
Dave mencari keberadaan Calvin diperusahaannya. Handphonenya tidak aktif. Beberapa kali ia menghubungi tapi nihil. Iapun bergegas menghubungi resepionist.
"Selamat siang, Pa.." jawab salah seorang resepsionist ketika ia melihat line telepon milik Dave menyala.
"Kalian liat Calvin keluar?"
"Enggak ada pa."
"Oke." jawab Dave. Ia bangun dari duduknya dan berjalan mencari keberadaan Calvin. Alena baru saja menghubunginya dan memberitahu jika Sandra sudah masuk ruang operasi. Ia akan menyusul Alena setelah mendengar cerita tentang Sandra.
"Kalian liat Calvin?"tanya Dave ketika ia berpapasan dengan karyawannya.
"Ada diruang design." jawab mereka.
Dave berlari menuju ruang design. Ia melihat Calvin sedang mengecek sesuatu didalam komputer salah satu designer. Ia terlihat serius.
"Vin!" panggil Dave.
Calvin menatap sekilas. "Apa?"
"Ini tentang Sandra." ucap Dave.
Calvin menatap Dave. "Aku lagi kerja, gak ada obrolan tentang Sandra. Aku masih kesel."
"Jangan nyesel Vin. Aku pergi sekarang." Ucap Dave. Ia langsung berjalan keluar.
Calvin menatap kembali layar komputernya. "Sampe mana kita tadi?"
"Sampe gambar yang no. 2" jawab salah seorang designer.
Sandra bangun setelah menjalani operasi selama 3 jam. Ia melihat kakinya dibalut. Ia tidak merasakan apa-apa karena kakinya tidak bisa digerakkan.
"Masih ada efek biusnya. Tapi kaki kamu gak apa-apa." ucap seseorang.
Sandra melihat kesampingnya. Alena sedang berdiri disana. Ia ditemani Dave.
"Mana Calvin?"tanya Sandra
"Gak ikut. Banyak kerjaan." jawab Dave.
"Calvin tega. Bilangnya kita temenan, tapi temen kok kayak gitu. Masa marahnya lama banget." ucap Sandra kesal. Ia bangun dari tidurnya dan berusaha untuk menyandar disandaran tempat tidur.
Alena menghampiri Sandra. "Mau duduk San?"
Sandra mengangguk. "Iya."
__ADS_1
"Biar aku bantu." ucap Alena.
"Al, aku bisa langsung pulang?"
Alena menggelengkan kepalanya. "Kamu harus disini minimal satu malam lagi."
"Gak bisa langsung pulang?" tanya Sandra sedih.
"Jahitan di kaki kamu masih basah, Sandra. Kalo ada apa-apa gimana?" Ucap Alena marah.
"Kalo gitu aku telepon Dean dulu." Jawab Sandra. Ia mencoba menghubungi Dean tapi teleponnya tidak diangkat. Beberapa nada tersambung tapi tetap tidak ada jawaban. Akhirnya ia mengirimkan pesan.
Setelah selesai menghubungi Dean, ia menatap Alena dan Dave. "Al, Dave.. Maafin aku. Seminggu lagi kalian melangsungkan pernikahan. Tapi aku masih ganggu kalian." ucap Sandra sedih.
"Jangan bilang gitu Sandra, kita saudara. Kita gak mungkin egois sama kepentingan kita berdua. Kita juga lagi dihadapin sama satu masalah baru. Tapi kita yakin, kita bisa melewatinya. Jadi kamu jangan segan minta bantuan kita." ucap Dave.
"Masalah apa?" tanya Sandra penasaran.
"Nanti juga kamu tau. Kita masih menutup ini." jawab Alena. Sandra hanya mengangguk mengerti.
Hari menjelang malam ketika Calvin pulang. Ia membawa mobilnya dengan santai karena tidak ada acara lain. Sehari ini ia mencoba menyibukkan diri setelah Dave membahas tentang Sandra. Perempuan itu masih membuatnya begitu kesal. Bagaimana bisa dengan gampangnya Sandra berkata jika ia cemburu pada Edward? Pemikiran yang aneh.
Iapun memutar playlist yang ada dimobilnya dan mendengarnya sambil sesekali ikut bernyanyi. Beberapa hari yang lalu ia bertemu dengan salah satu teman basketnya saat sekolah menengah dulu. Seharusnya hari ini ia ikut acara reuni yang diadakan sekolahnya. Tapi ia malas. Ia yakin wanita itu ada disana. Ia tidak mau mengulangi hal yang sama ketika ia sekolah dulu. Ia juga tidak tahu, apakah Sandra ikut acara itu.
