
**Sembilan tahun yang lalu.
Calvin sedang berlatih basket di lapangan sekolahnya siang itu. Setelah pulang dari Bali, semua siswa hanya tinggal menunggu acara kelulusan. Namun Calvin sedikit sibuk dengan calon perguruan tinggi yang akan ia masuki.
Ia hanya memiliki dua opsi untuk melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi. Ia memiliki pilihan antara Michigan atau Inggris. Tapi sebelum ia memutuskan, ia harus menyelesaikan semuanya. Ia harus membuktikan sesuatu. Ia masih kurang percaya pada ucapan Dinda yang mengatakan jika Sandra memiliki banyak kekasih. Selama ini ia tidak melihat Sandra telah melakukan hal yang aneh.
Ia terdiam sejenak sambil memegang bola basketnya disamping lapangan Beberapa siswa mulai keluar dari kelas Sandra. Ia dengar jika kelas Sandra sedang melakukan persiapan untuk acara perpisahan kelas. Jadi ia sengaja menunggunya. Calvin menoleh untuk menunggu Sandra keluar dari kelasnya. Ia ingat selama setahun kebelakang, Sandra sering melihatnya dibalik jendela yang tepat berada didepannya. Ia tersenyum sambil menunduk. Jika ia bisa bersama Sandra dan ia mau meninggalkan semua kekasihnya hanya demi ia sendiri, ia akan menerima Sandra dengan baik. Ia bisa bicara baik-baik dengan Sandra. Ia tidak akan mendengarkan Dinda atau siapapun yang mengatakan hal buruk tentang Sandra. Ia akan meminta maaf terlebih dahulu pada sikap buruknya ketika di Bali.
Seseorang berjalan melewatinya. Calvin menarik tangan pria itu.
"Sandra ada?"
"Sandra? Terakhir waktu ke Bali minggu kemarin, kita belum liat lagi."
Calvin masuk ke kelas Sandra dan memang tidak bisa menemukannya. Apa Sandra sakit?
"Vin, kamu nyari aku?" tanya Dinda yang datang menghampirinya.
Calvin mengangkat tangannya. "Stop." ucapnya cepat. Dinda menatapnya bingung. Wajah Calvin tiba-tiba berubah panik. Ia tidak mau menatap Dinda yang jelas-jelas mengenalnya. Ia langsung berlari menuju ruang tata usaha.
"Sandra? Udah gak disini." ucap salah seorang pegawai tata usaha.
Calvin menatap bingung. "Kan belum perpisahan pa? pergi kemana?"
__ADS_1
"Waktu pulang dari Bali dua hari setelahnya, kedua orang tua Sandra datang kesini. Sandra udah diterima di universitas diluar negeri. Katanya malamnya langsung pergi."
"Dimana pa?"tanya Calvin kecewa. Pegawai tata usaha hanya menggelengkan kepalanya.
Calvin keluar dengan lesu. Ia tidak menyangka pertemuannya di Bali akan menjadi pertemuan terakhirnya dengan Sandra. Ia tidak tahu kapan mereka akan bertemu kembali.
Sandra, kamu gak kasih kesempatan sama aku buat menyampaikan isi hati aku? Kamu sakit hati sama ucapan aku? Aku minta maaf, Sandra..Aku gak peduli kamu banyak pacar. Aku gak peduli kamu buruk dimata temen-temen kamu. Aku cuma mau kamu ada disini. Kalo kamu mau marah, kamu bisa pukul aku. Aku tau kamu suka sama aku. Aku bener-bener menyesal karena gak sempet denger penjelasan kamu waktu itu. Ternyata cinta tak tersampaikan sangat sakit rasanya. Ia mendapatkan karma dari Sandra.
Calvin memegang dadanya. Ia pasrah karena Sandra sudah pergi. Ia tinggal melakukan pilihan akan masuk perguruan tinggi mana. Iapun pergi dari sekolah untuk bertemu dengan orangtuanya.
Dinda berlari untuk mengejar Calvin yang akan pulang ketika ia melihatnya didepan kelas tadi. Calvin berjalan cepat menuju parkiran motor. Tidak ada raut wajah senang. Yang ada hanya kecewa.
