
"Dasar Sandra ngerjain. Kalo bukan soal game terbaru, aku gak akan capek-capek bantuin dia pindahan." Ketusnya. Dean memasukkan berbagai jenis kosmetik kedalam satu tas Sandra yang masih kosong. Ia melihat beberapa tumpukan tas didekat tempat tidur. Sandra memang sudah berniat untuk pindah. Buktinya ia sudah membereskan pakaian-pakaiannya. Hanya saja ada yang tersisa dari barang-barangnya. Kosmetik yang ada di atas meja riasnya dan beberapa tas yang menggantung dibalik pintu. Ia tidak pernah sekalipun membereskan kosmetik milik wanita manapun termasuk ibunya sendiri. Tapi kosmetik Sandra memang sangat banyak. Ia sampai bingung.
"Kalo ada yang rusak satu pasti jadi bencana.: ucapnya.
Setelah selesai, semua tas milik Sandra dimasukkan kedalam mobilnya. Sebentar lagi ia akan pergi menjemput Sandra. Sedangkan kakaknya, sejak semalam entah ada dimana. Ia melihat handphonenya. Ia mencari tahu tentang apartemen yang akan ditinggali Sandra. Beberapa apartemen terlihat sama. Lalu apartemen yang mana?
"Kalo dari rumah sakit,trus ke jalan ini harus lewat jalan ini. Lurus, nanti ada pertigaan belok kekanan. Lurus lagi, nanti ada keliatan gedungnya. Oke, gak susah."Ucapnya sendiri. Iapun mulai menaiki mobil dan membawanya ke rumah sakit.
Sandra berjalan sesekali dengan bantuan tongkat. Menurut dokter, ia bisa pulang dan melakukan recovery di rumah. Ia berdiri didepan kamarnya untuk menunggu Calvin. Semalam Calvin tidur di sofa yang ada dikamarnya. Terdengar suara orang berjalan. Calvin menghampirinya setelah membeli obat di apotek rumah sakit.
"Bisa jalan?"tanya Calvin. Ian menatap Sandra dengan tongkatnya.
"Bisa pelan-pelan." jawab Sandra.
"Kamu jangan dulu kerja. Aku ijinin kamu cuti selama seminggu buat recovery."
"Harusnya aku udah resign, Vin."
"Aku udah bilang gak akan aku ijinin sampe pernikahan Dave." jawab Calvin tajam.
"Oke, oke, aku ngerti." jawab Sandra malas.
"Nanti kamu dirumah jangan terlalu banyak gerak. Suruh pembantu aja buat bikin makanan kalo kamu lapar."
"Baik, pak.." goda Sandra.
Merekapun mulai berjalan menuju lobi.
"Aku ambil mobil dulu." ucap Calvin.
Sandra menarik kemeja Calvin. "Gak usah."
"Kenapa?"
"Udah dijemput."
Calvin mengerutkan keningnya. "Siapa?"
__ADS_1
Sandra hanya menunjuk ke mobil yang baru datang. Calvin membalikkan badannya. Ia bingung melihat Dean datang menjemputnya.
"Kamu gak mau pulang sama aku?"tanya Calvin marah.
"Bukannya gitu, aku bawa barang-barang aku. Makanya aku suruh Dean."
"Mau kemana?"
"Aku mau pindah, Vin. Tadi malam akhirnya mama ngijinin aku pulang ke apartemen aku." jawab Sandra senang.
"Nanti kalo kamu ada apa-apa gimana?" tanya Calvin khawatir.
Sandra mendesah. "Kamu udah kayak mama aja. Tenang aja, aku bisa jaga diri." jawab Sandra kesal.
"Tenang, nanti aku sering mampir." ucap Dean yang tiba-tiba datang dari belakang."
Dean menatap mobil belakangnya dari balik kaca. Ia tertawa melihat wajah Calvin.
"Liat muka Calvin lucu banget." ucap Dean sambil tertawa.
"Lucu, liat tuh mukanya. Dia kaget waktu tau kamu pindah." jawab Dean sambil tertawa.
Calvin melihat mobil didepannya dengan serius. Ketika mobil didepannya masuk kesebuah gedung, ia menatap keluar. Ternyata apartemen milik Sandra tidak jauh dari kantornya.
Sandra dibantu Calvin membawa barang-barangnya menuju lift. Sedangkan Dean memutuskan untuk langsung pergi setelah mengantar Sandra sampai basement.
"Lantai berapa?"
"Paling atas."
"20?"
Sandra mengangguk.
"Bisa jalan?" tanya Calvin sambil masuk kedalam lift.
"Bisa. Gak usah kuatir."jawab Sandra.
__ADS_1
"Kamu gak takut tinggal dilantai atas?"
"Enggak. Kamu liat dulu apartemen aku." jawab Sandra.
Lift naik ke lantai 20. Calvin menyimpan tas-tas Sandra dilantai. Ia mendekat dan memegang lengan Sandra.
"Kasian jalannya pake tongkat." ucapnya pelan. Sandra hanya tersenyum. Ketika pintu lift terbuka, Calvin keluar terlebih dahulu.
"Kamar sebelah kanan. Passwordnya tanggal lahir aku kalo kamu tau" ucap Sandra sambil tersenyum.
"Aku tau." Jawab Calvin sambil berjalan terlebih dahulu. Sandra diam ditempat. Ia menatap kepergian Calvin.
Ketika pintu terbuka, Sandra takjub. Ia tidak pernah memberitahu tentang tanggal lahirnya pada siapapun. Termasuk Calvin.
Calvin kembali menghampiri Sandra. Ia tersenyum. Iapun membantu Sandra untuk berjalan.
"Andre udah pernah kesini? Atau ada laki-laki lain yang pernah kesini?"
Sandra tersenyum. "Andre belum pernah kesini. Tapi ada beberapa pria yang udah pernah kesini. Lebih dari satu."
Calvin menarik lengan Sandra.
"Siapa?"
"Gak penting. Gak perlu juga aku cerita. Gak penting." Goda Sandra.
"Siapa?"tanya Calvin lagi.
"Penasaran?" goda Sandra.
Calvin mengangguk. Ia menatap Sandra tajam.
"Tukang AC, tukang bersih-bersih, Ada satu lagi, delivery order." Jawab Sandra sambil tertawa. Calvin langsung menarik leher Sandra dan memeluknya dengan gemas.
"Silahkan masuk.." ucap Sandra sambi tersenyum lebar.
"Aku kan tadi udah masuk. nyimpen tas kamu."jawab Calvin sambil masuk kedalam. Ia masuk kedalam lorong sepanjang 5 meter sebelum akhirnya masuk ke ruang utama. Calvin melihat isi apartemen itu dengan takjub. Ia melewati lorong kecil dimana terdapat beberapa lukisan klasik. Kemudian ia melihat ruang besar itu. Ia masuk ke ruang tamu yang sederhana namun elegan. Hanya ada satu sofa besar dan meja berwarna senada. Disebelah kiri ia melihat dapur yang bersih. Terlihat mengkilat karena belum pernah terpakai. Disebelah kanan ada dua ruangan tertutup rapat yang ia yakini adalah sebuah kamar.
__ADS_1