
Sandra menutupi wajahnya yang merah dibalik selimut. Ia masih merebahkan tubuhnya disofa tamu. Calvin pergi saat ia masih tertidur. Dan Calvin sengaja tidak membangunkannya. Hanya saja, pagi ini Calvin membuatkan roti panggang untuknya. Ia hanya bisa kembali merebahkan tubuhnya di sofa. Jantungnya berdebar dengan kencang. Apa mungkin ia masih mencintai Calvin?
Semalaman mereka berbaring disofa tanpa mengatakan apa-apa hingga tertidur. Mereka berpelukan hingga bangun dipagi hari. Yang ia dengar sepanjang Calvin memeluknya adalah dua kata itu. Aku Bahagia. Sandra merasa malu sekaligus senang. Ia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu.
Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Ia keluar dari selimut dan mengangkat telepon.
“Halo.”
“Sandra, aku tunggu direstoran Firly ya.” Seru Alena. Hari ini ia libur dan memang sejak kemarin ia mengajaknya untuk bertemu di cafe Firly
“Tunggu,tunggu. Aku belum siap sama sekali.” Ucap Sandra cepat.
“Kamu baru bangun Sandra? Jam berapa ini?” protes Alena. “Ya ampun. Ya udah aku tunggu sekarang.” tambahnya.
Sandra langsung bersiap-siap. Ia hanya memiliki waktu beberapa menit untuk bersiap. Ia hanya membubuhkan dandanan natural di wajahnya. Ia segera memanggil taxi.
Jalanan tidak seperti biasanya lancar untuk tiba di cafe Firly. Alena terlihat sudah menunggunya dengan Firly disebuah sudut ruangan. Kaca-kaca itu membuat kedua temannya terlihat dengan sangat jelas. Iapun masuk dan melambaikan tangan pada keduanya.
“Kok wajahnya merah sih?”tanya Alena menggodanya.
“Enggak ah. Aku cape tadi jalanan macet.“ jawabnya malu sambil mengipasi wajahnya.
__ADS_1
“Udah ngapain aja tadi malem? Jalanan gak macet kok. Aku liat di maps. Kamu bangun siang kan?” goda Alena.
“Apaan sih, Al. Kok kamu jadi godain aku.”rengek Sandra. Firly hanya tersenyum dan meninggalkan mereka berdua kebelakang. "Aku ke belakang dulu." ucap Firly.
"Jujur, kalian ngapain aja tadi malem? Mumpung gak ada Firly.."
"Kita gak ngapa-ngapain kok. Beneran. Tadi malem dia ngasih sesuatu sama aku." jawab Sandra malu. Ia mulai mengeluarkan sebuah kalung dari lehernya.
Alena melihatnya dan tertegun. "Bagus banget, Sandra.. Calvin yang kasih?"
Sandra mengangguk senang. "Tapi aku belum sempet beli kado buat dia. Kamu tau sendiri aku terlalu sibuk."
Alena tertawa. “Ya udah. yuk, anterin aku.” ucapnya sambil menarik lengan Sandra.
“Nyari baju buat Dave. Kamu sekalian aja beliin Calvin. Buat hadiah ulang tahun.” Goda Alena.
Alena dan Dave tahu telah terjadi sesuatu diantara keduanya. Itu memang privasi mereka. Tapi mengingat Calvin merupakan seseorang yang pasif, Dave tidak henti menggodanya. Kebetulan Dave bertemu dengan Calvin untuk meeting. Dave terlihat ramah dan tersenyum sendiri. Dave curiga pasti ada sesuatu antara ia dan Sandra. Ia langsung menghubungi istrinya untuk merencanakan sesuatu. Dan merekapun harus disatukan agar pernikahan mereka sempurna.
Alena membawa mobilnya menuju sebuah mall. Sandra masih saja bingung dengan sikap sahabatnya. Ia membawa Sandra ke toko pakaian pria.
Alena memilah beberapa dasi. Sesekali ia melirik pada Sandra yang nampak kebingungan.
__ADS_1
“Kamu gak beli buat Calvin, Sandra?”tanya Alena.
“Aku..aku gak tau kesukaan dia gimana. Kalo baju sehari-hari dia aku tau, tapi baju kantor aku gak yakin." jawab Sandra gugup.
“Setau aku Calvin sama Dave sama seleranya. Kamu perhatiin deh. Coba kamu cari dulu.”
Sandrapun mulai menyentuh beberapa dasi dan ada salah satu yang menarik perhatiannya. “Aku ambil ini aja.”ucap Sandra dijawab anggukan Alena. Ia mengeluarkan uang dari sakunya sendiri kali ini.
Setelah mendapatkan apa yang Alena inginkan, ia membawa Sandra untuk melanjutkan mencari pakaian untuk mereka sendiri.
“Al, kamu gak ada pasien emangnya ngajak jalan aku?”
“Jadwal aku dirumah sakit cuma pagi sampe siang aja Sandra.” jelas Alena.
“Kok kamu gak kayak dokter lain?”
“Mereka punya praktek sendiri. Makanya pasiennya banyak.”Jawab Alena dengan mata masih melihat-lihat pakaian didepannya. Setelah Alena menemukan pakaiannya, ia mengambilnya. “Nah, ini cocok buat kamu Sandra” ucapnya..
Dress dengan bahu terbuka sepenuhnya sengaja dipilih Alena agar malam ini akan terjadi sesuatu yang berkesan antara Sandra dan Calvin.
“Oke, aku ambil. Tapi kamu harus pake ini.” Ucap Sandra memberikan dress yang hampir serupa tapi yang ia pilih sengaja memperlihatkan punggungnya yang terbuka.
__ADS_1
“Siapa takut” ucapnya tegas. Dalam hatinya ia meminta maaf pada Dave. Dave sudah pernah memintanya untuk tidak memakai pakaian sexy diluar. Tapi demi Sandra, apapun akan ia lakukan.