
"Setelah makan malam kita akan kembali ke rumah." Jemi berkata dengan menatap gadis yang terus saja menunduk sejak tadi.
Dimana ia tak lagi melihat keceriaan Kania yang biasa terlihat. Jemi sadar akan apa yang sudah ia lakukan yang menjadi penyebab perubahan sikap gadis cantik itu. Keduanya duduk berhadapan di meja makan. Kini Jemi pelan menggenggam tangan yang ada di atas meja itu. Tangan mungil yang tak pernah tersentuh oleh pria mana pun.
"Aku akan bertanggung jawab." Lantas mendengar kata tanggung jawab, Kania sontak mengangkat wajahnya. Manik matanya menatap kedua bola mata hitam di depannya saat ini. Wajah tampan yang begitu ia kagumi sebagai seorang ayah kini sudah tergantikan dengan pandangan pada pria yang telah merenggut kesuciannya.
Bukankah seharusnya Kania marah besar pada Jemi? Yah seharusnya demikian. Namun, mengingat semua yang di lakukan pria ini padanya Kania tak sampai hati jika harus memaki pria di depannya saat ini. Ia tahu bagaimana sulitnya hidup di luar sana sejak menjadi pengemis. Dan Kania tak bisa membayangkan jika dirinya hidup di jalanan dengan usia yang masih kecil.
"Nia. Kania." panggil Jemi membuat Kania sadar dari lamunannya.
"Habiskan makananmu. Kita harus segera kembali ke rumah." Ucapan Jemi membuat Kania segera menggeleng. Tentu ia takut untuk satu rumah lagi dengan pria tampan itu. Kania mungkin berpikir akan jauh lebih aman jika mereka tinggal terpisah.
"Aku di sini saja, Papah. Aku tidak ingin pulang ke rumah." ujar Kania dengan nada takut-takut.
__ADS_1
Takut jika Jemi justru marah padanya dan berlaku keras. Sampai yang Kania duga ternyata salah besar. Jemi justru mengusap punggung tangan gadis itu.
"Mau kuliah kan?" tanyanya dan saat itu juga Kania menganggukkan kepalanya.
"Mau aku tanggung jawab kan?" tanyanya lagi dan Kania lama baru menganggukkan kepalanya.
"Yasudah ikutlah denganku. Besok semua akan terselesaikan."
Samar matanya terbuka ketika pagi sudah menyapa. Dimana kamar yang sejak kecil ia tempati kini menghangatkan tubuhnya sejak malam tadi.
"Non Kania sudah bangun?" Sang Bibi menyapa Kania dengan senyuman.
"Loh Bibi? Kok di sini? Ada apa?" tanya Kania kaget segera ia bangun dari tidurnya.
__ADS_1
Satu manekin terlihat berdiri tegap di dalam kamar itu lengkap dengan kebaya putih yang cantik dan anggun. Mata Kania mencoba mencerna apa yang terjadi sebenarnya.
"Ayo mandi, Non. Di luar penghulunya sudah menunggu." Begitu syoknya Kania mendengar ucapan Bibi. Mulutnya terbuka begitu lebar tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Non. Non Kania." panggil Bibi kembali.
Kania terkekeh. "Bibi bercanda kan? Penghulu apa? Siapa yang mau menikah?" tanyanya dengan wajah cemas namun tetap saja tertawa.
"Selamat pagi, Nona Kania. Kami akan merias anda, di mohon untuk segera membersiihkan diri. Sebab waktu tidak banyak lagi."
Air mata Kania jatuh saat itu mendengar kenyataan jika dirinya akan menikah. Ingin menolak ingin memberontak, tapi Kania sadar dirinya bukan lagi gadis yang suci. Tak akan ada harapan untuknya ke depan bisa hidup bahagia dengan menemukan pangeran hatinya.
"Tuhan, apakah dengan menikah dengannya menjadikan aku berbalas budi pada Papah Jem? Bagaimana mungkin aku menikah dengan pria yang sudah seperti papahku sendiri? Tapi, aku tidak mungkin membuatnya malu di depan banyak orang seperti ini." Meski hanya ada orang di rumah itu, tetap saja bagi Kania para pelayan tak sepantasnya melihat Jemi di permalukan.
__ADS_1