
Dinda menatap Sandra terkejut. “Sandra?”
“Ya, aku Sandra. Sahabat yang dulu kamu tikung. Kamu pasti kaget liat aku. Aku masih kuat,Dinda.Aku bukan Sandra yang bisa kamu bodohi.“jawab Sandra tenang. Lalu ia menatap Calvin. “Jadi gimana, kita mau cerai?”goda Sandra. Ia sengaja menggoda Calvin karena ia sedikit kesal. Seharusnya Calvin menyelesaikan permasalahan dengan Dinda ditempat lain, bukan dikantornya. Pembicaraan mereka bahkan menjadi perhatian pegawai Calvin
Calvin menghampiri Sandra. Ia mengulurkan tangannya tapi ditolak oleh Sandra. “Jadi orang yang kamu kejar-kejar itu Dinda?” Sandra menggelengkan kepalanya. Ia menatap Dinda sinis. “Enggak level sama aku.” tambahnya.
“Enggak Sandra, bukan gitu.” Jawab Calvin cemas.
Sandra mengangkat telunjuknya dan meminta Calvin diam. “Cukup, Vin. Aku gak mau denger penjelasan kamu.” Iapun menghampiri Dinda yang masih berurai airmata. “Kamu jahat Dinda. Kamu sahabat aku padahal. Aku gak pernah jahat sama kamu. Selama 3 tahun aku suka sama Calvin tapi dirusak sama kamu yang aku percaya. Aku gak nyangka.”
Calvin menghampiri Sandra. “Kita pulang Sandra!” ajaknya. Sandra langsung mundur dan menatap muak Calvin. “Aku benci sama kamu.” Ucapnya sambil berlari keluar.
Calvin berteriak memanggil Sandra tapi Sandra tidak menghiraukannya. Iapun kembali keruangan dan melihat Dinda dengan marah. “Asal kamu tau, selama kita berhubungan di Michigan, aku gak pernah sekalipun suka sama kamu. Ataupun cinta. Kakak kamu sama kamu brxxgsxk. Kalian mainin aku. Selama ini aku nyari keberadaan Sandra. Apa kamu tau gimana Sandra benci sama aku sampe dia pergi kekorea buat lupain aku? Kamu memang brxxgsxk, Dinda! Kamu gak punya perasaan.”
Sandra tertawa senang ketika berada diluar. Jika teman-teman produsernya tahu, ia akan menjadi artis pendatang baru terbaik. Ia kemudian memegang perutnya. “Sekali-kali kita kasih pelajaran papa,sayang. Siapa suruh dia bawa perempuan lain ke kantor.” bisiknya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Calvin belum tahu jika dirinya tengah hamil. Ia tersenyum jahil. Biar saja, suaminya yang bodoh itu pasti akan semakin bersalah jika tahu dirinya hamil. Ketika di taxi, ia terpikir sesuatu.
“Pa, tolong ke hotel yang deket ya.” ucap Sandra senang.
Sandra duduk disofa sambil menatap keluar. Ia mendapat kamar yang tidak terlalu buruk. Sejak pertengkaran abal-abal dengan Calvin tadi siang, ia memutuskan untuk tidak pulang kerumah atau kemanapun. Ia memesan kamar hotel. Ia butuh sendirian. Ia termenung sambil sesekali memegang perutnya. Jika orang tuanya tahu, mereka pasti marah besar mendengar keputusan Sandra untuk melarikan diri. Iapun mulai menghubungi kedua orangtuanya.
“Ma..”panggil Sandra senang.
“Ada apa Sandra?”tanya Anita. Ia baru saja mengangkat kue-kuenya dari dalam loyang.
__ADS_1
“Ma, aku hamil.” ucap Sandra senang.
Anita langsung berteriak senang. “Cuma beberapa hari sejak mama datang ke apartemen kamu?”
“Ya, mungkin aku udah hamil. Tapi aku belum tau.”
“Syukurlah. Sekarang kamu dimana? Mama kesitu ya?”
“Ma, dengerin aku dulu. Calvin belum tau aku hamil, aku sengaja mau ngerjain Calvin,soalnya Calvin nyebelin.”
Mendengar itu, Anita tertawa. “Kalo Calvin nyebelin, itu bawaan kamu hamil.”
“Aku gak ngerti ma. Tolong kalo Calvin tanya aku, mama gak usah jawab ya. Aku sekarang lagi di hotel.”
“Ma, percaya sama aku. Dengan kehilangan aku, Calvin nanti baru ngerasa kalo aku ini penting.”
Anita hanya menggelengkan kepalanya. “Oke, sayang. Mama ikutin rencana kamu. Selamat ya, mama seneng banget. Nanti mama kasih tau papa. Maafin mama karena mendesak kalian buat cepet punya anak."
Kemudian ia memutuskan menghubungi kedua orangtuanya. Cukup lama untuk menunggu terhubung.
“Halo.”
“Jadi sekarang mama ada dimana?” tanya Sandra
__ADS_1
“Mama sama papa ada di giethoorn. Waktu mama sama papa di belanda, temen mama ngajak kita ke sana. Ya udah, mama betah disini. Desanya bagus banget. Sekali-kali kamu harus kesini.”ucap Icha.
“Mentang-mentang aku udah nikah, mama sama papa terus jalan-jalan tanpa jeda. Waktu aku belum nikah, aku pergi juga gak boleh.” sewot Sandra.
Icha tertawa. “Jadi kapan kamu mau nyusul kita? Calvin bisa cuti kan?”
“Kayaknya setahun ini aku gak bisa kemana-mana ma.”
“Kenapa? Gak boleh sama Calvin?” tanya Icha
“Aku lagi sakit ma.”
“Sakit apa?”tanya Icha panik.
“Iya, sakit aku bisa bikin mama jadi nenek.” goda Sandra.
“Jadi nenek?”tanya Icha, Cukup lama ia berfikir. “Maksud kamu, kamu lagi hamil?”
“Iya ma.” jawab Sandra senang..
Icha langsung berteriak. “Selamat sayang, mama nunggu kamu kasih kabar ini, Gak nyangka hari ini waktunya.” ucapnya senang.
Terdengar oleh Sandra, ibunya berbicara dengan seseorang. Mungkin saja teriakannya menjadi perhatian. Ia hanya mendengar ibunya berkata. “She’s pregnant! (Dia hamil!)”
__ADS_1
Ketika semua orang berbahagia, ia hanya ingin tahu bagaimana reaksi Calvin jika tahu. Sandrapun berjalan keluar kamar hotel. Ketika berada dilobi, ia melihat lukisan salah satu pemandangan daerah. Ia terpikir sesuatu. Iapun berjalan menuju tempat informasi perjalanan wisata. Ia ingin pergi sendiri. Tanpa suaminya, tanpa keluarganya bahkan sahabatnya sekalipun.