Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )

Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )
Best Friend


__ADS_3

Siang ini Calvin melakukan meeting terakhir sebelum hari pernikahan tiba. Banyak sekali pekerjaan yang datang akhir-akhir ini. Belum lagi pekerjaan dengan kedua sahabatnya. Ia teringat ucapan Edward beberapa saat yang lalu.


"Buat apa sibuk kerja sebelum pernikahan, kamu cuma libur weekend aja. Gak ada honeymoon sama sekali. Kalian serius gak sih mau nikah?" tanya Edward kesal.


"Aku udah bilang, semua ini gara-gara keisengan kamu!" jawab Calvin dibalik teleponnya.


"Kamu kan bisa menolak buat menikah. Kenapa tiba-tiba kamu bertanggung jawab buat menikah sama Sandra?" goda Edward. Ia memang sengaja menginginkan pernikahan terjadi antara keduanya.


"Ya karena.."


"Karena kamu suka sama Sandra. Kamu masih cinta sama dia."


"Enggak. Salah, aku udah gak cinta sama dia. Kita berdua mau menjalani pernikahan tanpa mengganggu privasi masing-masing."


"Munafik." jawab Edward.


"Vin, jangan lupa. Pacar kamu mau dateng." seru Dave dibelakang Edward. Kebetulan sekali Dave tadi pagi terbang ke Singapura untuk urusan bisnis. Ia bertemu dengan Edward saat makan siang.


"Makanya aku iseng sama Calvin. Aku mau menyelamatkan dia dari designer gila itu." ucap Edward pada Dave.


"Aku setuju kalo gitu." jawab Dave cepat.


"Tapi Vin, kamu harus ngomong sama Sandra soal designer itu." ucap Edward. Tidak ada jawaban dari Calvin. "Halo..halo.." Edward melihat teleponnya. Calvin menutup teleponnya.


Sambil menatap berkas didepannya. Ia terdiam sejenak. Ia memang harus memberitahukan Sandra tentang wanita itu. Tapi tidak hari ini. Ia akan melakukannya nanti jika semuanya sudah siap. Kali ini ia harus menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Ia yakin seminggu kedepan ia terlalu sibuk untuk bekerja. Ia kemudian teringat sesuatu. Ia langsung menghubungi Dean untuk memastikan ia menjemput Sandra. Tinggal beberapa menit ia masuk keruang meeting.


"Halo." jawab Dean.


"Jangan lupa jam 1 jemput Sandra." ucap Calvin.


"Tau, ini mau jalan." jawab Dean kesal.

__ADS_1


"Oke." Ucap Calvin langsung menutup teleponnya. Ia kemudian menelpon Sandra. Sedikit lama ia mendapatkan jawabannya.


"Halo.." jawab Sandra lemas.


"Kamu kenapa? Sakit lagi?"tanya Calvin panik.


"Aku lagi tidur." jawab Sandra dengan mata tertutup.


"Kamu pulang hari ini kan?"


"Iya. Emangnya pasien gak boleh tidur." protes Sandra.


"Kalo kita udah menikah, aku bakal larang kamu buat males-malesan kayak sekarang." seru Calvin sambil menutup teleponnya. Sesaat ia menundukkan kepalanya. Bibirnya menyunggingkan senyumannya.


"Ehem.." ucap seorang karyawannya yang masuk ke ruangannya tanpa ia ketahui.


Calvin mengangkat kepalanya. Sekretarisnya datang keruangannya untuk memberitahukan meeting telah siap. Namun ia menemukan Calvin sedang tersenyum sendiri. Ia hanya tersenyum dan tergoda untuk menggoda Calvin.


"Ada sesuatu yang aneh?" tanya Calvin kikuk.


"Ceritanya panjang.." jawab Calvin.


"Cerita kalian memang harus seperti itu, Vin. Jadi ini meeting terakhir kamu?"


Calvin bangun dari duduknya. "Meeting terakhir sebagai single." ucapnya sambil tersenyum.


