Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )

Cassandra (2nd Series Billionare Love Story )
After Party


__ADS_3

"Bye!" seru Alena senang. Ia dan Dave pulang. Masih ada tamu terakhir. Ibunya dan Dean ada disana. Ia sedang mengobrol dengan Calvin. Sandra menatap Dean yang sejak tadi gelisah. "Dean, sini.." panggil Sandra. Ia masuk ke kamarnya diikuti Dean.


Calvin mengerutkan keningnya melihat sikap keduanya.


"Mana?" tanya Dean.


Sandra mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Akhirnya, tanpa mengeluarkan uang.." ucap Dean senang.


Sandra memberikan tiket yang ia dapat dari temannya itu pada Dean. "Tiga tiket, sesuai janji." ucap Sandra.


"Kakak ipar, apa gak akan ngasih buat ongkos ke bioskopnya?" tanya Dean sambil tertawa malu. Sandra tersenyum. Ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


Tapi sayang, uang itu langsung direbut Calvin. "Jadi selama ini kamu morotin Sandra."


"Bukan morotin, cuma nanya aja." elak Dean. Ia keluar setelah mendapatkan tiket. Ia hanya melewatkan uang pemberian Sandra yang ada di Calvin.


"Jangan gitu, Vin." ucap Sandra. Ia mengambil uang yang ada ditangan Calvin. Ia berjalan keluar dan memanggil Dean.


"Dean, sini." panggil Sandra.


Dean menatap Calvin tapi kemudian menatap Sandra.


"Udah gak apa-apa. Nih, sesuai janji tadi pagi." ucap Sandra. Ia memberikan uang itu pada Dean.


"Makasih kakak ipar, mudah-mudahan makin cantik, makin banyak uang biar bisa jajanin aku." ucapnya sambil berjalan keluar.


"Anak ini bener-bener seneng main. Maafin Dean, Sandra. Dia pasti sering minta uang lagi sama kamu." ucap Anita.


"Gak apa-apa ma, gak sering kok." jawab Sandra sambil tersenyum.


Anita memegang perut Sandra. "Mudah-mudahan secepatnya akan ada kabar baik."


Sandra gugup. Ia hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


Setelah kepergian tamu terakhir, ia kembali masuk kedalam. Ia langsung berjalan ke dapur. Sandra menatap tempat cuci piring yang begitu berantakan. Acara mereka sudah selesai beberapa saat yang lalu. Tanpa banyak bicara, Sandra langsung menggunakan celemeknya dan mulai mencuci piring-piring itu.


“Besok aja kamu nyuruh orang, Sandra. Jangan dikerjain sendiri.” Ucap Calvin yang berada dibelakangnya.


“Kalo dibesokin pasti bau, Vin. Ini ada ikannya, pasti bau amis. Mendingan kamu bantuin aku aja.”jawab Sandra serius.


"Aku bantu apa?" tanya Calvin bingung.


"Itu diluar banyak gelas sana piring. Kamu bawa kesini."


“Oke,oke aku bawain.” ucap Calvin. Ia berjalan ke ruang keluarga. Beberapa memang berantakan. Gelas dan piring ada dimana-mana.


Merekapun mulai membereskan bersama-sama.


Sandra mengambil minumannya dan duduk diayunan seperti biasa. Ia kelelahan. Tapi setelah mandi air hangat tubuhnya terasa mendingan. Ia membuka gorden untuk melihat suasana luar. Ia tertarik untuk duduk di luar. Sudah hampir tengah malam tapi jalanan masih ramai seperti biasa.


Calvin keluar dari kamarnya setelah mandi air hangat. Ia menutup jendela besar yang menghubungkannya keluar. Begitu pula dengan lampu-lampu yang ia rasa terang. Ia melihat kamar Sandra terbuka dan iapun menghampirinya. Sandra tidak terlihat didalam. Ia melihat ke beranda. Ayunan itu terlihat bergerak. Ia melihat tubuh Sandra yang kecil membuatnya tidak terlihat ketika berada didalam ayunan.


