
Sandra masuk kedalam toko pakaian pria untuk memilihkan beberapa pakaian untuk Calvin. Ia merasa miris ketika tadi siang melihat lemari pakaian Calvin yang sedikit kosong. Beberapa pramuniaga menghampirinya untuk membantunya mencari pakaian. Ia menenteng tasnya dan sibuk mencari beberapa kaos dan kemeja untuk dibeli. Ia sedikit kesal karena tidak tahu ukuran celana Calvin. Dalam urusan belanja, wanita memang jagonya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia mengeluarkan dompetnya. Ia ingat Calvin pernah memberikannya kartu. Ia belum pernah memakainya sama sekali. Ia tersenyum senang. Sepertinya hari ini berjalan sangat baik untuknya.
Calvin hanya tersenyum ketika melihat notifikasi pemakaian kartu yang masuk kedalam handphonenya. Sepertinya Sandra sedang bersenang-senang malam ini. Besok ia akan pulang menggunakan pesawat pagi. Tapi ia baru bisa bertemu Sandra ketika menjelang sore. Ia sedikit tahu jadwal Sandra terakhir. Besok ia akan bertemu dengan Sandra kemungkinan sore hari karena ia harus ke kantor Dave terlebih dahulu.
"Aku tau kamu bisa diandalkan. Investor itu sukanya sama kamu, Vin.." ejek Dave ketika ia menghubungi Calvin.
"Bonus nambah kan?" tanya Calvin.
"Bonus?" tanya Dave terkejut.
"Iya, buktinya Flower Village buka cabang. Siapa lagi yang jadi pahlawan disini selain Calvin?" jawab Calvin bangga.
"Oke,oke, bonus yang kita bagi buat kamu udah terlalu banyak." protes Dave.
"Masih kurang. Aku harus kasih makan istri aku. Biayanya gak murah. Hari ini aja dia udah habisin uang aku 8 dijit."
Dave merasa lucu mendengar Calvin membicarakan masalah uang dengannya. "Belanja apa sampe 8 dijit?"
"Gak perlu tau." jawab Calvin cepat.
\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-ooo\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-\-
Keesokan harinya. Sandra berlari dari satu set ke satu set yang lain. Syuting hari ini sangat padat dan melelahkan. Lebih melelahkan daripada membereskan apartemennya kemarin sore. Beberapa kali ia terjatuh karena banyaknya kabel yang memenuhi ruang studio.
Ia duduk diluar sambil memegang kertas yang ia perlukan untuk syuting berikutnya. Langit sudah hampir sore dan ia belum mendapatkan kabar dari Calvin. Sepertinya ia batal untuk pulang. Padahal ia sudah memenuhi lemari es dengan makanan. Sepertinya kali ini usahanya gagal.
"Kenapa melamun?" tanya seseorang menghampirinya.
__ADS_1
Sandra menoleh untuk melihat orang yang menyapanya. Orang itu adalah Daniel. Artis pendatang baru yang banyak mendapatkan sorotan tahun ini. Itulah yang ia dengar dari orang-orang yang sudah bekerja sangat lama di studio itu.
Pria itu duduk disampingnya. Sandra menggeser kan badannya untuk memberikan ruang yang cukup untuk pria itu duduk.
"Kenapa?" tanyanya kembali.
"Gak apa-apa. Aku cuma kecapean." jawab Sandra
"Oh ya, katanya kamu udah punya suami?"
"Ya."
"Hari ini jemput?"
Sandra menatap orang-orang didepannya yang sedang sibuk. Ia malas mendengar ucapan
"Aku gak tau." ucap Sandra cepat.
"Kenapa gitu? Masa wanita cantik gak dijemput. Mau aku anterin?" godanya.
Sandra langsung berdiri. Tidak ada yang harus ia jawab dari pertanyaan tadi. "Sorry, aku kedalam dulu." ucap Sandra
Tiba-tiba tangannya ditarik. "Jangan sok jadi perempuan. Gak usah jual mahal. Perempuan kayak kamu paling dihargain segini!" ucap pria itu sambil mengangkat beberapa jarinya.
"Jaga ucapan kamu! Aku wanita yang udah bersuami. Aku bisa tuntut kamu atas pasal pelecehan." ucapnya kesal. Ia langsung masuk kedalam.
Calvin keluar dari kantor Dave tergesa-gesa. Ia harus cepat sampai ke studio jika tidak mau ditinggalkan Sandra. Jalanan tidak begitu macet. Ia senang karena akan mempercepat laju kendaraannya. Beberapa kendaraan terlihat mengantri disalah satu gerai makanan. Gara-gara melihat itu saja, ia mendengarkan perutnya berbunyi. Ia memegang perutnya sambil tertawa konyol. Ya, sejak pulang dari Bali tadi siang, ia belum makan.
__ADS_1
Ketika sampai, ia tidak melihat Sandra diluar. Beberapa orang ada diluar sedang menggulung beberapa kabel. Iapun menghampirinya.
"Permisi." panggilnya. Kedua pria itu menoleh.
"Ada yang tau dimana assisten director? namanya Cassandra."
"Oh,,ada didalam." ucap mereka bersamaan.
"Oke, thank you." jawab Calvin sambil berjalan kedalam studio.
Sepertinya ia mendapat hadiah kurang baik. Ia mendengar suara marah Sandra. Nadanya bergetar. Ia berjalan cepat dan melihat beberapa orang sedang melihat tontonan yang menarik.
Ia terkejut ketika melihat Sandra sedang dikelilingi artis muda itu dan bertindak melalui ucapan-ucapannya. Dan yang membuat Calvin kesal adalah tidak ada yang membelanya.
"Sandra!" panggilnya.
Sandra menoleh dan airmata mulai menggenang dimatanya. Calvin menghampirinya.
"Vin.." panggil Sandra sambil terisak. Calvin menghampirinya dan kemudian memeluk Sandra dengan erat.
"Siapa? Laki-laki yang mau booking Sandra?"
Calvin berbalik dan menatap pria itu dengan wajah merah.
"Kamu siapa?"tanya Daniel. Beberapa orang bahkan menarik lengan pria itu.
"Saya?"tanya Calvin. Ia berhadap+hadapan. "Saya suami Sandra. Kenapa?" Wajah pria itu lamgsung berubah.
__ADS_1