Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )

Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )
Bertemu Alena


__ADS_3

“Tunggu, sebenernya kenapa kalian datang kesini barengan? Vin, kenalin dong. Tumben kamu bawa perempuan.” tanya Dave


“Iyaa, dia ini sebenernya cewek yang ngejar-ngejar aku jaman sekolah dulu.”jawab Calvin tenang. Ketika mendengar ucapan Calvin, Sandra langsung berdiri dan melangkah keluar. Ia tidak merasakan bagaimana sakitnya ditolak saat itu.


Alena memukul bahu Calvin. Matanya membesar.


“Vin, kasian temen kamu. Dia malu. Kamu ngomongnya gak kontrol.” Seru Alena marah.


Dave hanya mengangguk mengiyakan. Sedangkan Edward tidak berkomentar. Ia hanya tertawa hambar melihat sikap Calvin yang seperti anak kecil. Ia tahu Calvin tidak bisa bercanda.


Calvin berdiri dan mengejar Sandra.


Sandra kesal dan marah. Tega-teganya Calvin mengatakan hal itu. didepan sahabat-sahabatnya. Tiba-tiba tangannya ditarik. “Sandra, tunggu San.” ucap Calvin.


“B****G**K kamu, Vin!” Calvin menerima pukulan dari Sandra karena kesal.


“Sorry, oke. Sorry, aku kelepasan. Aku cuma bercanda."


Sandra berjalan menjauhi Calvin. Namun Calvin memegang lengan Sandra.


“Lepasin!”


“Kalo aku lepasin pasti kamu pergi. Kamu kan gak bawa uang.” Seru Calvin.


“Tapi aku bawa handphone. Aku bisa telepon Andre buat jemput aku disini.”


Mendengar nama Andre, Calvin langsung marah. “Enggak ada Andre atau siapapun. Kamu pergi makan bareng aku, pulangnya juga harus bareng aku.” ia langsung menarik lengan Sandra dan membawanya kemobil. “Oke, kita makan siangnya gak disini. Kita pergi.” Calvin membawa mobilnya menuju tempat makan yang tak jauh dari kantor.


Alena melihat keduanya dibalik jendela resto.


"Mereka pergi." ucapnya.


"Dasar Calvin. Gak tau diri. Orangnya gak bisa dibawa bercanda malah dia bercanda kayak gitu." Ucap Edward.

__ADS_1


"Biar Calvin tau rasa." jawab Dave sambil memakan makanan didepannya.


Hampir dua minggu lamanya Sandra tidak pernah melihat ataupun berpapasan dengan Calvin selama dikantor. Jika pergi kerja, mereka masih bersama. Itupun Calvin tidak pernah berbicara banyak. Selama dijalan iapun tidak pernah berbicara.


Ia merasa aneh, seharusnya Sandralah yang marah. Bukan Calvin yang marah. Saat itu Sandralah yang dipermalukan.


Dari lantai atas, ia bisa melihat jika mobil Calvin keluar dari kantor.


“Calvin, dulu tuh aku suka banget sama kamu. Tapi sejak kamu tolak aku mentah-mentah, maaf aja Vin, perasaanku sudah hilang.” Sandra mendesah. Ia melihat kepergian mobil itu hingga tak terlihat lagi. Iapun kembali keruangannya. Ia perlahan masuk keruangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Ia tidak mau bertemu dengan Andre. Lama kelamaan ia merasa takut pada sikap Andre.


Seperti seorang pencuri, Sandra mengendap-endap untuk sampai kelobi. Ia berjalan keluar sambil berlari. Kemudian ia naik taxi dengan cepat. Setidaknya ia bisa menjauh dari kantor secepatnya. Ditengah jalan, ia turun dari taksi dan memutuskan untuk berjalan kaki. Ia ingin menikmati jalanan sejenak dan masuk ke cafe untuk meminum kopi.


Ia menenteng tasnya dan terus berjalan. Kebetulan jalan sedikit ramai jadi ia tidak takut. Cafe itu sedikit ramai tapi salah seorang pelayan masih bisa memberikannya spot terbaik untuk minum kopi.


“Mau minum apa?”tanya waitress itu.


“Tolong kasih saya Americano.”jawab Sandra ramah. Terdengar handphonenya berdering. Ia sudah tahu siapa yang menelponnya.


“Kamu dimana San?”


“Aku udah pulang.” Jawab Sandra sambil menutup kedua sisi handphonenya. Ia takut suara musik akan terdengar kesana.


“Kamu gimana sih? Kamu menghindar dari aku?”Ucap Andre marah.


“Enggak dre, mana mungkin aku hindarin kamu. Kamu kan sahabat aku.” jawab Sandra menenangkan.


“Sahabat,sahabat, aku udah bilang dari dulu kalo aku gak mau jadi sahabat kamu. Sampai kapan hati kamu tertutup buat aku?” Ucap Andre marah.


“Dre, kita kan udah pernah ngebahas ini.”jawab Sandra. Sayangnya telepon ditutup oleh Andre. Itulah yang ia takutkan ketika bekerja satu perusahaan dengan Andre. Sejak sekolah dikorea, Andre sudah sangat sering menyatakan perasaannya. Tapi ia tidak pernah menerimanya.


Tidak terasa pesanannya sudah datang. Secangkir americano panas. Tiba-tiba ia ditepuk dari belakang.


“Sandra ya” ucapnya. Sandra membalikkan tubuhnya dan melihat Alena, kekasih Dave berdiri dibelakangnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Sandra tersenyum. “Iya, em.. Alena?”


“Iya, apa kabar Sandra?”tanyanya ramah.


“Baik. Oh iya duduk Al.”


Alena duduk didepan Sandra.


"Lagi apa kamu disini?" tanya Sandra


"Aku habis ketemu sama orangtua pasien aku."


Sandra terbelalak. "Kamu dokter?"


Alena tersenyum. "Jangan bilang-bilang kita ketemu ya, tadi Dave tanya aku ada dimana. Aku bilang lagi ada pasien."


"Kenapa kamu bohong Al?"


"Kami bayangin. Tiap jam dia telepon aku."


"Itu bagus tau. Itu tandanya dia cinta sama kamu!" ucap Sandra.


Alena hanya menggelengkan kepalanya. "Trus ngapain kamu disini?"


"Aku lagi ngehindar dari temen aku."


Alena tertawa. "Kenapa kamu dikejar-kejar?"


Sandra mengangguk dengan mimik sedih.


"Konsekuensi jadi orang cantik." jawab Alena.


Tiba-tiba Sandra teringat sesuatu. "Oh ya, Al. Kamu punya kenalan dokter tulang?"

__ADS_1


__ADS_2