
Sandra memukul bahu Calvin dengan kedua tangannya. Ia marah dan kesal. Ucapan Calvin kepada kedua orangtuanya tidak masuk akal. Mereka tidak pernah membicarakan sampai kesitu.
"Jangan seenaknya kamu buat keputusan, Vin!" protesnya marah.
"Aku gak ada pilihan lain, Sandra. Aku gak tau lagi harus ngomong apa biar mereka percaya kalo kita gak berbuat apa-apa.." jawab Calvin sambil memegang kedua tangan Sandra.
Tubuh Sandra terduduk lemas dilantai. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menangis.
Calvin berjongkok dan mulai berbicara dengan pelan.
"Denger, Sandra. Kita bisa memulai dari awal. Aku belum cinta sama kamu, kamu juga sama belum cinta sama aku. Kita coba dulu, gimana. Kita pelan-pelan menjalaninya. Kalo emang kita gak cocok, kita bisa pisah. Gampang kan?" ucap Calvin.
Sandra langsung membuka tangannya dan menatap Calvin marah.
"Loh, marah?" tanya Calvin
"Keluar!" ucap Sandra kesal.
"Kita ngobrol baik-baik kok. Kenapa ngusir aku keluar?" tanya Calvin bingung.
"Keluar!!" teriak Sandra.
Calvin berdiri. Ia langsung keluar kamar Sandra. Ia berdiri sedikit lama didepan kamar Sandra. Ia termenung. Ia menyadari keputusannya konyol. Ia sengaja berpura-pura pada Sandra seakan ia tidak mencintai Sandra.
Iapun mengeluarkan handphonenya. Ia menghubungi Edward yang belum pulang ke Singapura. Calvin langsung membawa mobilnya menuju kantor Edward. Sesampainya dikantor Calvin, ia melewati kantor Dega yang merupakan kakak Edward. Ia terlihat sedang sibuk dengan berkas-berkasnya.
"Ga!" panggil Calvin.
Dega melihat pada orang yang memanggilnya. Ketika melihat Calvin, ia tersenyum. "Vin, daritadi?"
Calvin masuk keruang Dega. Ia duduk dikursi. "Aku baru dateng. Edward ada?" tanya Calvin.
"Ada tuh. Tadi lagi ada pacarnya."jawab Dega.
"Pacarnya? Tadi bilang lagi sendiri."tanya Calvin bingung.
"Liat aja sendiri."
Calvin melihat berkas-berkas yang berserakan dimeja. "Lagi ada kasus apa?"
__ADS_1
"Pembunuhan." bisik Dega.
Calvin langsung berdiri. "Yang bener?" tanyanya serius. "Siapa?"
Dega menggelengkan kepalanya. "Aku belum bisa ngomong. Nanti juga muncul sendiri beritanya."
"Ngeri kayaknya. Aku ke ruangan Edward. Mudah-mudahan cewek itu udah pergi." ucap Calvin.
Ketika masuk ke ruangan Edward, wanita itu sudah tidak ada. Ia bersyukur. Tanpa berkata apa-apa ia duduk di sofa. Edward melirik pada sahabatnya dan bangun dari duduknya.
"Gimana?"
"Aku mau nikah sama Sandra."
"Wow, luar biasa.." jawab Edward sambil bertepuk tangan.
"Yah, akhirnya aku lebih milih Sandra daripada Dinda. Aku harap dia mau nerima. Tapi aku gak bisa bayangin orang yang paling dibencinya bakal jadi istriku nanti. Aku harap kita baik-baik aja."
"Pilihan yang tepat. Jadi kapan kalian nikah?" tanya Edward bersemangat.
"Aku minta secepatnya. Mungkin beberapa bulan ini. Yang pasti aku harap sebelum Dinda pulang."
"Dia marah sama nangis. Mungkin dia kaget karena aku terlalu cepat bikin keputusan."
