Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )

Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )
Dinda


__ADS_3

Beberapa tahun yang lalu.


Calvin mendatangi sebuah cafe ketika ia sedang liburan kuliahnya selama dua bulan. Ia harus menemui seseorang. Wanita itu sudah menunggunya.


"Siang, Kak." ucap Calvin.


Wanita itu tersenyum. Wanita itu adalah Ariel, kakak Dinda. Tadi malam ia menghubungi Calvin karena ingin membicarakan sesuatu.


"Vin, makasih karena kamu udah mau menjaga Dinda walaupun kakak tau kamu sendiri tersiksa harus menjalani hubungan dengan seseorang yang gak kamu cinta. Kakak bisa merasakannya." ucap Ariel dengan wajah muram.


Calvin meminum cola yang ada didepannya. Ia tersenyum walaupun terpaksa. "Kalo boleh jujur, sebenernya aku tersiksa harus berhubungan sama Dinda."


"Kakak tau. Makanya itu kakak panggil kamu kesini." ucap wanita itu.


Calvin mulai mendengar dengan serius perkataan Ariel.


"Kami kehilangan orangtua saat Dinda memasuki kelas satu sekolah menengah. Dinda itu perfeksionis. Dia selalu suka sesuatu yang sempurna. Ketika kedua orangtua kita masih ada, mereka terlalu memanjakan anak itu. Apapun yang diminta pasti dikasih. Makanya pas kakak tau dia jegal teman kalian, kalo gak salah namanya Sandra, kakak sedih. Ternyata sifat itu masih ada. Dan lebih parahnya, dia gak peduli sama perasaan kamu dan Sandra. Dia juga masih harus minum obat sampai sekarang gara-gara depresi itu. Kalau keinginannya gak dipenuhi, Penyakit Dinda bisa kambuh."


Calvin hanya diam sambil menunduk.


"Kakak malu sama kamu. Karena kamu harus mengalami sesuatu seperti ini, Vin."


"Semuanya sudah terjadi kak. Aku cuma berfikir bagaimana caranya melepaskan Dinda."


"Nah, justru itu kakak mau ketemu kamu. Jadi gini Vin, tanpa sepengetahuan Dinda, kakak mengirimkan proposal gambar-gambar Dinda ke sekolah design di Paris. Kabar baiknya tadi malem kakak terima suratnya. Dia diterima sekolah disana."


Calvin merasa ada celah untuk meninggalkan Dinda. "Kakak mau aku gimana?"

__ADS_1


"Kakak minta sama kamu buat bujuk Dinda. Kesempatan ini gak akan pernah datang dua kali, Vin. Setidaknya kalau Dinda pergi, kamu gak akan punya beban. Untuk selanjutnya biar kakak yang berfikir soal Dinda."


Calvin menghembuskan nafas berat. "Akan Calvin coba, kak." Ia masih merasa pesimis karena Dinda adalah orang yang nekat.


"Iya, Kak Ariel. Calvin inget." jawab Calvin ketika ia mengingat suara wanita itu.


"Bisa kita ketemu. Ini terlalu urgent, Vin. Kakak ada di rumah sakit Pharma Medika. Kamu bisa kesini sekarang? Dinda mencoba bunuh diri beberapa hari yang lalu." ucap Ariel.


Calvin terkejut. Ia melepaskan cangkir yang ia pegang sehingga jatuh berkeping-keping. Sandra yang mendengar itu langsung berlari ke arahnya. Ia pikir beberapa hari Dinda tidak menghubunginya karena ia sudah menyerah.


"Kenapa, Vin? Kamu gak apa-apa?" tanya Sandra panik. Ia memegang bahu Calvin.


Calvin menatap nanar Sandra. "Aku gak apa-apa." ucapnya pucat.


Sandra memegang tangan Calvin dan melihatnya dengan teliti. Ia takut ada yang tergores. Ia masih menggunakan celemeknya saat menyapu pecahan kaca itu.


"Sandra.."


Sandra menoleh. "Kenapa?"


"Aku harus pergi sekarang. Ada masalah di kantor." ucap Calvin sambil berdiri.


Sandra ikut berdiri. Ia menatap Calvin bingung.


"Aku pergi dulu." ucap Calvin sambil memeluk Sandra sekilas.


"Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan. Kamu gak makan siang dulu."

__ADS_1


"Iya. Aku pergi dulu. Bye" serunya sambil berlari.


Sandra melihat meja pantry nya terdapat berbagai sayuran yang tadi ia keluarkan. Ia sempat bingung ketika melihat Calvin melepaskan cangkirnya.Siapa yang menghubunginya? Kenapa wajah Calvin tiba-tiba pucat?


pucat?


Sandra duduk di sofa dan berfikir. Ia tidak pernah melihat Calvin pucat seperti itu. Ia menatap jam tangannya. Ia yakin Calvin sudah sampai di kantornya. Iapun menghubungi seseorang.


"Tante.." panggil Sandra


"Iya sayang. Kenapa? tumben kamu telepon. Calvin masih disitu?" tanya Amara.


"Calvin belum nyampe?" tanya Sandra.


"Dia kan bilang mau makan siang sama kamu." jawab Amara bingung.


"Oh, oke Tante, makasih ya." jawab Sandra cepat. Ia langsung menutup teleponnya.


Calvin pergi satu jam yang lalu. Ia tidak mungkin membohonginya. Tadi ia berkata ada masalah di kantor. Tapi sepertinya tidak ada masalah di kantor. Iapun mulai menghubungi Dave.


"Sandra, aku gak mau dimasakin sama kamu?" tanya Dave yang tiba-tiba berbicara. Ia terdengar senang.


Sandra menghela nafas. "Dave, Calvin ada disitu?"


"Dia kan pulang buat makan siang sama kamu." jawab Dave.


"Oh, oke kalo gitu. Kalo ketemu Calvin jangan bilang aku telepon." ucap Sandra serius.

__ADS_1


Ia terdiam dan menatap lukisan yang ada didepannya. Gambar itu seakan mentertawakan kebingungannya. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Calvin. Kenapa perasaannya jadi tidak enak saat ini? Jadi dimana Calvin berada?


__ADS_2