Sandra tersenyum sambil meneguk colanya. "Okay." jawabnya pendek.


“Aku gak pernah ngalamin hal ini sebelumnya. Ini bener-bener surprise. Aku pikir kamu marah sama aku gara-gara aku suruh berhenti kerja."


“Aku juga baru sekarang ngelakuin hal kayak gini.”


Calvin langsung menatap Sandra. “Bener?”


Sandra hanya menganggukkan kepalanya. Iapun menyandarkan kepalanya dibahu Calvin. “Kamu harus bayar aku mahal Vin karena udah bikin aku capek seharian ini.”


Calvin memegang bahu Sandra dan menahannya. "Aku punya sesuatu buat kamu." ucapnya. Ia berlari kedalam. Dan kembali tak lama kemudian dengan bunga ditangannya.


"Buat kamu." ucapnya.


"Bunga?" tanya Sandra bingung. "Kenapa kamu beliin aku bunga?"

__ADS_1


"Aku pikir kamu masih marah. Makanya aku beliin bunga." jawab Calvin.


"It's oke, Vin. makasih." jawab Sandra sambil tersenyum.


"Masih ada satu lagi." ucap Calvin.


Sandra melihat Calvin mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Ia membukanya. Sandra merasa bingung. Ia menatap Calvin.


"Kalung?"


"Tadinya aku mau beliin cincin buat kamu. Tapi nanti jadi saingan cincin pernikahan kita." jelas Calvin.


"Buat apa Vin? Kalo perhiasan aku gak mau. Itu terlalu mahal." jawab Sandra.


"Katanya minta oleh-oleh, ya udah aku beliin waktu ke Bali." ucapnya. Ia mengeluarkan kalung dengan liontin itu. Ia memakaikan nya pada leher Sandra. Sandra hanya tersenyum. "Makasih Vin." jawab Sandra.


“Makasih? Hadiah aku mana?”tanya Calvin.


Sandra langsung menegakkan kepalanya. “Aku gak beli. Ganti yang lain aja deh. Gimana kalo besok aku masakin?”


Calvin menggelengkan kepalanya. Ia menatap Sandra dengan tajam hingga Sandra sedikit tegang.


“Trus kamu maunya apa?”tanya Sandra sambil menunduk karena malu.


Calvin langsung merebut kaleng cola milik Sandra dan menyimpannya dibawah. Salah satu tangannya ia julurkan untuk menarik wajah Sandra hingga menatapnya. Calvin dengan cepat mencium bibir Sandra sama seperti pada saat mereka baru saja menikah dan menempati rumah ini. Sandra terkejut hingga ia diam saja. Calvin melepaskan diri dan menatap Sandra. “C’mon, where’s my gift?” tanya Calvin.


Dengan wajah merah, Sandra mendekatkan wajahnya pada wajah Calvin. Calvin tersenyum dan ia langsung menarik tubuh Sandra kepangkuannya. Sandrapun sedikit terkejut, namun Calvin langsung menutupinya dengan menarik wajah Sandra dan menciumnya dengan mesra. Inilah yang selama ini ia inginkan. Berdua dalam satu atap bersama dengan istrinya dan tidak melakukan apa-apa membuatnya frustasi.


Calvin benar-benar mencintai Sandra sejak beberapa tahu yang lalu. Wanita ini yang selama ini dicarinya. Entah berapa lama ia mencarinya. Kali ini ia tidak akan mengelak lagi tentang perasaannya pada Sandra. Ia mencintai Sandra sepenuhnya.


Ia mengingat ketika kedua orangtuanya mengajaknya dan Dean makan malam. Itu adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi. Ia dipertemukan dengan orang yang paling dirindukannya. Semuanya tanpa terduga. Ia yakin kali ini Sandra diciptakan untuknya.


Calvin dan Sandra saling melepaskan satu sama lain. Mereka saling bertatapan. Sandra menunduk malu. Tiba-tiba Calvin menunduk dan berbisik. “Thank you. The best gift i ever had.”bisik Calvin sambil memeluk Sandra.

__ADS_1


__ADS_2