
“Masih belum ngasih kabar ke Sandra?”tanya Dave ketika ia mendatangi kamar Calvin malam hari setelah mereka menyelesaikan semua pekerjaannya.
Calvin menggelengkan kepalanya. Ketika semua pekerjaan hampir selesai, ia menjadi jauh lebih tenang. Tidak dapat dipungkiri setiap malam ia merindukan Sandra. Tapi mengingat foto-foto itu, ia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Sandra dan menanyakan keadaannya. Dave sering menemukan Calvin terduduk sendiri ketika selesai rapat. Ia sering melamun dan hanya menatap foto Sandra didalam handphone nya.
Calvin membuka pesan yang diberikan oleh nomor tidak dikenal pada Dave. “Gara-gara ini.” ucapnya pendek.
Dave mengambil handphone Calvin dan melihatnya. Dave hanya menghela nafas ketika melihatnya. “Sikap kamu dengan wanita itu jauh lebih menyakitkan dibanding foto ini. Foto ini gak ada apa-apanya. Mereka cuma ngobrol.” seru Dave marah. “Open your eyes, Vin! Kamu cuma cemburu. Kamu gak bisa menghukum Sandra kayak gini. Kasian Sandra, lama-lama dia pasti ninggalin kamu.”
Calvin menggelengkan kepalanya. “Sandra gak bisa kemana-mana. Walaupun dia ngumpet di lubang semut, pasti aku temuin.”
“Bicara baik-baik sama Sandra sekarang. Aku tau perjuangan kamu buat dapetin Sandra itu gak mudah.” ucap Dave sambil berjalan keluar dari kamarnya.
Sandra terbangun dengan tubuh tidak enak. Sejak kemarin ia kurang makan. Bukannya mengurangi, tapi ia memang tidak mau makan. Ia terpaksa bangun karena ia haus. Air minum yang ada dikamarnya sudah habis. Iapun berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Tiba-tiba terdengar suara teleponnya berbunyi. Sandra melangkah cepat untuk melihat siapa yang menghubunginya.
“Halo.” jawab Sandra.
“Sayang, maafin aku. Aku salah.” Ucap Calvin ketika ia mulai berbicara.
“Mau sampai kapan kamu sakitin aku?”tanya Sandra kesal.
__ADS_1
“Semua salah aku. Maafin aku. Aku janji gak akan pernah nyakitin kamu lagi. Aku gak sengaja marah-marah sama kamu. Aku lagi pusing gara-gara masalah kantor. Maafin aku ya, sayang.”
“Gak kayak gini Vin. Aku punya perasaan. Aku sakit liat kamu sama wanita lain. Kamu tau gak? Aku difitnah..” seru Sandra sambil terisak.
“Difitnah?” tanya Calvin bingung.
“Dinda fitnah aku. Semua temen-temen kelas aku fitnah aku, aku sakit Vin.”
“Sakit Dinda?” tanya Calvin berhati-hati.
“Iya, aku gak ngapa-ngapain. Dia yang tampar aku dua kali dan ngedorong aku. Aku beruntung masih bisa nahan. Aku dorong Dinda karena dia nampar aku. Aku membela diri.”
“Dan kamu tau, kemarin-kemarin mama kamu dateng ke apartemen, dia bilang apa? Dia ngebahas soal hamil Vin. Memangnya aku pernah menolak buat hamil? Kan enggak..” ucap Sandra sambil menangis.
Calvin kecewa. Ia tidak sanggup berkata apa-apa lagi.
“Kamu baik-baik aja sekarang?”tanya Calvin ketika Sandra sudah mengakhiri tangisannya. Biar ia saja yang mendengarkan tangisan Sandra.
“Hmmm”
__ADS_1
“Sandra, tolong jangan denger omongan mama. Mama sebenernya niatnya baik, cuma mungkin penyampaiannya yang gak enak. Tolong kamu jangan inget-inget lagi. Oke..”
Sandra masih terdiam. Hanya ada sisa-sisa isakan.
“Minggu depan kita pergi jalan-jalan ke luar negeri, aku jenuh sama kerjaan. Kamu juga pasti sama. Sejak kamu berhenti kerja, kamu gak pernah jalan-jalan kan? Kamu mau kemanapun aku ikut.”
“Bener Vin?” tanya Sandra.
“Iya, kita honeymoon. Besok aku pulang, nanti kita cari tour agen. Gimana? Kamu mau kan?” tanya Calvin.
“Iya mau.” jawab Sandra sambil tersenyum senang.
“Masalah Dinda.. aku memang keterlaluan. Aku bodoh karena terlalu percaya sama dia, bukan sama istri aku sendiri.”
“Kalo kamu gitu lagi, aku tinggalin kamu.” ancam Sandra.
“Oke.” Jawab Calvin.
Sandra tersenyum ketika menutup teleponnya. Ia percaya Calvin tidak akan menyakiti jika tidak ada alasan. Honeymoon?Sandra tersenyum. Calvin mengajaknya honeymoon? Ia tidak pernah terfikir Calvin akan mengajaknya bepergian. Kalau honeymoon ini adalah cara Calvin meminta maaf, kenapa tidak? Sepertinya Calvin tulus ketika meminta maaf tadi. Sandra hanya tersenyum sambil berjalan ke kamarnya. Ia bisa tidur nyenyak malam ini.
__ADS_1