
Calvin berlari ketika sampai dirumah sakit. Ia bahkan menghiraukan panggilan satpam yang memanggilnya karena tidak tertib. Ia melewati lorong pendaftaran dan ruang ICU.
"Vin.." panggil seseorang.
Calvin menoleh. Ia melihat Alena masih memakai jubah dokternya. Ia tidak berharap bertemu dengan Alena disaat seperti ini. Namun Alena terlihat kebingungan saat melihatnya. Ia mengabaikan bahwa Alena bekerja di rumah sakit ini.
"Al!" jawab Calvin sambil tersenyum.
"Lagi apa kamu disini? Sandra kenapa?" tanya Alena panik. Ia berjalan cepat menghampiri Calvin.
"Aku lagi nengok temen aku disini. Karyawan aku." jawab Calvin gugup.
"Karyawan?" tanya Alena bingung.
"Iya. Jangan kasih tau Sandra aku kesini Al. Dia tadi marah sama aku." jawab Calvin.
"Oke." ucap Alena bingung. "Kenapa?Aku jadi curiga. Karyawan mana yang mendapat perlakuan spesial dari atasannya?" selidik Alena.
"Please, untuk sementara jangan ngomong dulu sama Sandra." ucap Calvin panik.
"Kamu ngehamilin anak orang?" tanya Alena panik.
Calvin menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Enggak, bukan. Aku gak bisa cerita sekarang. Nanti aku cerita. Sekarang aku pergi dulu." jawab Calvin.
Alena mengerutkan keningnya. Ia bingung.
Calvin terus berjalan ke sebuah ruangan yang tadi dikatakan Ariel padanya. Dari ujung koridor ia bisa melihat wanita itu sedang berdiri diluar. Ariel sedang duduk diluar. Wajahnya terlihat seperti kurang tidur.
"Kak.." panggil Calvin.
Ariel bangun dari duduknya. "Calvin. Maafin kakak ya, udah merepotkan kamu." ucapnya
__ADS_1
"Gimana Dinda?" tanya Calvin.
"Masih diperiksa dokter." jawabnya. Calvin mengangguk.
"Kakak dengar kamu udah nikah?"
Calvin mengeluarkan tangannya. Cincin pernikahan itu tersemat dijari nya.
"Kakak pasti gak percaya dengan siapa aku menikah." jawab Calvin sambil tersenyum.
"Siapa?"
"Sandra. Orang yang dari dulu gak disukain Dinda."
Ariel terkejut. "Gimana bisa kalian menikah?"
"Dengan cara apapun Dinda memisahkan kami, suatu saat kami akan bersama kembali. Dan itu jadi kenyataan."
"Kakak senang mendengarnya. Tapi, kalau sampai Dinda tahu dengan siapa kamu menikah, kakak gak akan tahu dia mau berbuat apa lagi." jawab Ariel.
"Bisa ikut saya ke kantor?" tanya dokter itu.
Mereka berdua masuk kedalam ruangan dokter itu. Di atas mejanya ia melihat sebuah papan nama bertuliskan Dr. Ivan . Ia melihat pria itu yang serius. Setahunya pria didepannya adalah dokter spesialis jantung. Kenapa ia menangani Dinda yang bukan spesialisnya?
"Tekanan darah pasien sudah normal. Hanya saja ia masih lemah. Masih perlu perawatan." ucap dokter itu.
"Yang terpenting buat saya, keselamatan adik saya dahulu dok." jawab Ariel.
Calvin mulai berbicara. "Maaf dok, kalo gak salah dokter Ivan ini yang pernah jadi dokter nenek Siska?"
Ivan menatap Calvin. "Iya tahun kemarin. Ada masalah?" tanyanya tajam.
__ADS_1
Calvin menggelengkan kepalanya. Ia hanya merasa aneh karena bukan dokter umum yang menangani Dinda.
Cukup lama ia berada di rumah sakit untuk menemani Ariel. Ia pulang ke apartemen tengah malam. Ia merasa bersalah pada Sandra. Tanpa menekan bell, ia bisa masuk sendiri. Semua ruangan tampak gelap. Hanya lampu kamar Sandra yang terang. Iapun menghampiri kamar itu dan membukanya perlahan. Ia melihat Sandra sudah tidur. Iapun menghampiri Sandra dan duduk disampingnya. Perlahan ia memegang kepala Sandra dan membelainya. Tiba-tiba ia menunduk dan memegang wajahnya dengan kedua tangannya. Baru kali ini ia merasa tidak tenang.
Dinda. Wanita itu dapat merusak hubungannya dengan Sandra. Bahkan dalam keadaan sakit pun ia masih belum mau lepas darinya. Ia tidak pernah terpikirkan untuk berpisah dengan Sandra. Besok ia akan menemui Alena untuk bertanya tentang dokter yang mengurus Dinda.
Calvin bangun dan berjalan menuju lemari. Ia mencari perjanjian pranikah itu. Ia harus membakarnya. Ia tidak mau kehilangan Sandra. Ketika ia sedang mencari, Sandra terbangun.
"Kamu lagi nyari apa?" tanya Sandra bingung. Ia sedang duduk di atas tempat tidur dan menatap Calvin.
"Maaf aku bangunin kamu." ucap Calvin.
Sandra turun dari atas tempat tidur dan menghampiri Calvin. "Kamu lagi nyari apa?" tanya Sandra kembali.
"Gak ada. Aku mau ambil baju buat tidur." jawab Calvin gugup.
Sandra merasa curiga. Ia berjalan ke rak nakas dan mengeluarkan sesuatu.
"Ini yang kamu cari?" tanya Sandra.
Calvin melihat satu lembar kertas putih yang tertutup map transparan.
"Kamu nyari surat perjanjian pra nikah kita?" tanya Sandra.
"Iya" jawab Calvin cepat. Ia langsung mengambil surat itu dan membawanya keluar. Sandra mengikutinya dari belakang.
"Kamu mau ngapain Vin?" tanya Sandra sambil panik.
Calvin berjalan ke beranda kamar dan mulai membakar surat itu. "Gara-gara ini, aku gak bisa tidur nyenyak. Gara-gara ini aku sering ketakutan bakal ditinggalin sama kamu!" jawab Calvin. Nadanya terdengar frustasi. Sandra berjalan menghampiri Calvin dan memeluknya dari belakang.
"Aku gak akan tinggalin kamu Vin, apapun yang terjadi. Aku cuma butuh kejujuran kamu" ucap Sandra pelan.
__ADS_1
Calvin terdiam. Inilah saatnya ia harus jujur dan menceritakan tentang siapakah sosok wanita yang pernah ia ceritakan pada Sandra.
b e r s a m b u n g