
Di ujung perdebatan akhirnya kedua tangan Jemi dan Kania berjabatan dengan masing-masing ekspresi. Kania tersenyum lebar sementara Jemi menekuk wajahnya.
“Deal, kita treatmentnya berdua kan Mas?” seru Kania menjabat tangan sang suami.
“Hem.” sahut Jemi.
Hari penuh ketegangan pun berganti menjadi pagi kembali. Dimana Kania keluar kamar dengan pakaian kuliah yang rapi. Senyuman cantiknya memancar begitu indah pagi ini. Ia berjalan manja memeluk lengan Jemi.
“Aku antar ke kampus yah?” ujar Jemi namun Kania justru menggelengkan kepala menolak.
“Mas Jemi ke kantor aja langsung. Aku buru-buru juga.” ujar Kania.
Melihat wajah sang suami yang begitu kencang dan glowing tentu membuat Kania takut. Di kampus begitu banyak teman dan senior bahkan dosen yang suka bertanya pada Kania tentang Jemi.
“Ah nggak pokoknya Mas Jemi nggak boleh lagi ke kampus.” gumam Kania dalam hati. Ia sampai menggelengkan kepalanya. Takut akan bayangan-bayangan yang melintas di kepalanya.
Pagi itu mereka sarapan bersama. Santi dan Derman saling tatap heran pada kedua anak dan menantunya kini.
__ADS_1
“Mereka itu aneh banget, Ayah. Sebentar kelahi sebentar mesra banget.” ujar Santi bingung.
“Namanya juga pasangan muda.” sahut Pak Derman.
Di kampusnya Kania kembali mendapat panggilan dari Dika. Pria yang kerap kali mendekati Kania dengan berbagai macam trik. Kania masih merasa biasa sebab Dika tak pernah bertindak hal yang membuatnya risih.
“Eh Pak Dika, ada apa?” tanya Kania.
“Jemi apa kabarnya, Nia?” tanya Dika basa basi.
Masih berpikir jika Jemi adalah kenalan atau keluarga dari Kania. Dika merasa jika Jemi adalah temannya tentu restu untuknya bersama Kania akan mudah ia dapatkan.
“Oh begitu…siang nanti saya mau main ke kantornya. Kamu tidak ingin ikut?” tanya Dika lagi dan Kania mengerutkan kening lalu menggeleng kemudian.
“Kenapa nanya-nanya Mas Jemi sih? Trus ngapain mau ke kantor Mas Jemi? Jangan-jangan Pak Dika mau comblangin Mas Jemi sama dosen genit itu lagi?” gumam Kania merasa kesal sekali.
Sebab di kampus dosen yang sering menanyakan Jemi juga terbilang akrab dengan Pak Dika. Kania saat ini sudah merasa sering sekali cemburu apalagi melihat wajah sang suami yang terawat seperti itu.
__ADS_1
“Oh yasudah kalau begitu. Semangat belajarnya yah?” Kania pun masuk ke kelas.
Beda halnya dengan Wulan yang sudah tak lagi menampakkan wajah pada Jemi. Ia justru sibuk berlibur menikmati hasil jerih payah suami dan anaknya.
“Terserah lah kalau Jemi sulit di atur. Yang penting keluarga wanita itu tidak bisa menikmati milikku ini. Semua harta suamiku tidak akan bisa mereka sentuh. Enak saja.” ujarnya kesal.
Ia menyerah dengan sikap Jemi yang begitu melindungi istri dan juga keluarga istrinya. Wulan tak bisa melakukan apa pun selain menjaga peninggalan sang suami.
Belanja sepuasnya dan makan sepuasnya itulah yang Wulan lakukan saat ini. Tak ada pikiran lagi yang membuatnya sedih. Karin pun sudah memilih pergi tanpa mau membantunya lagi.
“Hai, Jem…” sapaan akrab itu terdengar begitu saja di ruang kerja Jemi.
Rupanya ia tengah kedatangan teman yang sempat ia temui di kampus sang istri. Semangat Jemi berdiri menyambut kedatangan Dika.
“Hai…tumben kesini? Ada apa? Lagi kosong jadwal ngajarnya?” tanya Jemi tersenyum.
Ia memperhatikan raut wajah Dika yang senyum malu-malu. Pria itu terlihat susah payah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan apa tujuannya datang.
__ADS_1
“Em…aku kesini karena hal penting, Jem.” ujar Dika.
Kening Jemi mengerut dalam. “Hal penting? Apa itu? tentang Kania?” tebak Jemi dan anehnya Dika pun mengangguk mengiyakan.