Sandra melihat kertas berisi perjanjian pranikah yang sudah ditandatangani Calvin. 3 poin itu tidak akan merugikannya. Dan bodohnya Calvin, ia tidak membaca satupun poin yang ia berikan. Ia hanya tahu jika Sandra menginginkan pindah ke apartemennya. Tiba-tiba ia teringat kecupan ringan Calvin semalam. Ia memegang dahinya perlahan. Kalau saja mereka menikah karena saling mencintai rasanya akan sangat bahagia. Sayangnya mereka menikah karena aib keluarga yang menurutnya terlalu dibesar-besarkan. Iapun duduk di ranjang dan menatap keluar jendela.


Aku gak mau bertepuk sebelah tangan. Udah cukup, Calvin. Aku denger sendiri kamu pernah bilang gak cinta sama aku. tapi, pernikahan ini kedepannya gimana? apa mampu aku terus menjaga hati untuk tidak tertarik pada Calvin? cinta pertamanya.


"Dean, kamu bisa anterin tas aku ke rumah mama?Aku ada perlu sebentar." ucap Sandra ketika ia sudah berada di mobil Dean.

__ADS_1


"Mau kemana dulu? Aku udah dikasih tau sama Calvin harus nganter kamu sampe rumah Tante Icha."


"Tinggal bilang kamu udah anterin aku pulang." jawab Sandra sambil mengeluarkan dompetnya. Dean melirik dompet Sandra.


"Agak mahal bayarannya." ucap Dean.


"Aku udah tau." jawab Sandra sambil mengeluarkan beberapa lembar uang. Iapun memberikannya pada Dean. "Keep of secret ya!" bisik Sandra.


"Oke." jawab Dean. Ia langsung menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Hidup Dean memang penuh dengan rahasia orang-orang. Ia telat menjemput Sandra dan kali ini ia harus berbohong.


"Thank you, Dean. I trust you!" jawab Sandra sambil keluar mobil.


"Dasar aneh, udah tau dia masih cedera. Masih aja dia gak ngerasa. Jangan salahin kalo Calvin sampe tau. Aku gak ikut-ikutan." ucap Dean ketika Sandra menutup pintu mobilnya.


Sandra langsung memanggil taxi untuk mengantarnya kesebuah tempat. Kejadian beberapa hari yang lalu tidak membuatnya takut untuk datang ke tempat itu. Bagaimanapun Andre adalah pria yang telah membantunya selama ini. Ia yakin Andre melakukannya karena tidak sadar. Andre yang telah mengenalkannya pada dunia televisi. Ia juga yang telah membantunya ketika ia cedera patah tulang kaki. Rasanya ia tidak percaya Andre berani berbuat seperti itu pada sahabatnya.


Sandra harus menunggu sesaat setelah ia menjalani serangkaian pemeriksaan untuk masuk kedalam kantor polisi. Ia sedikit takut. Tapi ia harus menyelesaikan masalahnya dengan Andre. Tak lama pintu terbuka. Sandra harus terkejut mendapati Andre masih memakai pakaiannya terakhir ketika ia melakukan penganiayaan padanya beberapa malam yang lalu. Kedua tangannya diborgol. Sandra harus merasakan airmatanya turun melihat keadaan sahabatnya seperti itu.


"Sandra,," panggilnya. "mianhae.." ucap pria itu sedih.


"Aku tau kamu ngelakuin itu karena gak sadar." jawab Sandra.


"Aku marah waktu denger kamu mau menikah." ucapnya sambil menunduk.


"Kim!" panggil Sandra. "Aku maafin kamu. Tapi aku mau kamu kembali ke negara kamu." ucap Sandra sedih.


"Jangan nangis, Sandra. Aku salah. Aku gak bisa menjadi sahabat kamu yang baik. Aku janji akan pulang ke negara aku saat bebas nanti tapi aku harus pastikan kamu bahagia disini." jawab Andre.


Sandra memegang tangan Sandra. "Aku janji."


"Kamu bisa janji kembali ke Korea kalau kamu gak bahagia disini?" tanya Andre.

__ADS_1


"Aku janji." bisik Sandra.


"KAMU PIKIR SIAPA YANG IJININ KAMU DATENG KESINI BUAT KETEMU SAMA B*JI**AN INI!" seru seseorang yang berada di pintu dengan butiran keringat masih berada diseluruh wajahnya.


__ADS_2