Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )

Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )
EPILOG -bonus extra-


__ADS_3

Clavin memegang tangan Sandra dengan erat. Ia akan memberikan kejutan pada istrinya. Sesuatu yang membuat Sandra dapat tidur dengan nyenyak. Ia terlihat kurang tidur akhir-akhir ini. Mungkin karena kandungannya sudah memasuiki bulan ke 6. Mereka jalan sedikit jauh ke sebuah tempat yang Sandra sendiri tidak tahu. Ia melihat sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi sangat nyaman. Mereka berada di perbukitan. Ia baru saja melihat rumah itu. Ia melihat ada ramai-ramai. Seperti ada suatu acara yang ia sendiri tidak tahu. Sejak di mobil ia selalu bertanya pada Calvin, tapi jawabannya hanya senyuman.


Langkahnya semakin cepat. Calvin seakan lupa sedang membawa ibu hamil.


"Vin, jangan cepet-cepet. Aku lagi hamil." ucap Sandra sambil menarik tangannya.


Calvin menoleh pada Sandra. "Aku lupa kamu lagi hamil. Aku bener-bener antusias hari ini." ucapnya senang.


"Memangnya kita mau kemana?" tanya Sandra bingung.


"Nanti kamu tau. Kamu hari ini ulangtahun kan?" tanya Calvin sambil membuka pintu gerbang yang terbuat dari kayu itu.


"Iya, tapi surprise yang kamu kasih kan udah tadi malem." ucap Sandra bingung.


"Kalo kamu ngeliat ini, aku yakin kamu semakin cinta sama aku." jawab Calvin percaya diri. Sandra langsung mencubit pinggang Calvin. Calvin hanya berteriak kesakitan tapi ia tetap tertawa.


Didalam sangat ramai sekali. Ketika pintu terbuka, ia terkejut melihat teman-teman sekelasnya berada disana. Mereka semua terkejut melihat Calvin dan Sandra datang bersama-sama. Sejak pertemuan terakhir mereka, Sandra tidak pernah mau sama sekali mengikuti acara yang melibatkan teman-teman sekolahnya dulu. Rasanya menyakitkan bertemu mereka kembali. Ia berbisik pada Calvin.


"Kenapa mereka ada disini?"bisik Sandra.


Tiba-tiba Calvin memegang perut Sandra. "Tentu aja buat ngerayain ulang tahun kamu." bisik Calvin.


"Gak gini caranya, aku mau pulang." bisik Sandra.


"No. Urusan kita harus diselesaikan disini. Nama kamu gak akan selamanya buruk dimata teman-teman kamu." jawab Calvin.


Sandra dapat melihat Albert muncul dan menghampirinya. "Sandra, happy birthday." ucap Albert.


Sandra mengangguk. Ia tersenyum senang."Thank you, bert."


"Albert, kenapa kamu ngundang Sandra. Ini kan acara reuni kita." seru seseorang.


"Kalian semua salah besar. Kita disini sedang merayakan ulangtahun Sandra." jawab Albert santai.


"Tapi di email yang kamu kasih isinya tentang reuni!"


"Kalo gak gitu, aku yakin kalian akan datang." jawab Albert senang. "Emang kalian pikir kita pesta dirumah siapa?"


Calvin dan Sandra hanya menatap perselisihan temannya.


Tiba-tiba seseorang datang. "Halo, aku datang." ucapnya.

__ADS_1


Sandra membalikkan badannya. Ia terkejut melihat Dinda ada disana. Dinda pun sama terkejutnya. Tapi kemudian ia menatap Calvin namun dibalas oleh Calvin dengan tatapan mematikan.


Dinda langsung duduk disalah satu sofa. Bahkan diantara semuanya, tidak ada yang berani duduk. "Kalian tunggu apa sih? Jangan peduliin 2 makhluk itu." ucap Dinda malas.


"Kita tunggu pemilik rumah buat membuka acara." ucap Albert


Dinda mengerutkan keningnya. "Emang siapa pemilik rumah. Bukannya kamu udah sewa rumah ini buat acara kita?"


Albert menunjuk Calvin. "Dia yang punya rumah. Apa aku gak tau malu harus membuka acara ini tanpa pendahuluan pemilik rumah." sindirnya.


Dinda terkejut. Ia langsung berdiri sambil menatap Calvin tidak percaya.


Semua orang terkejut termasuk Sandra. Sandra melepaskan tangan yang dipegang Calvin. "Kapan kamu beli rumah?"tanya Sandra.


"Aku bangun ini sebelum aku ketemu sama kamu. Tapi aku gak bilang. Ini rumah aku hadiahkan buat kamu" Ucap Calvin.


Sandra menutup mulut dengan kedua tangannya. "Apa maksud kamu?" bisik Sandra.


"Dasar gak tau malu, udah ambil pacar orang." ucap seseorang.


Dinda menghampiri orang itu. "Mereka gak punya malu. Kita pulang aja temen-temen. Kalian gak kasian sama aku yang harus melihat pemandangan menjijikkan kayak gitu?'tanya Dinda sambil berjalan keluar. Beberapa orang sudah mengikutinya untuk berjalan keluar.