"Vin.. tunggu!" panggil Dinda.
"Vin, kamu kenapa?" tanya Dinda bingung. Ia melihat Calvin sedang menunduk.
Dinda langsung dapat menebak apa yang Calvin pikirkan. Pasti tentang Sandra.
"Vin, kamu gak usah pikirin Sandra lagi. Dia udah pergi jauh. Aku tadi nanya ke bagian TU. Yang aku denger, dia mau ngejar pacarnya yang sekolah diluar negeri juga. Masa kamu gak ngerti. Aku udah pernah bilang, pacar Sandra itu banyak. Aku gak mau kamu terjebak sama perasaan kamu." ucap Dinda sambil menatap perubahan wajah Calvin.
"Asal kamu tau , nama Sandra udah kita blacklist di kelas. Dia gak pantes buat jadi alumni sekolah kita."
Calvin menatap Dinda tajam. "Kenapa kamu lakuin ini sama aku? Kenapa kamu ngejelek-jelekin sahabat kamu sendiri?"
__ADS_1
Dinda sedikit gugup. "Aku gak ngejelek-jelekin. Aku bilang soal fakta yang memang terjadi. Aku ngomong fakta ini karena aku sayang sama kamu. Aku suka sama kamu, Vin. Aku bersedia pacaran sama kamu tanpa kamu cintai. Asal kamu ada disamping aku" ucap Dinda sambil terisak.
Calvin hanya menatap Dinda dengan kosong. Satu tangannya terangkat dan menyentuh rambut Dinda. Ada benarnya ucapan Dinda. Sandra sudah pergi. Ia bahkan tidak berpamitan dengan teman-temannya di kelas.
"Sayang, mama sebenernya gak ngijinin kamu pergi sekolah di Korea. Kenapa gak disini aja sih?" tanya Icha kesal.
"Mama sayang, Sandra udah dewasa. Sandra mau suasana yang berbeda. Mama harus percaya sama Sandra. Sandra baik-baik aja selama disana. Sandra disana bareng uncle Jo. Jadi mama gak usah kuatir." ucap Sandra sambil tersenyum. Ia memeluk ibunya dengan erat.
"Temen-temen sekolah kamu taunya kamu udah pergi dari kemarin-kemarin." ucap Icha.
Sandra hanya tertawa. "Aku gak punya temen jadi biarin aja."
"Kamu terlalu dadakan. Kenapa langsung kepikiran Korea? Bukannya kemarin kamu mau kuliah di Michigan atau Inggris? Untung ada Uncle Jo yang bisa bantuin kamu ke Hankuk University" ucap Icha.
Sandra terdiam. Ya, ia tahu. Michigan dan Inggris adalah dua opsi kampus terbaik menurut Calvin. Ia tahu Calvin akan masuk ke salah satu universitas disana menurut seseorang yang satu kelas dengan Calvin. Tadinya Sandra akan mengikuti jejak Calvin. Tapi, ia kecewa parah pada pria itu. Ia bahkan tidak mau mendengar sepatah katapun dari mulut Sandra. Jangankan mendengar, menatap saja ia tidak mau. Cinta bertepuk sebelah tangan membuat hatinya sakit. Ia menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.
"Mam!!!!" panggilnya. Ia memeluk Icha dengan erat sambil menangis. Mam, anakmu ini sedang patah hati. Anakmu ini butuh waktu buat ngelupain Calvin. Calvin adalah cinta pertama anak mama dan orang pertama yang menyakiti hati anak mama. Sakit hati mam..
"Hati-hati dijalan,sayang. Jangan lupa kasih kabar kalo udah sampai dirumah uncle Jo." bisik Icha.
Sandra mengangguk pasrah. Ia melepaskan pelukannya pada Ibunya dan berjalan seorang diri ke dalam terminal internasional. Ia melambaikan tangannya.
*SELAMAT TINGGAL, CALVIN. AKU HARAP SUATU SAAT KITA GAK AKAN PERNAH KETEMU LAGI***
__ADS_1