
Calvin masuk mengahmpiri Sandra. "Loh, ada my wife?" tanya Calvin sambil duduk disampingnya. Ia menggoda Sandra.
"Jangan nanya sama aku, Vin. Aku masih kesel sama kamu." jawab Sandra dengan nada kesal.
Edward tidak mau melewatkan sesuatu untuk menggoda keduanya. "Wah, ada masalah keluarga disini. Kayaknya kita harus bantu mereka, Dave."
Calvin mengangkat salah satu tangannya agar Dave berhenti bicara.
"Are you still mad at me?" tanya Calvin sambil memeluk bahu Sandra.
"Diem Vin, jangan ngomong pake bahasa asing segala. Aku gak akan senyum." jawab Sandra.
Calvin langsung tertawa mendengar jawaban Sandra. "Ini yang aku suka dari kamu. Kalo kamu marah, kecantikan kamu terpancar.
"Sejak kapan Calvin jadi pembual gini?'tanya Alena.
Calvin tidak mengindahkan ucapan Alena. Ia tetap menggoda Sandra. "Honey.." bisiknya.
Sandra langsung menutup telinganya dan bangkit dari duduknya. Ia berjalan keluar tanpa berpamitan pada orang-orang yang ada disana.
Alena langsung memegang tangan Dave. "Aku pergi sekarang. Sampe jumpa dirumah." iapun langsung mengejar Sandra. Calvin hanya tersenyum.
"Istrimu kalo marah takut juga ya?" tanya Edward.
__ADS_1
"Cuma sementara aja. Nanti malam juga udah biasa lagi." jawab Calvin sambil memakai jasnya.
"Aku denger kamu larang Sandra kerja?" tanya Dave.
"Gimana gak aku larang kalo setiap hari dia jadi perhatian artis sama kru disana. Enak aja, emangnya dia patung yang bisa dipandang seenaknya. Dua kali aku pergokin dia. terakhir kali aku hampir nonjok salah satu artis disana. Untung aku gak nonjok, kalo sampe aku keliatan nonjok, dia makin terkenal, aku makin terpojok." jelas calvin.
"Itu namanya kamu cemburu. Jujur aja, kalo perasaan itu balik lagi. Jangan munafik. Kamu harus tegas mulai sekarang." ucap Edward
Calvin mengangkat kedua bahunya. "Tegas? Kasih aku waktu."
Sandra berjalan lambat menuju lobi kantor Dave. Ia tahu jika Alena mengikutinya. Ia berbalik dengan cepat dan tersenyum pada Alena.
"Aku udah cocok jadi artis?" tanya Sandra sambil tertawa.
Sandra langsung memeluk bahu Alena. "Kita ke cafe kamu Al. Aku mau ngomong sesuatu."
"Apa?"tanya Alena terkejut ketika mereka berdua telah sampai da cafe Alena setengah jam kemudian. Sandra terlihat senang setelah melakukan semuanya.
Ia mengangguk senang.
"Kamu lagi akting? Buat apa? Aku kaget tau Sandra.. aku pikir kalian berantem." jawab Alena.
"Kita emang berantem tadi pagi, tapi aku luluh karena Clavin kasih penawaran yang gak mungkin aku tolak." jawab Sandra sambil tertawa.
__ADS_1
"Jadi motif kamu apa marah gitu?"
"Besok Calvin ulang tahun. AKu mau kasih surprise sama dia. Kamu bisa bantu kan?" tanya Sandra.
"Besok malem?"
Sandra mengangguk. "Aku mau bikin perayaan kecil di apartemen."
"Oke kalo gitu, aku pikir kalian emang lagi ribut."jawab Alena sambil tertawa.
Ketika Calvin pulang malam harinya ke apartemen, ia mengendap-endap seperti pencuri. Ia melihat lampu tengah menyala. Kamar Sandra pun terbuka. Ia melihat Sandra sedang tidur di sofa. Ia melihat jam dinding. Sepertinya Sandra menunggunya pulang. Ia tersenyum senang. Iapun duduk disamping tubuh Sandra. Ia hanya menatapnya. Tak lama iapun mengangkat tubuh Sandra dan membawanya ke kamar.
"Calvin." panggil Sandra. Calvin terkejut tapi ketika melihat matanya masih tertutup, ia tersenyum. Bahkan dalam mimpinyapun ia hadir. ia merasa senang.
Ketika Calvin membaringkan tubuh Sandra, Sandra sadar. Namun ia tidak berani membuka matanya. ia tahu yang memindahkannya tidur adalah Calvin. Ia tertidur setelah tadi menelpon ibunya untuk perayaan Calvin besok.
Calvin menarik selimut dan menutupi tubuh Sandra dengan hati-hati. Ia tidak mau Sandra bangun. Ia merapikan rambut Sandra.
"Maafin aku, Sandra. Aku jahat karena aku gak mau kamu kecapean, aku gak mau kamu di bully lagi kayak kemarin-kemarin lagi. Aku sakit liatnya. Aku mau kamu fokus sama aku, bukan sama pekerjaan kamu. Aku gak mau kamu jadi perhatian orang-orang itu. Aku cemburu." ucap Calvin pelan. Ia kemudian mengecup kening Sandra seraya berbisik. "Selamat tidur, sayang."
Calvin bangun dan berjalan keluar setelah mematikan lampu kamar Sandra dan menggantinya dengan lampu tidur. Pintu ditutup dengan rapat.
Sandra membuka kedua matanya. Ia memegang dahinya pelan. Ia tersenyum.
__ADS_1