Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Kebingungan Kania


__ADS_3

Di kamar Jemi melihat Kania sudah berbaring di atas kasur dengan tas kuliah yang terlempar di lantai begitu pula dengan outer yang ia pakai sudah berserakan di mana-mana. Jemi tahu jika sang istri pasti sangat kesal kali ini sebab Karin kembali lagi ke rumahnya. Perlahan pria itu mendekat ke arah ranjang dan duduk di samping tubuh Kania yang berbaring.


"Nia, ayo kita hadapi bersama dia. Jangan seperti ini. Karin sudah di bawa keluar oleh pelayan dari rumah kita." Ucapan Jemi sama sekali tak di hiraukan oleh Karin.


Wanita itu terus saja menekuk wajahnya di balik selimut lantaran terbayang jika sang suami tidak menjemputnya pasti karena ada Karin di rumah ini. Lama ia terdiam tanpa perduli bagaimana Jemi berusaha membalik tubuhnya agar mau menatap Jemi yang berbicara.


"Kania," panggil Jemi lagi.


"Aku pikir terlalu sibuk kerja sampai tidak menjemputku. Ternyata malah asik sama mantan istri. Kalau masih cinta sama dia sebaiknya nggak usah nikah lagi. Aku capek tau! Aku mau pergi dari sini." Kania mendorong sang suami yang berusaha memeluk tubuhnya.

__ADS_1


Kekesalah semakin bertambah kala Kania melihat wajah sang suami yang sedang memakai masker. Sudah pasti ini adalah ulah Karin yang memanjakan wajah sang suami.


"Hei! Kania, tunggu dulu." Teriak Jemi menarik paksa tubuh sang istri. Ia bergegas mengunci kamar dan mengantongi kunci itu.


Di depannya Kania terlihat sangat emosi sekali. "Kania, sudah berapa kali aku bilang? Kita tidak boleh menyerah dan terlihat lemah di depan dia. Karin akan senang menggoda kamu kalau seperti ini. Hubungan kita harus lebih kuat dari godaan dia." Kania terkekeh mendengar ucapan sang suami.


Jemi menghela napas kasar mendengar tuduhan sang istri yang ternyata adalah kesalah pahaman.


"Kania, kamu salah besar. Ini bukan karena dia. Ini semua Mas yang mau." jawab Jemi menyela tuduhan sang istri.

__ADS_1


"Oh jadi sekarang balik bawa nama diri sendiri? Sekarang juga katakan sama aku kalau Mas Jemi memang masih cinta sama Karin. Katakan! Jangan buat aku jadi mainan seperti ini." Di kamar itu Kania terus mengamuk dengan membanting semua barang make up di meja riasnya.


Ia benar-benar kesal melihat hubungan Karin dan Jemi yang sulit sekali untuk jauh. Lelah tentu saja Kania sangat lelah dan ingin hidup tenang.


"Sayang, Nia dengarkan aku dulu. Ini bukan Karin yang buat. Ini Mas sendiri yang mau perawatan dan pesan online. Lihat ini, kamu bisa lihat kan Mas sendiri yang beli dan di antar ke rumah ini. Yanti yang kasih tahu semuanya peralatan masker ini." Sontak Kania terdiam melihat ponsel sang suami yang memang benar ada pesanan dari online beberapa jam yang lalu.


"Soal Karin ke rumah ini, aku nggak tahu apa-apa. Sejak tadi aku ketiduran nunggu kamu pulang, Kania." tambah Jemi lagi.


Mendengar penjelasan sang suami yang masuk akal membuat Kania hanya diam membisu. Ia tak lagi bersuara saat ini. Justru yang muncul di pikirannya adalah untuk apa sang suami melakukan serangkaian perawatan anak gadis seperti itu? Selama tumbuh bersama Jemi tak sekali pun ia melihat pria itu melakukan hal seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2