Sandra tidak tidur semalaman. Ia terus berfikir karena ia akan menikah dengan Calvin dengan cepat. Bagaimana Calvin dengan mudah mengatakan perpisahan bahkan pernikahan saja belum terjadi? Sandra membawa tas ranselnya keluar kamar. Pagi ini ia akan pindah ke apartemennya. Ia benci Calvin. Ia tidak mau bertemu dengannya.
Didapur, ia melihat Tante Anita sedang memasak. Sandra berjalan menghampirinya.
"Tante.." panggil Sandra.
Anita berbalik. Ia bingung melihat Sandra sudah rapi pagi ini.
"Kamu mau kemana?" tanya Anita bingung.
"Sandra mau pindah ke rumah mama, Tante."
"Kenapa?"
"Gak mungkin Sandra tinggal disini terus. Gak enak omongan orang-orang."
__ADS_1
"Nanti aja, biar Calvin yang anter."
Sandra menggeleng dengan cepat. "Gak usah Tante. Sandra udah pesen taxi."
"Oke kalo gitu, maaf Tante gak anter kedepan."
"Gak apa-apa Tante, Sandra pergi." ucapnya.
Dean mengintip dibalik tembok. "Bye sister in-law!" ucapnya sambil tersenyum jahil.
Sandra hanya menatap Dean sekilas. Ia langsung berjalan keluar. Ia harus menunggu taxi sebentar didepan jalan. Sesekali ia menatap rumah Calvin. Tidak pernah terpikir olehnya akan menjadi bagian dari keluarga itu. Bagaimana mereka akan menjalani pernikahan jika Calvin tidak mencintainya? Dan ia sendiri sudah berikrar untuk tidak larut pada perasaannya.
"Vin, bangun Vin! Sandra pergi!" seru Dean ketika membangunkan Calvin.
"Biarin. Dia mau kerja."jawab Calvin dengan mata tertutup.
"Dia bawa barang-barangnya. Dia pindah."
Calvin membuka matanya. Ia menatap Dean. "pindah apa?"
"Ya pindah.. pergi. Batalin pernikahan.." goda Dean dengan wajah serius.
Calvin langsung bangun dan berlari keluar. Ia masuk kekamar Sandra dan memang sudah terlihat rapi. Tidak ada pakaian dilemari. Iapun turun dari tangga dengan cepat. Ia melihat ibunya yang terlihat biasa saja. Ia sedang menata meja makan.
"Kamu kenapa Vin?"tanya Anita bingung.
"Sandra kemana mah? Dia batalin pernikahan?"tanya Calvin dengan nada shock.
"Siapa yang mau batalin pernikahan?" tanya Anita. Dean langsung memeluk Anita dari belakang. "Sandra ma, mau batalin pernikahan." bisiknya.
"Ya ampun, anak ini lagi" ucap Anita kesal. Ia menatap Calvin. "Sandra pindah kerumah orangtuanya sampai kalian menikah. Bukan ngebatalin pernikahan."
Calvin menatap Dean marah. Ia telah ditipu oleh Dean.
"Kamu percaya sama adik kamu yang jahil ini?" tanya Anita sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku kan gak jahil ma.." ucap Dean dengan wajah muram. Namun sedetik kemudian ia tertawa. Anita langsung mencubit perut Dean hingga ia berteriak kesakitan. "Kamu jangan ngegodain kakak kamu terus, ngerti gak sih! Dia sampe keluar pake celana pendek gitu! Kalo ada gadis disini udah teriak karena malu."
Calvin langsung menyadari hawa dingin merasuki kakinya. Ia memang hanya memakai celana pendek setiap tidur. Ketika Dean mengatakan itu, ia langsung keluar tanpa menyadari pakaian yang ia kenakan.
__ADS_1
"Awas kamu Dean, minggu depan gak ada jatah uang saku dari Calvin." seru Calvin marah. Ia langsung berlari ke kamarnya. Dalam hatinya ia merasa lega karena pernikahannya akan tetap berjalan. Awalnya ia merasa terpaksa, tapi setelah bercerita panjang lebar dengan Edward, ia merasa keputusannya tidak salah.