
Pintu kamar Sandra diketuk beberapa kali. Sandra saat itu sedang berada dimeja nya. Selama beberapa hari berada dikamar, ia mendapatkan referensi untuk pekerjaan barunya. Beberapa teman-temannya yang berada di Korea memberikan sedikit petunjuk. Mereka menyambutnya dengan baik. Pintu kamarnya terdengar diketuk kembali. Ia menatapnya dan menghela nafas. Mudah-mudahan bukan Tante Anita, pikirnya. Ia masih belum sanggup bertemu dengan wanita itu. Ia takut. Ketika terakhir kali ia mencoba menemuinya, wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya itu tidak mau keluar kamar karena marah. Calvin bahkan mencoba beberapa kali meminta maaf pada ibunya tapi tetap diabaikan.
Sandra bangun untuk membuka pintu kamarnya. Ketika dibuka, ia terkejut karena orang yang tidak ingin ditemuinya ada didepan kamarnya. Tapi kali ini ia sedikit berbeda. Ia tersenyum. Sandra sedikit bingung. Apa yang terjadi padanya? Ia menoleh kebelakang wanita itu. Tidak ada orang dibelakangnya. Wanita itupun masuk kekamar dan duduk dikursi yang tadi ia duduki.
"Sandra.." panggil Anita.
Sandra berdiri disampingnya. "Iya Tante."
Anita menatapnya. Ia tersenyum kembali. "Maafin Tante yang bertindak kasar sama kamu." ucapnya kemudian.
Sandra sedikit kaku. Ia menunduk. "Sandra gak apa-apa, Tante. Jangan dipikirin. Sebenernya semua salah paham. Kita gak ngelakuin apa-apa. Sandra berani buat tes." lantangnya. Ia bahkan tidak memikirkan akibatnya dengan mengatakan itu.
"Kita turun kebawah. Orang tua kamu ada dibawah." ucapnya sambil berdiri.
Sandra terkejut setengah mati. Untuk apa kedua orangtuanya datang? Kedua matanya membesar. Ia hanya melihat tubuh wanita itu keluar dari kamarnya dan membiarkan pintu kamarnya terbuka lebar.
Sandra memegang tangannya kuat-kuat. Ia semakin takut ketika mendengar kedua orangtuanya datang. Iapun mulai melangkah keluar kamarnya.
Diruang tamu tampak ketegangan menyelimuti kedua keluarga. Dan kali ini ia hanya sendiri tersangkanya. Dimana Calvin? Ia yang harus bertanggung jawab. Bukan ia sendiri.
__ADS_1
"Mam.." panggil Sandra memecahkan suasana. Ia langsung memeluk ibunya dengan erat.
Icha melepaskan pelukannya. "Lepasin. Mama kecewa sama kamu." ketusnya.
Sandra melepaskan pelukannya pada Ibunya. "Kenapa ma?" tanya Sandra sedih. Iapun menatap ayahnya. "Pah.." panggilnya pada ayahnya.
"Sudah sejak kapan kalian berdua melakukan itu? Memalukan nama keluarga!" seru pria berkepala pelontos itu. Ia menatap Sandra marah.
Sandra menggelengkan kepalanya. Ia takut melihat kemarahan ayahnya.
"Gak mau ngaku?" tanyanya marah.
"Sumpah, aku gak ngelakuin apapun. Mama sama papah gak percaya sama aku?" tanya Sandra marah.
Anita, suaminya dan Dean merasa shock melihat kemarahan orangtua Sandra. Mereka tidak tahu jika kedua sahabatnya sangat menakutkan jika sedang marah.
Sandra mulai menangis. "Gimana caranya buat kalian percaya. Aku gak lakuin apapun."
"Buktinya kalian disana. Banyak yang liat. Gak usah ngeyel." seru pria itu.
__ADS_1
"Kalo kalian gak percaya, kita tes aja!" seru Sandra.
"Kamu berani ikut tes? Kalo hasilnya bener dimana kita taruh muka kita?" seru ayahnya kesal.
"Udah om, cukup.." ucap Calvin dengan terengah- engah. Ia langsung berlari ke parkiran ketika mendapat telepon dari Dean tadi. Untungnya jalanan tidak macet. Ia bisa cepat sampai rumah. Dari halaman saja ia dapat mendengar jika Sandra sedang dimarahi oleh orangtuanya.
Calvin berjalan mendekati mereka. Ia duduk disamping Sandra. Ia menatap Sandra sejenak. Ia sedang menunduk.
"Kami sadar sudah melakukan sesuatu yang salah." ucap Calvin mengawali pembicaraan. Ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Jadi apa yang mau kalian lakukan?" tanya Icha.
"Kami bertanggung jawab. Berita di media udah gencar dan bisa memperburuk pekerjaan om dan tante. Begitu juga pekerjaan Calvin sendiri."
"Kita tunggu tanggung jawab kalian." jawab Icha.
Anita menghampiri Calvin.
"Calvin, tanggung jawab apa yang kamu maksud?"
__ADS_1
Calvin menatap ibunya. Ia pun menatap kedua orangtua Sandra. Walaupun terpaksa, tapi ia juga harus menyelesaikan masalah dengan cepat.
"Aku mau menikahi Sandra secepatnya. Tolong persiapkan semuanya secepat mungkin."