
Seorang dokter berlari menuju ruang unit gawat darurat sebuah rumah sakit setelah mendapatkan panggilan bahwa ada seorang wanita yang hampir menghabisi hidupnya. Ketika sampai di ugd, ia melihat seorang wanita muda terkapar tidak sadarkan diri diatas dipan. Para perawat sedang memberikan pertolongan pertama kepada pasien. Ia mendekati wanita itu.
"Kenapa?" tanya dokter itu.
"Urat nadi ditangannya hampir putus dok. Pasien ini kehilangan banyak darah. Tekanan darahnya semakin menurun." ucap perawat itu serius.
Dokter itu memeriksa dengan teliti. Ia menatap wanita itu lama sebelum kemudian memeriksanya kembali. Ia melihat tangannya. Luka itu terlalu dalam. Apa yang membuat wanita ini harus mencoba melakukan bunuh diri?
"Bawa ke ruang operasi sekarang." seru dokter itu cepat. Ketika ia keluar, ia dapat melihat seorang wanita sedang cemas. Dipakaiannya terdapat darah yang dapat ia pastikan adalah darah pasien. Ia berjalan menuju ruang operasi tapi dihadang oleh wanita itu.
"Dok, gimana adik saya." tanyanya sambil menangis.
"Ibu tunggu disini, biarkan kami yang membantu pasien." jawab dokter itu. "Maaf, ibu...." tanyanya kemudian.
"Ariel. Saya Ariel, dok. Kakak dari pasien itu."
"Baik. Ibu Ariel. Kami sekarabg harus melakukan operasi pada pasien."
"Apapun dok, yang terpenting selamatkan adik saya." ucapnya .
Dokter itu hanya mengangguk dan berjalan kembali ke ruang operasi.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
__ADS_1
Dave menatap Calvin yang duduk didepannya dengan mencurigakan. Meeting kali ini ia tidak bisa mengganggunya. Iapun mengeluarkan handphone nya dan mengetik sesuatu.
"TOLONG KAMU SERIUS SEDIKIT. KITA SEDANG MEETING DENGAN KLIEN MENYANGKUT MASA DEPAN PERUSAHAAN KITA."
Dave melihat Calvin yang sedang membuka handphonenya. Ia kemudian menatap Dave dan memberi isyarat pendek. Calvin mengangguk pelan. Tapi kemudian, ia mendapatkan pesan kembali.
"APAKAH TERJADI SESUATU TADI MALAM? JANGAN-JANGAN KALIAN..."
Calvin menatap Dave dan mengangkat kedua alisnya. tak lama ia tersenyum sendiri. Dave menunggu jawabannya.
"Cepet cerita tadi malem kalian ngapain?" tanya Dave memaksa ketika mereka baru saja menyelesaikan meeting.
Calvin bangun dari duduknya. Ia membereskan beberapa dokumen di meja dan memasukkannya ke dalam tas. Ia melirik pada Dave. "Bukan urusan kamu." ucapnya sambil tertawa.
"Hey, Vin. Jangan bikin penasaran. Kalian ngapain tadi malem?"
"Sekarang mau kemana?" tanya Dave lagi.
"Mau pulang dulu, Makan siang dirumah dong. Bye!" seru Calvin.
"Emang masakan Sandra enak? Lebih enak Alena."
"Aku gak peduli. Seenak apapun masakan Alena, dia bukan istri aku." jawab Calvin sambil masuk ke dalam lift. ia melambaikan tangannya pada Dave yang masih terpaku di meja meeting.
__ADS_1
Sandra mengeluarkan isi lemari pakaian Calvin dan menyimpannya di ranjang. Ia lelah hari ini. Sesuai kesepakatan mereka berdua tadi pagi, ia akan memindahkan seluruh pakaian Calvin ke kamarnya. Cukup melelahkan karena ia harus keluar masuk kamar hanya untuk memindahkan pakaian. Beberapa pakaian yang sempat ia beli belum pernah digunakan Calvin. Beberapa kemeja masih menggunakan plastik. Ia mengetahui sekarang. Calvin lebih suka memakai kaos dengan kerah. Ia jarang menggunakan kemeja jika bukan acara formal. Beberapa dasi yang berada di lemari pakaiannya terlihat kotor. Ia membawanya keluar dan menyimpannya di atas mesin cuci. Ketika kembali ke kamar Calvin, ia mendengar pintu apartemen diketuk. Ia melihat jam dindingnya. Pukul 1 siang. Ia tidak pernah memiliki janji dengan siapapun.
Iapun berlari ke pintu dan membukanya. Calvin berada didepan pintu sambil menatap Sandra dari atas ke bawah. Calvin mengerutkan keningnya. Sandra membuka pintu dengan memakai pakaian pendek. Wajahnya berkeringat. "Kamu ngapain?" tanya Calvin bingung.
Sandra berjalan masuk dan memperlihatkan kamar Calvin yang kini sudah berubah bentuk. Ia melihat pakaian-pakaiannya disimpan di atas tempat tidur. Lemari pakaiannya terbuka lebar.
"Aku lagi beres-beres, Vin. Kamu tadi pagi bilang buat beresin kamar ini." jawab Sandra.
"Oh ya, aku lupa." jawab Calvin. Ia langsung duduk di sofa.
"Vin, kok kamu udah pualng?" tanya Sandra bingung.
Calvin menatap Sandra. "Aku mau makan siang disini." jawab Calvin.
Sandra langsung berdiri. "Kenapa gak bilang. Kalo tau gitu aku masakin dari tadi." seru Sandra.
Calvin melihat handphone nya yang bergetar. Ia melihat nomor asing menghubunginya. Ia diamkan sejenak. tapi nomor itu terus menghubunginya.
"Halo.." jawab Calvin.
"Halo, Calvin. Masih inget sama saya?" tanya wanita itu.
"Siapa? Saya lupa."
__ADS_1
"Saya Ariel. Kakaknya Dinda. Kamu inget sekarang?Kita pernah ketemu waktu Dinda mau pergi ke Paris buat sekolah"
b e r s a m b u n g