
**Calvin terus menatap laptopnya. Sudah seminggu ia mencari keberadaan Sandra melalui teman-temannya. Namun hasilnya masih nihil. Ia tidak tahu bagaimana harus mencari lagi. Ia menyesal. Benar-benar menyesal. Ia tidak tahu jika Dinda sejahat itu.
"Udah ketemu?" tanya Dave yang tiba-tiba masuk ke kamarnya. Ia ikut melihat laptop Calvin
Calvin menggelengkan kepalanya. "Dia langsung hilang pas kita baru pulang dari bali. Mungkin Sandra merasa sakit hati langsung hilang gitu. Aku gak tau dia kuliah dimana. Kalo aku tau, aku pasti kejar dia buat minta maaf. Aku gak akan ada disini."
"Kamu jangan deket-deket lagi sama Dinda. Dia perempuan berbahaya." ucap Dave.
"Aku emang udah tinggalin dia. Dia gak bagus buat sekolah aku disini."
Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Ia melihat panggilan dari nomor tidak dikenal.
"Halo.." jawab Calvin.
"Kamu Calvin? ini sama kakaknya Dinda. Tolong Calvin, kamu bisa dateng ke rumah sakit? Dinda memotong urat nadi tangannya sore tadi. Sekarang kritis. Tolong kamu dateng kesini." ucap wanita itu panik.
Calvin langsung berdiri. Ia menatap Dave. "Dinda mau bunuh diri." ucapnya dengan wajah pucat.
"Ayo cepet kita liat." seru Dave
Mereka berdua langsung berangkat menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Dinda.
Ketika sampai dirumah sakit, Dinda sudah keluar dari ruang operasi. Mereka mencari kamar Dinda dengan bertanya pada suster yang ada disana. Untung saja mereka bisa cepat mendapatkan nomor kamarnya.
Calvin dapat melihat dari luar, Dinda sedang berbaring dengan perban ditangannya. Cairan infus menempel ditangannya. "Kita masuk" bisik Dave.
Calvin mengetuk pintu dan masuk kedalam. Wanita yang pernah ia temui seminggu kemarin itu berdiri. Wajahnya terlihat sedikit letih.
"Untung kamu datang. Jujur kakak lelah. Sejak semalam Dinda aneh. Dia teriak-teriak kayak orang stres. Dia manggil-manggil nama kamu terus. Dia juga berteriak minta maaf. Setiap ada yang mengetuk pintu, dia langsung berlari karena dia pikir yang mengetuk pintu itu kamu." ucapnya lemas.
"Kenapa dia bisa motong nadi?" tanya Dave.
__ADS_1
"Kakak gak tau, tadi pagi waktu kakak lihat dia dikamar dia udah gak sadar. Tapi kakak lihat darahnya masih segar jadi kemungkinan dia melakukan itu masih baru. Kakak langsung panggil ambulance."
Dave mengangguk mengerti. Ia menatap Calvin yang terus saja diam.
"Tolong Calvin, kakak mohon sama kamu. Jangan tinggalin dulu Dinda. Kakak juga akan berusaha agar dia bisa lepas dari kamu. Tapi sementara ini tolong jangan pergi dari sisi Dinda." ucap kakaknya sambil berlinang air mata. "Dinda memang orangnya nekat. Dia belum pernah jatuh cinta. Tapi sekalinya dia cinta sama laki-laki, ia akan terus berusaha mendapatkan laki-laki itu."
Calvin menatap wanita itu. "Lalu gimana sama perasaan saya kak? Dinda jelas-jelas udah jahat sama wanita yang saya suka. Dia gak pernah mikir gimana perasaan saya saat ini."
"Kakak tau, tapi sementara kamu tinggal disamping Dinda. Kakak janji akan bantu kamu cari wanita itu."
Calvin terdiam. Ia berlari keluar meninggalkan Dave.
**Sandra, Sandra, maafin aku Sandra, maafin aku. Tolong maafin aku**.....
"Vin, bangun Vin!!" panggil seseorang.
Calvin membuka matanya perlahan. Ia menatap Sandra yang sedang menatapnya khawatir. "Bangun Vin." panggilnya lembut. Ia memukul-mukul pipi Calvin.
"Kamu kenapa tidur diluar? di beranda lagi!" tanya Sandra. Ia melihat lantainya yang penuh dengan debu rokok. "Tuh liat, banyak debu rokok dibawah. Kamu ngerokok berapa bungkus?" tanya nya sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku lupa, semalem lagi ngerokok sambil duduk."
jawab Calvin.
"Cepet masuk. Nanti kamu sakit." ujar Sandra.
Calvin berdiri dan berjalan kedalam. Ia duduk di sofa.
Sandra menatapnya. Ia terkejut ketika bangun tidur tadi setelah mendengarkan Calvin mengigau meminta maaf padanya. Apa yang terjadi? Kenapa ia bisa ada dalam mimpinya?
Sandra berjalan ke dapur untuk membuat minuman hangat untuk mereka berdua.
__ADS_1
"Vin.." panggil Sandra.
"Apa?"
"Kamu ngigau tadi pagi. Kamu mimpi apa?" tanya Sandra sambil sibuk mengeluarkan kopi dan gula.
Calvin berdiri. Ia pun duduk meja dapur.
"Aku ngigau?" tanyanya
"Iya, kamu manggil aku tadi." jawab Sandra.
"Aku ngigau apa?"
"Gak penting sih. Cuma lucu aja."
Calvin mengambil cangkir yang diberikan Sandra. "Makasih. Aku lupa mimpi apa." jawab Calvin.
"Lupain aja. Namanya juga mimpi." ucap Sandra sambil duduk. "Kamu mau roti?"
Calvin tersenyum. "Ya. Buatin aku satu. Aku minta yang kering." Ia memperhatikan Sandra yang serius membuat olesan roti. "Sandra, waktu di Korea kamu tinggal di daerah mana?"
"Di daerah Dongdaemun. Kenapa?" tanya Sandra.
"Aku cuma pengen tau aja. Aku beberapa bulan kemarin ke Seoul sama Dave." jawab Calvin. Ia mulai meminum kopinya. Dan kesan pertama dibuatkan kopi oleh Sandra adalah enak. "Oh ya, aku mau tanya. Waktu kamu ke Korea pas kuliah dulu, kenapa mendadak? Aku gak liat kamu pas pesta kelulusan."
Sandra menatap Calvin. "Berhubung kita udah nikah, aku gak akan tutupin lagi. Aku patah hati sama kamu. Aku pergi ke Korea tanpa tau hasil dari tes yang aku kerjain di Universitas Konkuk. Karena koneksi om aku, aku bisa masuk kesana."
"Aku seneng kamu jujur. Maafin aku, aku gak sengaja nyakitin kamu." jawab Calvin dengan nada menyesal.
Sandra tertawa ringan. "Apaan sih Vin, itu udah lama. Sepuluh tahun yang lalu. Gak usah dibahas."
__ADS_1
Ya, tapi kejadian itu yang bikin aku menyesal sampe sekarang. Kalo waktu itu aku gak denger omongan Dinda, kita pasti udah pacaran dari dulu. Sekarang ibarat bom waktu. Kalo sampe kamu tau apa yang dilakukan Dinda, aku gak yakin kamu mau maafin dia. Dan aku yakin juga kamu bakal ninggalin aku. Aku belum siap, Sandra.