Cinta Berparas Malaikat

Cinta Berparas Malaikat
Pengakuan Sebagai Menantu


__ADS_3

Kania meneteskan air mata kala melihat sang ibu histeris di bawa paksa oleh dokter dan perawata lainnya ke kamar. Sepanjang melangkah Santi terus memberontak kasar. Ia meminta di lepaskan namun tak satu pun ada yang mau mengikuti permintaannya.


Di sini Kania di rangkul erat oleh Jemi. "Ibu tidak apa-apa. Hanya kata-kata Ayah saja yang kebetulan tidak tepat tadi. Semoga secepatnya ibu bisa sembuh." Kania menoleh menatap wajah tampan pria yang berdiri di sampingnya.


Rasanya kini tak ada lagi kekesalan yang tertinggal hanyalah rasa terimakasih bagaimana Jemi bisa berlaku baik pada kedua orangtuanya.


"Terimakasih." tutur Kania.


Jemi tak membalas ucapan melainkan mengecup kening sang istri. Ia benar-benar mencintai Kania begitu dalam. Entah sejak kapan yang jelas ia tak ingin Kania sedih.

__ADS_1


"Ayah, ayo kita pulang." Bukan Kania yang bersuara, melainkan Jemi.


Pria itu sudah memanggil Derman dengan sebutan yang tepat sebab ia pun sudah sah menjadi menantu pria mantan narapidana itu. Terharu rasanya kala mendengar Jemi menganggapnya sebagai mertua.


"Anda tidak perlu memanggil saya seperti itu, Tuan. Saya bisa membuat repurtasi anda buruk nantinya. Semua orang akan tahu jika mertua anda adalah seorang mantan narapidana." Kania sedih sekali mendengar sang ayah berkata seperti itu.


Bagaimana mungkin Kania bisa berprasangka buruk pada ayahnya selama ini sedangkan di dalam sel penjara sana ia tidak tahu apa saja yang di rasakan sang Ayah.


"Baiklah. Terimakasih, Nak Jemi. Terimakasih telah sudi meminang putri saya yang berasal dari keluarga seperti ini. Saya mohon sayangi dia sepenuh jiwa Nak Jemi." Mendengar itu Jemi mengangguk tersenyum.

__ADS_1


Kini pria tampan mapan itu berjalan merangkul pundak sang mertua melangkah keluar rumah sakit jiwa. Kania hanya berjalan di belakang mereka menatap punggung dua pria yang kini mengisi hidupnya. Rasanya sangat bahagia meski sang ibu saat ini belum ada bersama mereka.


"Ibu, segeralah sembuh untuk Kania." ujarnya dalam hati menatap ke arah ruangan sang ibu yang tidak terlihat.


Mobil Jemi arahkan ke tempat pemakaman sang ayah. Pria yang tidak sempat hadir menyaksikan pernikahannya dengan Kania. Setibanya mobil di pemakaman, kini mereka bertiga nampak berjongkok di pemakaman yang tampak begitu terawat.


Bahkan bunga segar pun masih terlihat bertabur di atas sana. Kania menoleh menatap sang suami seolah bertanya apakah Jemi yang baru pergi ke makam ini.


"Ini Mamah yang setiap hari pasti akan kesini. Mamah sangat terpukul dengan perginya Papah. Itu sebabnya sampai saat ini pun Mamah belum bisa melakukan apa pun tanpa mengunjungi Papah lebih dulu." jawab Jemi.

__ADS_1


Pria itu mengusap nisan sang papah dengan penuh rasa rindu.


"Pah, Aku datang dengan Ayah mertuaku. Papah pasti senang bukan setelah lama akhirnya aku menikah kembali dengan gadis yang aku jaga sejak kecil. Maafkan aku, Pah jika sempat mengecewakan Papah. Aku benar-benar salah dalam hal itu. Aku lalai menjalankan amanah dari Papah." batin Jemi bermonolog menatap sendu pemakaman sang papah.


__ADS_2