Mobil Calvin telah sampai didepan rumahnya. Lampu rumahnya dalam keadaan menyala. Ia mengerutkan keningnya. Ketika masuk, ia melihat ibunya sedang melakukan video call dengan ibunya Sandra. Mereka tertawa bersama. Ia melihat Dean ada disana. Ia sedang sibuk dengan game di handphonenya.
Calvin berbalik. Ibunya ternyata sudah mengakhiri percakapan dengan ibunya Sandra.
"Apa ma?"
Anita bangun dari duduknya. "Gimana Sandra?"
"Sandra? Aku gak kekantor hari ini. Aku dikantor Dave seharian." jawab Calvin tenang.
Dean menatap Calvin. "Kalian masih marahan juga?"
"Urusan orang dewasa. Anak kecil gak perlu tau." jawab Calvin.
"Terserah. Aku gak akan kasih tau Sandra ada dimana. Jangan maksa!" ucap Dean.
Anita menatap Calvin. "Kalian marahan masalah apa sih?"
"Masalah kecil aja." jawab Calvin.
"Kamu udah liat Sandra di rumah sakit?" tanya Anita.
__ADS_1
Calvin mengerutkan keningnya. "Emang Sandra kenapa?"
"Tadi siang Sandra operasi kaki. Kamu itu gimana sih? Masa gak tau kalo Sandra ada operasi hari ini. Kalian temenan gak sih? Mama sama Dean aja baru pulang dari sana" seru Anita
Calvin melihat jam tangannya. Ia mulai teringat. Hari ini memang Sandra seharusnya ada operasi.
"Calvin pergi dulu ma." ucap Calvin sambil berlari kemobilnya.
Calvin membawa mobilnya dengan cepat. Pikirannya kacau. Sifat egoisnya telah membuat orang lain menderita. Sandra pasti takut. Ketika terakhir ia mengantar ke Dokter Toni, berulang kali Sandra berkata jika ia takut. Dan pada waktu itu, ia berjanji akan mengantar Sandra saat operasi. Teman apa yang tidak ada saat temannya dalam kesulitan. Calvin memukul kemudi mobilnya karena kesal pada sifatnya.
"Janji ya ma.."
"Tapi kamu harus bisa jaga diri. Jaga kesehatan. Jangan sakit lagi. Kamu tau kan kalo mama sama papa kamu susah bisa ketemu kamu." jelas Icha.
"Iya. Tadi Sandra juga udah ngobrol sama Tante Anita. Mama udah bilang?" tanya Sandra.
"Udah. Makanya Sandra, mama berharap kamu itu segera menikah. Mama jauh lebih tenang."
"Lagi dan lagi.. Ma, aku masih menikmati kehidupan aku yang sekarang. Jangan ulangi pembicaraan yang sama. Sandra cape kalo mama terus ngomongin itu."
"Mama gak akan bosen buat nyuruh kamu nikah." jawab Icha sambil tertawa. Ia memang senang menggoda anaknya.
Ketika telepon ditutup, Sandra melihat Calvin masuk dengan tiba-tiba. Wajahnya panik saat melihat Sandra.
"Maaf, aku gak tau kamu ada operasi." ucapnya sambil terengah.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Sandra dengan wajah malas.
"Maafin aku. Aku telat." ucap Calvin sambil berjalan menghampiri Sandra.
"Mau apa kamu kesini?" tanya Sandra lagi. Nada bicaranya sedikit tinggi.
Calvin duduk disamping ranjang Sandra. "Maafin aku ya. Aku cuma mau liat gimana keadaan kamu."
"Kamu jahat Vin. Kamu tega sama aku. Katanya kita temenan." ucap Sandra dengan mata berkaca-kaca. "Untung ada Alena sama Dave. Kalo gak ada aku nambah kesepian."
Calvin langsung memeluk Sandra. "Iya maafin aku. Aku janji gak akan tinggalin kamu lagi. Sekarang aku disini nemenin kamu. Gimana tadi operasinya?"
"Aku gak sadar. Aku baru bangun pas udah 5 jam operasi." jawab Sandra.
"Hah, 5 jam? Itu bukan dibius, tapi ketiduran." jawab Calvin menggoda Sandra.
Sandra melepaskan pelukan Calvin dengan cepat. "Enak aja, aku emang dibius. Bukan ketiduran."
Calvin tertawa. Iapun melihat perban yang membalut kaki Sandra. "Sakit?" tanyanya.
__ADS_1
"Sekarang mulai kerasa sakit." jawab Sandra. Ia mengelus kakinya yang diperban. "Gimana ini Vin, aku keliatan cacat gini. Gak akan ada yang mau jadi suami aku kalo liat kaki aku kayak gini."
Calvin mengelus kepala Sandra perlahan. "Jangan pesimis gitu. Kalo gak ada yang mau jadi suami kamu, biar aku aja yang jadi suami kamu nanti."