
"Mas, jadi kapan aku mulai kuliah?" tanya Kania pagi ini di saat keduanya tengah sarapan di meja makan.
Jemi yang tak bergeming sama sekali membuat Kania kembali melayangkan pertanyaan itu. Aneh ketika melihat reaksi Jemi yang nampak tidak tertarik dengan topik pembicaraan sang istri.
"Mas, kapan aku kuliahnya? Apa sudah di daftarkan? Kalau belum aku akan daftar sendiri saja. Nanti keburu tutup pendaftarannya." ujar Kania yang sukses membuat Jemi meletakkan kedua sendok di atas piringnya.
Ia mengangkat kedua tangan untuk menjadi penopang di dagunya. "Soal pendaftaran bisa segera di kirim. Tapi, ada syaratnya." Kania diam menunggu kelanjutan ucapan sang suami.
Dimana Jemi menatapnya begitu dalam. "Syarat?" tanya Kania.
"Iya, syarat. Setiap berangkat dan pulang aku akan menjemputmu. Bagaimana? Bukan hal yang berat kan untuk mengikutinya?" Meski ragu, Kania hanya bisa mengangguk pelan.
Bukan hal yang besar memang buat Kania, toh hanya sebatas antar dan jemput. Itu bukan masalah. Lagi pula Jemi adalah suaminya saat ini.
"Itu perkara kecil kok. Oke." sahut Kania.
Jemi menatapnya dalam diam seolah ada perasaan ragu pada sang istri kecilnya saat ini. Tiba-tiba saja muncul perasaan berat untuk ia melepaskan Kania kuliah. Dunia perkuliahan tentu tidak seperti dunia sekolah di masa SMA. Banyak orang yang berwawasan luas dengan usia muda yang terlihat sangat menarik. Tak menutup kemungkinan jiwa muda Kania pun mulai terbentuk di masa kuliahnya.
__ADS_1
"Mas. Mas Jemi, kenapa?" tanya Kania melambaikan tangan saat melihat sang suami justru melamun.
"Mas!" panggil Kania kembali.
Sampai akhirnya Jemi tersadar dari lamunannya.
"Mas melamun yah?" tanya Kania dan Jemi enggan menjawab jujur.
"Yasudahh kita pergi sekarang? Setelah dari rumah sakit jiwa kamu ikut ke kantor yah?"
Hanya bisa memandang dari jauh sebab menurut keterangan dari dokter, sang ibu baru saja kembali histeris dan saat ini tengah dalam pengaruh obat penenang. Sedih rasanya Kania melihat keadaan sang ibu yang stress seperti ini karena depresi dengan keadaan mereka dulu.
Andai saja Kania sudah tumbuh besar mungkin ia bisa memberikan penghiburan pada sang ibu dan tidak akan terjadi sampai separah ini. Kurang lebih setengah jam mereka di sana memperhatikan dari luar, kini keduanya bergegas pergi ke kantor.
Sepanjang mobil melaju Kania tampak gelisah. "Istri seorang pemilik perusahaan tidak boleh gelisah seperti ini. Ingat Kania sekarang kamu adalah istriku. Mereka patut melihatmu dengan penuh hormat." ujar Jemi tahu jika sang istri gugup dengan tujuannya saat ini.
Bayangan dimana biasa ia akan berlari keluar masuk perusahaan dengan seragam sekolahnya. Justru kini ia masuk kembali ke gedung tinggi itu sebagai istri dari pemilik perusahaan.
__ADS_1
"Apa kata orang jika tahu aku adalah istrinya Mas sekarang? Mereka pasti akan membicarakan aku di belakang." tutur Kania.
"Kita bukan makan dari uang mereka kan? Justru mereka lah yang makan dari uang kita. Kenapa harus memikirkan sampai sejauh itu?" tanya Jemi membuat Kania terdiam seribu bahasa.
Meski sebenarnya orang di perusahaan pun belum ada yang tahu jika status mereka kini sudah berubah.
Jemi tersenyum melihat Kania hanya diam menunduk. Ia berinisiatif mengusap kepala sang istri.
"Kedepannya kita akan mempublikasikan pernikahan kita. Oke?" Kania mengangkat wajah syok mendengar pertanyaan sang suami.
"Tidak!" ujarnya cepat.
Jemi mengerutkan kening heran mendengar ucapan sang istri. "Mas, maksudku bukan tidak. Tapi, bukan sekarang. Aku masih butuh waktu. Usiaku masih terlalu kecil untuk menjadi seorang istri. Aku malu dengan teman-temanku. Aku belum siap." Patuh Jemi terkekeh melihat mata berkaca-kaca sang istri.
Sampai akhirnya tak terasa kini mereka berdua pun sudah tiba di perusahaan dengan Kania yang di genggam erat tangannya oleh Jemi. Tentu hal itu menjadi pusat perhatian semua pekerja. Mata mereka terus menatap dalam genggaman tangan Kania dan Jemi ketika menundukkan kepala. Kania susah payah ingin melepas namun Jemi tak juga mau melepasnya.
"Oh setelah menikahi, sekarang membawanya ke perusahaan Jemi? Pertanda apa ini? Akankah perusahaan juga akan jatuh ke tangan wanita itu?" Jemi dan Kania sama-sama kaget mendapati pertanyaan dari seorang wanita yang duduk tenang di sofa ruang kerja Jemi.
__ADS_1