
Kaki Sandra melangkah di koridor rumah sakit. Ia tidak meyakinkan untuk tidak dikenali oleh siapapun. Ia ingin melihat wanita itu. Bagaimana ia bisa hidup dengan obsesi yang begitu tinggi? Wanita itu hidup dengan merugikan orang lain. Ia hanya ingin melihatnya tanpa diketahui oleh siapapun.
Ketika berjalan, ia melihat Alena baru keluar dari ruangannya. Jantungnya berdebar. Alena tidak boleh tahu kedatangannya. Iapun belok kekiri dan diam sejenak sambil menunggu Alena melewatinya. Ia tidak pernah melakukan hal konyol seumur hidupnya. Ketika Alena melewatinya, iapun berjalan kembali. Ia melihat ke kiri dan ke kanan untuk melihat nama ruangan. Diujung koridor, ia melihat satpam yang berjaga. Ia bertanya sebentar dan diberi tahu letak kamar wanita itu. Iapun berjalan kembali. Beberapa orang terlihat lalu lalang keluar dari sebuah kamar. Mereka semua menangis.
Sandra berjalan cepat untuk mengetahui apa yang terjadi. Ia berdiri disamping pintu dan menengok sekilas. Ada pasien yang meninggal, pikir Sandra. Apakah? tanyanya dalam hati. Iapun masuk kedalam dan melihat ada empat bilik pasien. Ia melihat bilik sebelah kiri pertama, seorang pasien sedang dikelilingi oleh beberapa orang yang sedang menangis. Dan ia yakin itu bukan Dinda. Iapun melihat ke kanan, dua bilik itu kosong. Iapun berjalan menghampiri satu kamar lagi. Ia melihat dari celah gorden. Kedua matanya terbuka lebar. Ia melihat Dinda sedang memeluk seorang pria. Dan ia tahu dengan pasti siapa pria itu.
"Pada akhirnya Calvin tetap milih aku, Sandra. Kamu itu bodoh dan gak pantas dimiliki Calvin." seringai Dinda yang menatapnya.
"Sandra.." panggil seseorang.
Sandra membuka kedua matanya. Ia berkeringat. Sesaat ia sadar, ternyata ia bermimpi.
__ADS_1
"Kamu mimpi apa?" tanya Calvin yang berada disampingnya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Sandra sambil mengelap keringat diwajahnya.
"Masih jam 2 pagi." jawab Calvin sambil menguap.
Sandra terdiam. Ia melihat Calvin masih ada disampingnya. Ia kembali terdiam. Ia bersyukur itu hanya mimpi.
Calvin membuka matanya, ia membalikkan tubuh Sandra dan memeluknya. "Jangan dipikirin. Mimpi itu bunga tidur. Mimpi itu gak nyata." bisik Calvin sambil mengecup dahi Sandra.
Sandra hanya mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
Ketika Calvin pergi, ia bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Ia penasaran dengan wanita itu. Tadi sebelum Calvin bangun, ia menghubungi Alena. Alena hari ini tidak bekerja. Sandra bisa leluasa ke rumah sakit tanpa sepengetahuan Calvin dan Alena. Setelah menjelang siang, ia pergi ke rumah sakit. Jam menunjukkan masih pukul 10 pagi setelah ia bersiap-siap.
Beberapa orang terlihat sibuk ketika ia baru sampai dirumah sakit. Ia hanya ingin melihat Dinda. Bukan yang lain. Ketika ia sampai didepan kamar, ia masuk mengendap-endap. Terdengar suara Dinda sedang berbicara dengan seorang wanita. Sandra berdiri untuk mendengar percakapan mereka.
"Sampai kapanpun aku gak akan terima Calvin menikah. Aku yakin bisa merebut Calvin dari istrinya, Aku yakin istrinya jelek. Aku mau bikin perhitungan sama perempuan itu." ucap Dinda geram. Ia membereskan barang-barangnya karena ia akan pulang siang ini.
"Kamu itu sakit, Dinda. Gak usah macam-macam." ucap kakaknya marah.
"Kakak gak tau, Sandra yang bodoh itu aja bisa aku singkirkan, Apalagi istrinya. Emangnya secantik apa perempuan itu?" jawab Dinda lantang.
"Kakak males sama kamu. Kamu jahat." ucap kakaknya sambil berlalu pergi meninggalkan Dinda.
__ADS_1
Ingin sekali Sandra masuk kedalam dan membuat perhitungan dengan wanita itu. Ia marah dan kesal. Ia tidak akan menyerahkan Calvin dengan mudah. Tapi ia ingat ia berada di rumah sakit dimana banyak pasien dan pengunjung. Sandra akan bertahan sampai tiba waktunya untuk muncul. Iapun berbalik dan melangkah keluar dari rumah sakit itu untuk melanjutkan perjalanannya menuju cafe Firly. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan wanita itu padanya. Ia berharap bukan sesuatu yang dapat melukainya. Ia ingat mimpinya tadi malam. Rasanya seperti nyata. Ia tidak menyangka Dinda memiliki sifat jahat seperti itu.
Ibunya pernah berkata padanya untuk tidak membalas perbuatan orang-orang yang jahat padanya. Namun Sandra harus melakukannya untuk membela diri. Jika ia tidak bisa membela diri, siapa yang akan membelanya? Calvin? Lalu bagaimana jika Calvin berbalik arah dan memutuskan untuk pergi bersama Dinda?