Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Pembagian Saham


__ADS_3

Pagi hari, Jemi melihat sang mamah datang ke ruang kerjanya. Tentu tidak sendiri. Ia datang dengan wanita yang sudah bertahun-tahun tak pernah Jemi lihat sejak perpisahan mereka di waktu lalu. Senyuman dan wajah cantik itu seketika membuat Jemi yang semula menatapnya dalam segera mengalihkan pandangannya.


Hal itu tak lepas dari pandangan mata Kania. Ia tahu siapa wanita yang bersama sang ibu mertua saat ini.


“Apa Mamah tidak kamu persilahkan duduk, Jemi? Apa segitu besarnya pengaruh wanita itu untukmu sampai kamu lupa cara menghargai Mamahmu sendiri?” tanya Wulan menatap sinis sang anak lalu beralih menatap Kania yang duduk di samping Jemi.


Suasana canggung di ruangan itu. Jemi hanya diam mendengar ucapan sang mamah. Ada perasaan yang sudah bisa menebak apa rencana sang mamah saat ini.


“Hai, Jemi? Apa kabar?” Wanita cantik yang sangat pandai merawat diri itu membungkukkan tubuhnya mengulurkan tangan pada Jemi.


Tak perduli jika pria itu saat ini sedang duduk bersampingan dengan gadis muda yang sudah sah menjadi istrinya.


“Senang bertemu denganmu.” ujar Karin tersenyum tanpa aba-aba tangan Jemi yang menerima uluran itu justru Karin tarik hingga ia bisa memeluk Jemi di depan Kania.


Tatapan senang Karin memeluk Jemi sontak membuat Kania membuang pandangannya ke arah lain. Kania benar-benar tak kuasa menahan diri melihat apa yang terjadi di depannya.

__ADS_1


“Ini belum seberapa Kania. Karin akan memainkan perannya dengan baik ke depannya. Siap-siap kamu menangis darah.” gumam Wulan menatap penuh kebencian pada Kania.


“Mas, aku sebaiknya di luar saja. Mamah sudah datang kan?” sahut Kania hendak meninggalkan ruangan itu namun Jemi segera mendorong tubuh Karin dan menarik tangan sang istri.


Jemi tak mungkin membiarkan Kania pergi dari ruangan itu. “Tidak, Sayang. Kamu tetap di sini. Kita akan membicarakan hal penting.” pintah Jemi.


“Tapi, ini tidak penting untuknya Jemi. Ini tentang keluarga kita.” sahut Wulan.


“Kania sudah menjadi istriku yang artinya adalah keluarga intiku, Mah.” lanjut Jemi membalas ucapan sang mamah.


“Ini surat, dan ini semua lengkap apa yang Mamah miliki dan apa yang Mamah minta. Sudah Jemi penuhi.” Manik mata Wulan membulat penuh mendengar ucapan sang anak.


Berkas tentang kepemilikan perusahaan serta beberapa persen saham yang akan jadi miliknya sudah di pindah alihkan atas nama Wulan. Jemi memberikannya secara suka rela.


“Mamah memiliki tujuh puluh lima persen saham di perusahaan ini. Sisanya adalah milik Kania yang akan aku kelola. Sedangkan aku hanya memiliki jabatan dengan apa yang almarhum Papah tetapkan. Hanya bisa di gantikan oleh anakku kelak.” Kesenangan di wajah Wulan mendadak sirna mendengar ucapan Jemi.

__ADS_1


Pikirnya dengan tujuh puluh lima persen saham, ia akan bisa melakukan apa pun termasuk memisahkan keduanya. Namun, jabatan yang Jemi pegang sebagai presiden direktur di perusahaan tentu akan mampu mengatur semuanya.


Wulan berharap ia yang akan mengendalikan ini semua dan meminta Jemi menceraikan Kania agar bisa menduduki jabatan itu.


“Apa itu, Jemi? Kamu tidak bisa menduduki itu.” sahut Wulan.


“Ini surat wasiat yang sudah Papah tinggalkan, Mah. Maaf aku tidak bermaksud ingin menentang perintah Mamah.” sahut Jemi lagi.


“Mah, it’s oke. Jemi akan tetap membantu Mamah. Yang terpenting Mamah hanya ingin mengamankan harta itu, bukan?” Kini Karin yang berbicara dengan lembut. Matanya memandang sinis pada Kania yang hanya menunduk saja.


Wulan pun akhirnya mengangguk, kemudian ia bergerak untuk memberi tanda tangan di atas materai itu.


“Mamah setuju. Tapi, karena Mamah memiliki saham lebih besar darimu maka Mamah berhak menunjuk Karin sebagai sekertaris pribadimu, Jemi.” Ucapan Wulan sontak membuat Kania dan Jemi sama-sama menoleh kaget.


Kania benar-benar tak menyangka jika hidupnya akan di sangkut pautkan lagi oleh wanita di masa lalu sang suami. Marah tentu saja Kania sangat marah saat ini. Namun, ia sadar dirinya harus bisa menjaga sikap di depan sang mertua.

__ADS_1


__ADS_2