
Calvin terbangun keesokan paginya. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya ia masuk ke kamar mandi untuk bersiap ke kantor. Hari ini ia masih harus mengurus komplenan dari salah satu kliennya. Melelahkan tapi ia harus bertanggungjawab. Buruknya ia dan Julia harus berangkat untuk melihat langsung hasil interior yang sudah dilakukan Julia.
Ia keluar setelah bersiap-siap. Tidak ada harum kopi seperti pagi sebelumnya. Tidak ada tanda-tanda Sandra sudah bangun. Ia melihat kamar Sandra tertutup rapat. Iapun menghampiri kamar Sandra dan mengetuk pelan.
"Sandra..." panggilnya. Tidak ada jawaban. Ketika ia membuka pintu, kamar Sandra kosong. Ia mengetuk kamar mandi dan ternyata kosong. Sandra tidak ada di kamarnya. Ia mulai mencari di beranda dan didapur. Tetap tidak ada. Iapun menghubungi Sandra melalui telepon.
Nada pertama tersambung. Tidak diangkat. Nada kedua tersambung. Tetap tidak diangkat. Nada ketiga, terdengar suara Sandra.
"Halo." jawab Sandra dingin.
"Kamu dimana?" tanya Calvin.
"Bukan urusan kamu." jawab Sandra kesal.
"Sandra! Jawab, kamu dimana?" tanya Calvin marah.
"Aku dirumah orangtua kamu. Puas!" jawab Sandra sambil menutup teleponnya. Calvin terdiam. Untuk apa Sandra ke rumahnya? Dengan cepat ia membawa kunci mobilnya dan membawa mobilnya menuju rumah orangtuanya. Ketika baru saja setengah jalan, handphonenya berbunyi.
"Halo.."
"Vin, klien kita mau memutuskan kontrak kalo kamu gak kesini sekarang. Mereka ngamuk-ngamuk." ucap Amara panik.
"Iya Tante, Calvin kesana sekarang." jawab Calvin cepat. Ia membalikkan mobilnya dengan cepat. Beberapa mobil menekan klakson mereka karena cara Calvin membelokkan mobilnya terlalu cepat. "Ah, Shit!!" umpatnya. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu sebelum menemui Sandra.
Sandra melihat menu makanan yang ada dimeja. Ia tadi berangkat pagi sekali. Ia tidak mau melihat Calvin terlebih dahulu. Ia terlalu kecewa karena Calvin tidak jujur. Entah apa yang ada di pikirannya, ia langsung pergi ke rumah orangtua Calvin.
Anita melihat Sandra yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk nasi goreng yang ada didepannya. "Kamu kenapa?" tanya Anita bingung.
Sandra menghentikan gerakannya. Ia menatap Anita yang sejak tadi memperhatikannya. "Gak apa-apa ma. Sandra gak enak perut."
"Jangan-jangan kamu hamil. Apa kamu ngerasa mual?"
Sandra menggelengkan kepalanya. "Enggak ma, Sandra gak hamil. Sandra cuma lagi gak mood makan."
"Kirain mama kamu hamil." ucap Anita kecewa.
"Belum ma.." jawab Sandra pelan. Ia menunduk.
"Kamu harus cepat-cepat hamil. Mama dan mama kamu udah pengen menimang cucu. Kami sudah gak muda lagi." ucap Anita.
"Iya ma." jawab Sandra lemas
Calvin harus berangkat ke Batam tadi siang untuk melihat proyek yang gagal itu. Klien yang datang ke kantornya ternyata hanya beberapa preman yang disuruh oleh mereka. Ia telah menyelesaikan semua pekerjaannya. Ia dan kliennya telah mencapai kesepakatan.
__ADS_1
"Maaf pa. Karena saya, bapak harus mengurus pekerjaan ini." ucap Julia. Wajah wanita itu terlihat masih tegang sejak tadi siang. Ia hampir saja menangis ketika ditunjuk-tunjuk oleh klien. Untung saja Calvin selaku bosnya bisa menenangkan hati klien yang terlihat sangar itu.
"Saya harap ini terakhir kali kamu berbuat kesalahan. Kesalahan sekecil apapun, kamu sendiri yang tanggung." jawab Calvin.
Julia hanya mengangguk sambil terdiam. Ia menunduk malu.
"Saya pergi duluan. Tolong nanti kamu bilang Amara, siapkan berkas saya buat besok pagi." ucap Calvin. Ia sengaja mengatakan itu agar karyawannya tidak panik. Padahal ia bisa menghubungi Amara secara langsung.
Iapun mulai menaiki mobilnya yang ia gunakan tadi siang saat ke bandara. Hanya beberapa jam saja ia berada di dua kota dan dua pulau berbeda. Beberapa hari yang sangat melelahkan. Ia melihat handphone nya yang berdering sejak tadi. Dinda menghubunginya. Ia tidak peduli.
Mobil memasuki halaman rumahnya. Beberapa bulan ia tidak pulang. Padahal beberapa waktu lalu, ia mengajak Sandra untuk melihat kedua orangtuanya. Iapun masuk kedalam rumah. Ia melihat Dean ada di sofa ruang keluarga. Rasanya sudah lama tidak mengganggu adiknya. Ia berjalan pelan. Dengan cepat ia mengambil handphone nya. Dean langsung berdiri. Ia marah tanpa melihat siapa yang mengambil handphonenya.