Dinda dan beberapa orang yang mengikutinya dibelakang terdiam. Mereka berbalik untuk melihat Calvin.


"Sebelum kalian pergi, aku cuma mau memastikan satu hal. Aku menikahi Sandra bukan karena aku menghianati Dinda. Itu salah. Kalo kalian punya otak busuk dan hanya mempercayai ucapan Dinda, maaf tapi kalian itu bodoh. Kalian gak liat kenyataan. Apa aku keliatan gak cinta sama Sandra? Kalo kalian mau tau..." ucap Calvin terhenti ketika Dinda menghampirinya dengan cepat.


"Mau apa kamu?" tanya Calvin menutup tubuh Sandra. Berhubung Dinda memiliki penyakit depresi berlebih, ia harus menjaga Sandra apapun yang terjadi. Dinda langsung memukul Calvin. Ia menangis.


"Kamu jahat, Vin." isaknya pecah.


Sandra hanya berdiri dibelakang Calvin sambil memegang kemejanya.


"Yang jahat itu kamu, Dinda." seru Calvin berapi-api. "Kamu udah misahin kita berdua. Kamu datang ke aku bawa semua hadiah yang kamu anggap milik kamu sendiri. Padahal itu dari Sandra. Kamu sering melakukannya. Terakhir waktu di bali, aku sampe nyesel sampe sekarang. Aku benci banget sama Sandra gara-gara ucapan kamu. Kamu yang jahat, bukan Sandra maupun  aku. Trus dengan alasan depresi, kakak kamu mengikat aku buat jalani hubungan yang bikin aku tersiksa karena aku gak pernah mencintai kamu." ucap Calvin emosi.


Sandra langsung memeluk Calvin dari belakang. "Cukup, Vin. Kasian Dinda."


"Tuh denger, Sandra bilang cukup karena kasihan sama kamu. Apa kamu gak malu?" tanya Calvin kesal.


Dinda terduduk lesu dilantai. Ia menangis.


"Dinda, aku gak nyangka ternyata kamu yang jahat. Kita salah menilai kamu." ucap seseorang. Kemudian melihat Calvin dan Sandra. "Maafin aku, aku gak liat kebenarannya. Kita terhasut sama omongan Dinda yang bilang Sandra itu yang ngambil kamu dari dia."

__ADS_1


Sandra menghampiri Dinda. "Udah cukup Dinda. Kalaupun kamu gak minta maaf sama aku, tapi aku udah maafin kamu. Jangan sampai kejadian ini menimpa anak-anak kita nanti. Ayo, bangun." ucap Sandra bijak.


Calvin berada dibelakangnya bersiap-siap jika sesuatu terjadi pada sandra.


Dinda menatap Sandra. "Maafin aku." bisiknya.


Beberapa saat kemudian.


Calvin dan Sandra sedang duduk berdua setelah semua berakhir. Sandra menyandar di bahu Calvin sambil memegang tangannya, Mereka berdua terdiam cukup lama. Mereka hanya memandang lampu-lampu yang menghiasi kota dari atas bukit. Calvin membuat jendela yang cukup besar agat ia bisa melihat pemandangan sebagus itu.


"Vin, makasih." ucap Sandra.


"Kamu makin cinta kan sama aku?" tanya Calvin sambil menatap Sandra.


"Iya." jawab Sandra sambil tersenyum. Ia dibalas dengan kecupan ringan Calvin.


"Kita pergi sekarang?" tanya Calvin.


Sandra melihat jam tangannya. "Acaranya jam 7 malem ya?"


"Iya." jawab Calvin sambil membantu Sandra berdiri.


"Vin, aku mimpi gak sih kalo Edward menikah hari ini?" tanya Sandra sambil berjalan keluar rumah.


"Ya, sebagai sahabat aku terkejut. Karena terlalu mendadak. Tapi itulah, kita gak pernah tau apa yang akan terjadi nanti. Begitupun sama Edward." jawab Calvin. Ia membuka pintu mobil.


Mereka mulai membawa mobilnya menuju gedung tempat Edward akan menikah hari ini.


"Aku mikirin Clara." ucap Sandra kemudian.


"Kita doakan saja. Mereka udah mutusin jalan masing-masing. Kita sebagai sahabat tinggal mendukung keputusan mereka." ucap Calvin bijak.


Sandra memegang tangan Calvin. "Thank you buat surprise hari ini." ucap Sandra sambil mengangkat tangan Calvin ke bibirnya.


Calvin hanya tersenyum. "Di masa depan aku bakal kasih kamu lebih banyak kejutan." ucapnya.


Sandra tersenyum senang. Ia tidak peduli dengan kejutan apapun yang diberikan Calvin. Ia hanya menginginkan Calvin terus berada disampingnya sampat maut memisahkan mereka berdua.


 


                                    T H A N K      Y O U

__ADS_1


__ADS_2