Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )

Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )
Kecewa


__ADS_3

Dave mendapatkan telepon dari Alena saat ia sedang berkumpul dengan kedua sahabatnya. Mereka membahas proyek sebelumnya yang saat ini sudah masuk tahap 30 persen. Ia berdiri dan menjauh dari keduanya.


"Halo, gimana Al?"tanya Dave sambil menatap kedua sahabatnya.


"Sayang, aku udah siapin Sandra. Rencana kita sedikit lagi berhasil. Kamu kasih tau Calvin tempatnya." jawab Alena bersemangat.


"Kamu semangat banget." ucap Dave sambil tertawa.


"Aku semangat banget. Kamu harus dukung aku, Dave!" rengek Alena.


"Iya aku dukung. Coba kirimin alamatnya sekarang."


Beberapa hari lagi Dave akan pergi ke Swiss untuk menghadiri penghargaan yang akan ia dapatkan. Mengenai proyek raksasa yang hari ini sedang mereka bicarakan, ia akan menyerahkan sepenuhnya pada Calvin dan Edward. Calvin akan tinggal disini sedangkan Edward akan pergi ke Thailand untuk mengecek langsung situasi disana.


Ia melihat Calvin berdiri. Sedangkan Edward sedang berbicara dengan salah satu stafnya. Pembicaraannya sepertinya serius.


"Vin.." panggil Dave.


"Apa?"


"Kita ngobrol diluar."


Dave berjalan keluar diikuti Calvin. Mereka berdua berjalan dan duduk didepan lobi kantornya. Dave mengeluarkan sebuah kertas dan memberikannya pada Calvin.


"Ini alamat cafe yang harus kamu datengin malam ini." ucap Dave.


Calvin mengambil kertas itu dan melihatnya. "Ketemu klien? Kenapa gak disini?"


"Dia yang mau ketemu disana. Katanya sekalian ada urusan." ucap Dave.


"Oke, aku pergi nanti. Aku harus ke kantor dulu. Tadi Amara telepon." jawab Calvin.

__ADS_1


"Jangan lupa, Vin. Dia nunggu kamu.."


"Iya, aku tau."


Calvin pun pergi menemui Edward untuk berpamitan. Ia harus pergi ke kantornya karena ada sesuatu mendesak.


Sandra menatap dirinya di cermin. Ia terlihat cantik. Kalung pemberian Calvin terpasang di lehernya. Gaun dengan bahu terbuka itu membuatnya tampak sempurna. Ia tidak tahu rencana apa yang sedang dilakukan Alena. Ia hanya tahu jika Calvin sedang menunggunya. Masih ada waktu dua jam untuk bertemu Calvin. Ia akan menyiapkan diri dahulu. Ia tersenyum. Bagaimana reaksi Calvin ketika melihatnya berdandan secantik ini?


"Kamu cantik, Sandra. Inget, kamu gak boleh bawa handphone. Biar surprise. Calvin gak tau kamu mau ketemu dia." ucap Alena.


Sandra bingung. "Trus aku gimana kalo gak bawa handphone? Kalo Calvin gak dateng gimana?" tanya Sandra.


"Dia pasti dateng. Percaya sama aku." jawab Alena.


"Oke.."


Amara terus mendapatkan telepon dari klien yang kecewa pada design yang diberikan perusahaan Calvin. Mereka mencari Calvin. Sedangkan Calvin sangat sulit dihubungi. Tapi tidak lama ia bisa melihat Calvin berjalan dengan cepat ke arahnya.


"Zunika enterprise kecewa. Interior mereka gak sesuai harapan." ucap Amara.


"Siapa designer nya?" tanya Calvin serius. Ia mengambil dokumen berisi foto-foto pekerjaan mereka.


"Julia. Designer baru yang kamu rekrut." jawab Amara.


"Panggil Julia." jawab Calvin sedikit kesal. Beberapa tahun berkecimpung dalam bidang interior design, baru kali ini ia mendapatkan komplen.


Terdengar suara sepatu ber hak tinggi menghampirinya. Ia menatap wanita yang telah ia percaya itu.


"Bisa kamu jelaskan?" tanya Calvin tegas.


"Saya bisa jelaskan. Klien yang meminta design seperti itu." jawab Julia. Wajahnya sedikit panik.

__ADS_1


"Sebagai designer, kamu gak sepenuhnya harus mengikuti permintaan klien kamu. Kamu bisa lihat. Apakah design itu merugikan atau enggak. Kamu bisa kasih pilihan sama klien kamu! Sekarang lihat. Design kamu diolok-olok media. Gimana cara kamu menyelesaikannya?" tanya Calvin kecewa.


"Seharusnya Pa Calvin percaya saya." jawab Julia menantang.


"Saya percaya sama kamu awalnya. Tapi kalau pekerjaan kamu merugikan perusahaan saya, apakah saya masih bisa percaya kamu?" tanya Calvin marah.


Amara masuk dengan membawa kopi panas yang Calvin pesan. Ia terlihat kesal.


"Minum dulu, Vin."


Calvin menatap jam tangannya. "Aku harus pergi ketemu klien, Tante." ucapnya sambil berdiri. Ia meminum kopinya perlahan.


"Mudah-mudahan pertemuan kamu mendapatkan hasil." ucap Amara.


"Aku pergi dulu."


Calvin berjalan keluar dari kantornya. Kali ini ia menggunakan tangga untuk turun ke bawah. Ia masih ada waktu setengah jam untuk sampai ke cafe tempat klien menunggunya. Ia mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi Sandra. Tidak aktif.


Ia berjalan di lobi saat ada seseorang memanggilnya.


"Calvin!" panggil seorang wanita.


Calvin menatap wanita itu. Ia hanya terdiam. Tidak ada senyum bahagia diwajahnya.


Sandra menatap jam tangannya. Sudah lewat dari pukul seharusnya Calvin datang. Ia mulai kedinginan. Seorang pelayan menghampirinya. "Mau pesen apa, ibu?"


"Orangr juice aja. Saya lagi nunggu orang." jawab Sandra.


Pelayan itu mengangguk dan pergi meninggalkan Sandra sendiri.


Ia melihat ke bangku yang ada disamping kiri dan samping kanan. Semuanya berpasangan. Ia hanya terdiam. Apa Calvin terjadi sesuatu? Seharusnya Alena tidak perlu membawa handphonenya, pikir Sandra.

__ADS_1


Dua jam berlalu. Ia yakin Calvin tidak akan datang malam ini. Sepertinya ia terlalu percaya diri pada rencana Alena. Ia pun berdiri dan berjalan pulang. Ia harap Calvin sudah ada dirumah. Ia berjalan dengan lesu menuju pangkalan taxi.


__ADS_2