
Sandra menatap wajahnya di cermin. Ia sudah siap berangkat ke acara reuni sekolahnya. Sayangnya Calvin tidak bisa pergi karena harus berada di kantor Dave untuk waktu yang sedikit lama. Edward tidak ada sehingga team mereka hanya tinggal Calvin dan Dave. Ia masih berada dirumahnya. Masih ada dua jam sesuai planning yang ia terima dari grup chatnya kemarin sore. Ia tidak pernah merasa excited sebelumnya. Bukan karena acara itu, tapi pertemuannya dengan wanita itu untuk pertama kalinya.
Ia mendengar suara taxi diluar. Sudah beberapa tahun ia masih trauma untuk membawa mobil sendiri. Pernah satu kali ia memakainya karena terpaksa harus mengantar Alena ke rumah sakit. Sebelum pergi, ia melihat kembali dandanannya dicermin. Ia tidak mau kalah dari dandanan Dinda yang seorang desainer.
Calvin dan Dave baru saja bertemu dengan kliennya, tapi mereka berdua diharuskan kembali bertemu klien yang datang jauh-jauh dari Thailand. Mereka datang untuk merundingkan masalah yang sedang terjadi dalam pembuatan taman terbesar yang sedang mereka garap. Jika tidak beres malam ini, mereka berdua harus pergi ke Thailand untuk melihatnya sendiri.
“Rugi berapa?”tanya Dave serius. Ia masih melihat laptopnya untuk waktu yang cukup lama.
“Masih belum tau. Pemerintah sana sampe marah sama kita. Berarti masalah ini enggak kecil, Dave. Aku bisa stress kalo kayak gini.”ucap Calvin kesal. Ia mengacak-acak rambutnya .
“Kita bisa hadapi. Tenang aja. Kita hadapi bersama.” jawab Dave sambil menatap Calvin. Calvin hanya diam. “Udah, gak usah dipikirin. Kita hadapi bersama kalaupun rugi. Kamu gak perlu bawa pusing kamu itu ke rumah. Aku tau kamu.” peringatan Dave membuat Calvin menatap ke samping.
“Aku gak tau.” jawab Calvin.
Sandra turun dari taxi. Ia melihat restoran itu sepertinya telah di booking oleh Dinda hanya untuk suaminya. Tapi sayangnya yang datang bukan suaminya. Melainkan dirinya. Tanpa sadar Sandra tersenyum sendiri. Iapun masuk kedalam dan disambut oleh Cindy yang sudah berdandan cantik. Rasanya baru kemarin ia lulus, tapi melihat teman-temannya datang membawa anak mereka membuatnya berfikir jika mereka sudah lulus lebih dari 10 tahun yang lalu.
“Sandra, kamu menghilang waktu acara kelulusan.” seru seseorang dari belakang. Sandra menoleh untuk melihat siapa yang berbicara dibelakangnya.
Pria itu adalah Albert. Ketua OSIS yang kebetulan satu kelas dengannya. Banyak yang menyukai Albert karena ketampanannya kala itu. Sampai saat ini pria itu belum menikah. Padahal ketika sekolah dulu, banyak yang patah hati.
“Albert, udah lama kita gak ketemu.” ucap Sandra senang. Pria itu menghampirinya.
“Kamu udah nikah ya?”tanya Albert.
Sandra mengangkat jari manisnya sambil tertawa.
“Denger-denger sama kapten basket kita. Bener gak sih?”tanya pria itu.
__ADS_1
Cindy yang memang belum mengetahuinya langsung menyerbu pada pembicaraan itu.
“Calvin? Bukannya Calvin pacaran sama Dinda. Mereka intim banget loh waktu itu. Nempel terus kayak perangko.” seru Cindy. Kemudian ia tersadar dan menatap Sandra sambil tersenyum malu. “Eh, sorry suami kamu dulu kayak gitu. Sekarang udah enggak kok. Cintanya sama kamu aja”
“Eh, Dinda dateng.” ucap Albert.
Sandra melihat Dinda menghampirinya. Wajahnya terlihat terkejut tapi ia tahu ia bisa menutupinya dengan wajah malaikatnya.
“Sandra, apa kabar. Long time no see ya, aku kira kamu enggak dateng.”ucap Dinda yang langsung memeluknya.
Sandra tersenyum sinis. “Oh ya, selamat ya buat pembukaan butiknya. Ternyata kamu jadi desainer berkelas.”
“Thank you, Sandra.” jawabnya sambl menatap keluar. Ia terlihat mencari seseorang.
“Kamu cari siapa?” tanya Albert.
Sandra langsung berdeham. “Maksud kamu suami aku, Dinda?” tanyanya sambil mengangkat jari manisnya.
Dinda tersenyum samar. “Sorry Sandra, aku gak suka suami orang lain.”
“Tapi kamu suka kan sama gebetan temen kamu.” jawab Sandra.
“Maksud kamu apa?” tanya Dinda marah.
“Suami aku Calvin. Gebetan aku jaman sekolah dulu yang kamu ambil.” jawab Sandra sambil tersenyum.
Wajah Dinda langsung berbeda. “Kamu.. kamu yang menikah sama Calvin?” tanya Dinda. Ia terlihat tidak tahu, padahal sore ini ia mengetahuinya dari beberapa orang yang hadir di acara itu sebelum Sandra datang. Ia terkejut awalnya, tapi ia mulai merencanakan sesuatu.
__ADS_1
Sandra tersenyum puas.
Tiba-tiba Dinda menampar pipinya. “Kamu jahat Sandra, kamu ambil pacar aku disaat aku bekerja keras di paris sana. Aku gak nyangka punya sahabat kayak kamu.”
“Kamu yang jahat sama aku.” jawab Sandra kesal.
Dinda menarik lengan Sandra keluar.
“Eh, mau kamu apa?” tanya Sandra kesal.
Teman-temannya mulai mengikuti mereka. Acara itu sepertinya akan berantakan.
Dinda mendorong Sandra dan hampir terjatuh.
“Kamu jahat. Liat temen-temen, dia jahat. Dia nikahin pacar aku. Dan sekarang tanpa malu datang ke acara ini, dengan sombongnya ngeliatin cincin pernikahan mereka. Aku sakit! Aku pacaran sama Calvin lebih dari 10 tahun. Tapi kamu yang nikahin dia.” tangis Dinda histeris. Beberapa orang terlihat membantunya. Dinda terus menangis histeris.
“Kamu yang duluan ambil Calvin dari aku.” seru Sandra
“Mana buktinya? Gak ada bukti aku merebut Calvin.” jawab Dinda.
“Wah, parah kamu Sandra. Sekalinya pulang ke sini langsung ambil pacar orang.” ucap seseorang yang diamini oleh beberapa orang lainnya.
“Sandra, lebih baik kamu pergi. Kamu gak ubahnya serigala dan pengacau di acara pesta ini. Kamu gak diterima disini. Lebih baik kamu pergi dari sini.” ucap CIndy.
Sandra tersenyum samar. “Kalian… Kalian akan tau kalau yang kalian bela itu salah. Kalian cuma terhipnotis sama uangnya Dinda. Dinda donasi uang buat acara ini semua plus acara amal yang kalian bikin. Padahal kalo kalian sadar, kalian itu dimanfaatin sama serigala ini!” seru Sandra marah.
Dinda menghampirinya dan langsung menampar pipi Sandra dengan kencang. Terasa bibirnya perih dan darah keluar dari sudut bibirnya. Ia meringis perih.
__ADS_1
Sandra langsung menerjang tubuh Dinda hingga terjatuh. Tapi Dinda tidak bangun. Ia pingsan.