
Sedang di luar sana Karin berusaha keras melepaskan tarikan pelayan. Ia tidak ingin keluar dari rumah itu. Teriakannya terus terdengar namun tak ada yang mau menolongnya. Tenaga pun tak cukup kuat untuk ia miliki saat ini. Karin benar-benar merasa seperti tak memiliki harga diri lagi ketika untuk kedua kalinya ia keluar dari rumah sang mantan suami bersama barang-barang yang di lempar begitu saja.
"Maafkan saya, Nyonya. Saya hanya mengikuti perintah Tuan saja." Pelayan itu berlari masuk ke halaman rumah ketika Karin sudah tertutupi oleh pagar.
Karin menelpon Wulan untuk meminta bantuan. Ini semua adalah rencana Wulan dimana Karin tak ingin lagi meneruskan rencana gila mereka.
"Mah, jemput aku sekarang. Jemi sudah mengusir aku sekarang." ujarnya dengan wajah marah.
Wulan yang sedang sibuk bertemu dengan teman-temannya nampak enggan menjemput Karin "Aduh Karin, Mamah lagi sibuk arisan. Kamu di jemput supir Mamah saja. Oke." Seketika panggilan pun terputus.
Melihat sikap Wulan membuat Karin enggan menurut. Wanita itu sadar jika dirinya hanyalah alat yang Wulan pakai untuk memisahkan Kania dengan Jemi.
__ADS_1
"Cih dasar. Apa dia pikir aku sebodoh itu? Tidak. Aku tidak akan mau menuruti perintahnya lagi." gumam Karin mengusap kasar air matanya.
Ia memilih pergi dengan menghubungi supir dari kedua orangtuanya. Karin tak mau lagi berurusan dengan Jemi yang bahkan sekali pun tak mau melirik padanya. Ia meminta bantuan supir dari rumah kedua orangtua untuk membawa barang serta dirinya pergi dari rumah itu.
Karin tak sadar jika dari arah kamar ada sepasang mata yang memperhatikan kepergiannya. Di sini Kania menyilangkan kedua tangan di depan dada dan menyunggingkan senyum tipisnya.
"Akhirnya pergi juga. Semoga saja nggak akan kembali lagi." Ia pun bisa tertidur nyenyak hari itu tanpa perduli bagaimana Jemi yang terus mendekati Kania membujuk agar tak marah lagi.
Malam hari Jemi yang gelisah menunggu sang istri tidur akhirnya memilih mandi. Berharap Kania akan segera bangun setelah ia selesai mandi. Dan benar saja, Jemi keluar dari kamar mandi terlihat Kania sudah tidak ada di tempat tidur. Entah kemana wanita itu pergi.
Pelayan itu nampak menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan. Saya baru saja dari ruang samping melihat cucian baju." jawab Bibi membuat Jemi penasaran.
__ADS_1
Segera pria itu melangkah menelusuri rumah mencari sang istri. "Kania! Nia! Kania, Sayang, dimana kamu?" teriak Jemi memanggil namun tak kunjung ia menemukan san istri.
Sampai terdengar suara air di kolam renang. Jemi berjalan cepat mendekati sumber suara dan ternyata sang istri tengah menikmati renang malam itu. Tubuh istri bocahnya terlihat begitu menggoda saat ini. Jemi sampai meneguk kasar salivahnya melihat pesona tubuh sang istrii.
Kania tak perduli jika tubuhnya menjadi pusat perhatian sang suami. Ia terus berenang kesana kemari menikmati air yang segar. Pikirannya terasa seperti tak ada beban sama sekali ketika melampiaskan dengan berenang.
"Kania," panggil Jemi.
"Kania, ayo naik sekarang. Ini sudah sangat malam." sahut Jemi lagi.
Kania enggan merespon ia terus berenang tanpa perduli suara sang suami. Sebab saat ini pun ia masih marah pada Jemi.
__ADS_1
Sampai akhirnya kesabaran Jemi habis ia turun ke kolam berenang bersama sang istri.
"Argh! Mas Jemi!" teriak Kania ketika merasa kakinya di tarik oleh tangan kekar sang suami.