu udah nikah?”
Sandra melihat tangannya dan tersenyum. “Udah.”
“Aku baru tau kamu udah nikah. Aku baru pulang kesini dua bulan lalu. Oh ya, kamu ikut grup sekolah ya. Cuma tinggal kamu sama anak palang merah yang belum ikut grup.”
Sebenarnya ia malas, tapi tiba-tiba ia penasaran dengan apa yang dilakukan Dinda di grup. Mengingat ia adalah donatur. Mereka pun mulai berbagi nomor telepon dan tak lama kemudian mereka berpisah.
__ADS_1