"Ih, orang ini lagi. Ngapain kesini sih?"ucap Dean kesal.
Calvin langsung memukul kepalanya pelan. "Dasar ABG. Gak sopan sama yang tua. Mau dikurangin jajan bulanannya?"
"Oh gak bisa, itu kewajiban kakak sama adiknya. Gak bisa dikurangin.." bela Dean.
"Loh.." jawab Calvin bingung. Dean langsung mengambil handphone nya dengan cepat. "Tuh, samperin Sandra. Dari pagi ngelamun terus." ucap Dean sambil berlari ke atas.
Calvin langsung mencari Sandra.
"Ada didapur sama mama kamu." ucap ayahnya yang saat itu sedang menonton televisi.
"Masih ada mama. Jangan mesra-mesra disini." protes ibunya.
Sandra langsung melepaskan tangan Calvin dari pinggangnya.
"Habisnya Sandra marah sama aku, ma. Gak jelas kenapa marahnya." ucap Calvin sambil menatap Sandra.
Sandra hanya menunduk tanpa berkata apa-apa.
"Sebaiknya kalian beresin urusan kalian. Mama gak akan ikut campur." ucap Anita.
Calvin membawa Sandra ke kamarnya. Ia memegang tangan Sandra kemanapun ia melangkah.
"Lepas, Vin." ucap Sandra pelan.
Calvin menutup pintu kamar dan membawa Sandra. Ia meminta Sandra untuk duduk disamping tempat tidur. Ia pun menarik kursi dan duduk didepannya.
"Kenapa?Kamu marah sama aku?"tanya Calvin.
Sandra menatap Calvin. "Iya. Tadi pagi kamu marah-marah sama aku."
__ADS_1
Calvin menyimpan kedua tangannya di bahu Sandra. "Sandra, aku marah karena kamu gak ada disana. Gak ada kopi, gak ada sarapan, gak ada kamu.. Jelas?"
"Aku bukan pembantu kamu." jawab Sandra tanpa mau menatapnya.
"Aku gak pernah bilang kamu pembantu aku. Kamu istri aku, Sandra. Kamu tinggal disana sebagai istri aku. Sekarang jawab, kamu marah sama aku dari malem. Kenapa?"
Sandra menunduk. "Gak apa-apa."
Calvin mengangkat wajah Sandra. "Jujur."
"Aku kecewa sama kamu, Vin. Kemarin kamu kemana?"tanya Sandra.
"Kemarin?" jawab Calvin bingung. Apa Sandra lihat Dinda?pikirnya. "Kemarin aku ketemu klien sama Dave. Alena juga ada disana."
Sandra menoleh kesamping. Ia mendorong tubuh Calvin yang sangat dekat dengannya. "Kamu bohong. Kemarin Alena seharian sama aku. Bahkan handphone aku baru aku ambil tadi pagi waktu perjalanan kesini. Tadi pagi aku tanya Alena. Dave ada disana. Kamu gak ketemu mereka."
Calvin menutup wajahnya. "Kamu nunggu aku di apartemen? Jadi itu yang kamu permasalahkan?"
"Aku nunggu kamu di cafe itu, Vin. 2 jam. Handphone aku dibawa Alena karena dia takut aku kabur. Aku nunggu kamu disana." jawab Sandra hampir menangis.
"Klien itu kamu? Kamu ngapain ke cafe?" tanya Calvin bingung.
"Alena yang punya rencana. Dia bikin rencana buat kita kencan. Karena semenjak kita nikah, kamu belum pernah ajak aku kemana-mana. Makanya dia pesen kursi di cafe itu buat kita. Tapi yang dateng cuma aku sendiri. Aku kesel sama kamu. Kamu gak jujur waktu semalem." jawab Sandra kesal.
Calvin langsung memegang tangan Sandra. "Oke, aku minta maaf sama kamu. Aku ngecewain kamu kemarin. Aku minta maaf, oke.. Maafin aku, Sandra. Kalo aku tau itu kamu, aku pasti langsung dateng. Aku gak mungkin nyia-nyiain kesempatan ini." jelas Calvin.
Sandra terdiam.
"Maafin aku. Aku janji gak akan ngebohong lagi. Aku bakal cerita sama kamu tapi nanti. Aku cape, Sandra. Seharian ini aku cuma beberapa jam aku ada di dua pulau berbeda." ucap Calvin. Ia menundukkan kepalanya di bahu Sandra.
"Oke aku maafin kamu. Tapi kamu janji harus cerita semuanya." jawab Sandra.
"Aku janji." ucap Calvin sambil memeluk Sandra dengan erat.
Sandra ingin sekali tidur tapi tubuh Calvin begitu berat. Malam ini mereka tidur dirumah orangtua Calvin . Alasannya karena Calvin kelelahan. Saat ini Calvin sedang berbaring dan memeluk Sandra dengan erat. Sandra hanya mendengar suara nafas berat Calvin. Ia memegang lengan Calvin yang melingkari lehernya.
"Aku cape."ucap Calvin tiba-tiba.
Sandra melepaskan tangannya. "Istirahat." ucapnya pelan.
"Untung ada kamu. Besok malem kita kencan ya Sandra, jangan pake perantara. Gak usah ada Alena sama Dave diantara kita. Cukup kita berdua yang bikin rencana." bisik Calvin.
Sebelum Sandra menjawab, Calvin sudah tertidur kembali
__ADS_1