Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )

Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )
Broken


__ADS_3

Calvin menatap laptopnya dengan serius. Ia bersama dengan Dave bekerja lembur malam ini. Semuanya serba mendadak. Ia menatap Dave. Ia pun terlihat stress sama sepertinya. Apalagi keadaan Alena saat ini sedang hamil. Ia dan Dave harus meninggalkan istrinya masing-masing. Sedangkan Edward, ia keluar dari proyek ini untuk kedua kalinya. Padahal jika ada Edward, ia akan menyelesaikan perkara ini dengan mudah. Ia lebih mengenal beberapa pejabat pemerintah thailand daripada mereka berdua.


Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Ia melihat Sandra menghubunginya.


“Halo.” jawab Calvin serius.


“Vin, bisa kesini. Jemput aku, aku ada dirumah sakit.” ucap Sandra.


Calvin melepaskan tatapannya pada laptopnya. “Kenapa kamu ada dirumah sakit?”


“Kamu kesini dulu. Nanti aku cerita.” jawab Sandra sedikit gugup.


“Chat aku kamu di rumah sakit mana.” ucap Calvin cepat. Ia menutup laptopnya dan berdiri. “Aku pergi dulu.”ucapnya pada Dave.


"Inget sepusing apapun, jangan jadikan Sandra jadi sasaran kemarahan kamu. Ini proyek kita berdua. Kita yang ngeberesinnya." ucap Dave memperingatkan Calvin.


Sandra menunggu didepan ruang UGD sebuah rumah sakit. Ia bingung, ia hanya mendorong Dinda pelan, kenapa wanita itu bisa pingsan dan saat ini belum sadarkan diri? Beberapa temannya yang ikut ke rumah sakit banyak yang memojokkannya. Kenapa jadi seperti ini?


Sandra menunduk dan bingung harus berbuat apa. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang serius pada Dinda? Ia memegang lengannya yang lebam akibat pukulan Dinda. Dan bibirnya masih terasa perih, tapi tadi ia sudah meminta obat pada suster.


“Sandra!” panggil Calvin cemas. Ia sedang berlari ke arahnya.


“Vin..” panggil Sandra sambil memeluk Calvin.


“Kamu kenapa?” tanya Calvin cemas.


“Calvin, itu kamu ya?”tanya seseorang yang baru keluar dari ruang dimana Dinda dirawat.


Calvin menoleh pada wanita itu. Ia sepertinya ingat tapi dimana?

__ADS_1


“Aku cindy. Temen sekelas Sandra.” ucapnya. “Aku mau ceritain semuanya. Acaranya berantakan gara-gara istri kamu.” ucap Cindy sambil menatap Sandra.


“Apa? enak aja.” seru Sandra.


Calvin mengangkat tangannya untuk meminta Sandra diam.


“Kenapa?” tanya Calvin serius.


CIndy memberikan potongan video lewat handphonenya pada Calvin. Ia terlihat marah. Ia menoleh pada Sandra. “Aku gak nyangka kamu bar-bar, Sandra. Aku tau Dinda salah, tapi kamu gak bisa pake kekerasan kayak gini.” ucapnya marah.


“Kamu salahin aku?”tanya Sandra kesal.


“Ada buktinya kok. Kamu gak bisa menyangkal.” jawabnya. Ia menatap CIndy. “Dimana Dinda sekarang?”


“Ada didalem.” jawab Cindy


Sandra hanya bisa menatap ketika Calvin masuk kedalam ruangan dimana Dinda berada. Pintu ruangan langsung ditutup oleh Cindy. Sandra menunduk sambil tersenyum pahit. Ini pertama kalinya Calvin membentaknya didepan umum. Ia tidak menyangka Calvin lebih percaya pada orang lain daripada istrinya sendiri. Ia yakin ini adalah akal-akalan dari Dinda. Perempuan macam Dinda dapat melakukan apa saja demi menginginkan sesuatu. Ia pun membuka pintu ruangan Dinda dan terkejut dengan pemandangan yang ia lihat saat itu. Rasanya jantungnya berhenti berdetak. Hampir saja seperti kejadian ketika ia ditolak oleh Calvin. Menyakitkan.


“Kepala aku sakit, Vin. Aku gak tau kalo istri kamu itu ternyata Sandra.” isaknya.


“Bisa panggil dokter?”tanya Calvin pada Cindy.


Cindy langsung berjalan melewati Sandra dan sedikit menubruk lengannya yang lebam. Sandra meringis.


Ternyata ringisan Sandra terdengar Calvin. Ia menoleh ke belakang dan menatap Sandra marah. Sandra menghampiri kedua orang itu.


“Vin, kita pulang.” ucap Sandra dengan bibir bergetar.


“Kamu duluan ke parkiran. Nanti aku nyusul.” ucap Calvin tanpa menatapnya.

__ADS_1


Sandra berjalan seorang diri ke parkiran mobil. Calvin tidak memberitahu dimana ia menyimpan mobil. Sandra lemas, mengapa hari ini ia seperti menjadi orang bodoh?


“Mobil suami kamu aja sampe lupa, gimana sih?” sahut Calvin kesal.


Sandra menoleh pada Calvin. “Vin, dua kali kamu bentak aku hari ini.” ucap Sandra memperingatkan.


Seperti tidak mau mendengar ucapan Sandra, Calvin langsung masuk ke mobilnya. “Cepet masuk.”


Sandra menghela nafas karena kesal.


Diperjalanan, keduanya terdiam.


“Dinda kena gegar otak ringan gara-gara kamu.” ucap Calvin serius.


Sandra tertawa mendengar ucapan Calvin. Ia bahkan tidak mendorongnya dengan kencang. Bagaimana ia bisa terkena gegar otak ringan?


“Kamu percaya sama omongan Dinda?”


“Aku percaya karena ada bukti kamu dorong dia, dan ucapan dokter tadi.”


“Itu kan bisa dibuat-buat. Kamu kayak gak tau Dinda seperti apa. Aku kecewa sama kamu, Vin.”


Ketika memasuki lobi apartemen, Sandra bingung. Kenapa Calvin tidak membawa mobilnya menuju parkiran?


“Turun. Aku gak akan tidur disini malam ini. Aku mau balik ke kantor. Dave lagi nunggu aku.” ucapnya serius.


“Kamu mau tidur di kantor?”tanya Sandra bingung. “Kenapa kamu marah sama aku sampai-sampai kamu gak mau tidur sama aku?”


“Aku banyak kerjaan. Kamu harus ngerti kalo nikah sama aku. Konsekuensinya kayak sekarang.” serunya marah.

__ADS_1


Sandra membuka seatbelt nya dengan kencang dan membuka pintu mobil dengan cepat. Ia keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju lift. Pertama kalinya Calvin bernada kasar padanya, dan ia mengatakan hal tidak enak. Itu bukan Calvin yang ia kenal. Kemana Calvin yang kemarin-kemarin peduli padanya. Bahkan pada lukanya saja ia tidak peduli. Bagaimana dengan yang lainnya? Tak terasa airmatanya menetes perlahan tanpa ia duga.


__ADS_2